Tuesday , 15 September 2026
Home / LINGKUNGAN / Indonesia Tercekik Polusi Udara, 1.700 Nyawa Melayang akibat Karhutla

Indonesia Tercekik Polusi Udara, 1.700 Nyawa Melayang akibat Karhutla

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Polusi udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia telah memakan 1.700 korban jiwa sepanjang Agustus 2026. Namun, polusi udara kronis dari sumber non-karhutla lainnya tetap menjadi pendorong utama krisis kesehatan nasional tak kasat mata, yang bertanggung jawab atas 2.000 kematian pada Agustus –menjadikan total kematian akibat polusi udara mencapai 3.700 jiwa di 15 provinsi yang paling terdampak.

Analisis terbaru Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) bertajuk ‘Choking on inaction: Indonesia’s fires led to 1,700 deaths in August — but regular air pollution even more’ menyatakan, warga di Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan menghadapi risiko kematian tiga hingga empat kali lebih tinggi dibanding warga di Pulau Jawa. Karhutla menyebabkan Kalimantan menghadapi memburuknya kualitas udara yang jauh lebih ekstrem, dengan peningkatan kadar PM2,5 sebesar enam kali lipat pada Agustus dari 20 mikrogram per kubik menjadi 120 mikrogram per kubik. Hal ini mengakibatkan 69% dari total populasi di wilayah Kalimantan terpapar kualitas udara tidak sehat atau lebih buruk tertinggi.

Katherine Hasan, Analis CREA mengatakan, krisis kualitas udara di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh asap karhutla. Warga di wilayah lain, terutama di kawasan perkotaan dan padat penduduk, terus menghadapi polusi udara dari aktivitas sehari-hari. Jawa menjadi wilayah dengan jumlah kematian tertinggi akibat polusi udara mencapai 1.600 jiwa per Agustus 2026. Sebanyak 90% diantaranya karena emisi lintas sektor sepanjang tahun dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil, industri, dan transportasi. Selama Agustus, puluhan juta warga Indonesia terpapar polusi udara tidak sehat hingga berbahaya secara nasional – dengan 41 juta penduduk pada puncaknya di tanggal 18, ditutup dengan 36,4 juta penduduk di tanggal 31.

“Asap tebal dan kabut asap lintas batas dari karhutla yang menyita perhatian publik dapat dengan mudah mengaburkan krisis polusi udara mematikan yang dihadapi masyarakat Indonesia hampir sepanjang tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan atau perencanaan di sektor energi, tata guna lahan, dan ekonomi masih sering dibuat tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kualitas udara dan batas aman bagi kesehatan masyarakat. Momen ini membuka peluang krusial untuk mendorong reformasi udara bersih. Pemerintah tak lagi bisa mengabaikan seruan ini, terlebih di tengah situasi saat ini,” kata Katherine.

Krisis kualitas udara yang terjadi saat ini menyebabkan lonjakan penyakit saluran pernafasan akut (ISPA). Data Kementerian Kesehatan per 28 Agustus mencatat, 10,6 juta penduduk di tujuh provinsi –  Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan – terpapar dampak kesehatan akibat buruknya polusi udara. Lonjakan ini tidak dibarengi dengan jumlah fasilitas kesehatan yang memadai. Bahkan, Kalimantan sebagai wilayah yang sering dilanda kebakaran hutan, saat ini tidak memiliki rumah sakit khusus paru.

“Persoalannya adalah karhutla beriringan dengan komitmen anggaran yang rendah, baik untuk mitigasi maupun pascabencana. Sebagai contoh tidak adanya alokasi anggaran khusus untuk evakuasi medis hingga pembangunan RS Paru di lokasi rawan. Sebaran polutan ganda dari karhutla yang berada di area konsesi tambang batu bara hingga pemanfaatan pembangkit batu bara di Jawa, harusnya menjadi titik balik untuk segera melakukan pemensiunan pembangkit listrik berbasis batu bara,”  Bhima Yudhistira, Direktur dan Pendiri Center of Economic and Law Studies (CELIOS), mengatakan.

Studi CELIOS menghitung total biaya ekonomi dan kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia selama Januari-Agustus 2026 diperkirakan mencapai Rp39,29-123,1 triliun. Kerugian tersebut juga dirasakan dalam jangka panjang, lantaran karhutla menimbulkan beban kesehatan yang menggerus daya beli masyarakat dan menurunnya produktivitas tenaga kerja.

Penelitian Trend Asia mencatat sepanjang 2013 hingga 2026, sebagian besar titik panas yang terindikasi kuat sebagai kebakaran berada dalam konsesi tambang batu bara. Selain itu, titik panas juga terdeteksi di wilayah Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dan konsesi perkebunan kelapa sawit. Temuan ini menunjukkan keterkaitan antara karhutla dengan kebijakan energi Indonesia, termasuk ketergantungan yang masih tinggi pada batu bara, ekspansi biomassa berbasis kayu, dan pengembangan biofuel.

“Kebakaran ini harus menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Indonesia. Kebijakan energi tidak boleh dievaluasi hanya berdasarkan target pasokan atau output ekonomi, tapi juga dari terlindunginya masyarakat, tersedianya udara bersih, lingkungan yang sehat, serta akses yang adil terhadap sumber daya alam,” Ahmad Ashov Birry, Direktur Program Trend Asia, menjelaskan.

Lebih lanjut, CREA mengingatkan ancaman karhutla di tahun ini berpotensi semakin besar mengingat puncaknya belum terjadi. Secara historis, puncak karhutla berada pada akhir September hingga November, sehingga yang terjadi pada Agustus merupakan awal dari krisis yang lebih besar apabila tidak ditangani dengan serius. Menurut CREA, pemerintah perlu melihat persoalan kualitas udara sebagai satu kesatuan, baik yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan maupun dari sumber emisi rutin di sektor energi, industri, transportasi, dan sektor lainnya.

CREA mendorong pemerintah memperkuat kebijakan udara bersih melalui standar kualitas udara yang mengikat secara hukum, sistem pemantauan yang transparan, serta koordinasi lintas kementerian.

Untuk mendukung langkah tersebut, CREA meluncurkan trackerdata kualitas udara yang memantau tren PM2.5 di 13 kota besar dengan mengintegrasikan data resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta (DLH Jakarta), serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan pengamatan sejauh ini, sejumlah kota besar di Indonesia menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Jabodetabek misalnya, konsentrasi PM2,5 mencapai 30-55 mikrogram per kubik, 6-11 kali lipat lebih tinggi dari pedoman WHO tahun 2021 sebesar 5 mikrogram per kubik per tahun. Di tengah kondisi kering dan minim hujan yang masih berlanjut, 42 juta penduduk di Jabodetabek berpotensi terus terpapar kualitas udara yang tidak sehat hingga penghujung musim kemarau di akhir tahun. (RA)

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

PLN Indonesia Power Raih 78 Penghargaan ENSIA 2026, Perkuat Komitmen Pembangkitan Berkelanjutan

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – PT PLN Indonesia Power kembali menorehkan prestasi dalam ajang Environmental and Social …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *