Wednesday , 29 July 2026
Home / CSR / Ubah Sampah Jadi Sumber Energi, Binaan PHE WMO Bangkalan Sampah Jadi Briket Bahan Bakar Tungku Garam Tingkatkan Produksi Garam
GM Zona 11 Regional 4 Subholding Upstream Pertamina Muzwir Wiratama (kanan)

Ubah Sampah Jadi Sumber Energi, Binaan PHE WMO Bangkalan Sampah Jadi Briket Bahan Bakar Tungku Garam Tingkatkan Produksi Garam

RESOURCESASIA.ID, BANGKALAN – Pulau Madura, khususnya di kabupaten Bangkalan adalah salah satu daerah yang menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan informasi yang dihimpun, setiap hari, kota ini menghasilkan sekitar 104 ton sampah, menciptakan masalah lingkungan yang memerlukan solusi kreatif.

Saat ini terdapat sebuah inovasi yang mengubah pandangan tentang sampah, menjadikannya sebagai sumber energi yang bernilai, dan mendorong pengurangan sampah secara signifikan.

Seiring dengan meningkatnya jumlah sampah, masyarakat di Bangkalan Madura telah menghadapi masalah pengelolaan limbah yang semakin serius.

Namun, dalam situasi yang tampak tak terkendali ini, muncul ide brilian untuk mengubah sampah menjadi briket, yang dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk tungku pembuatan garam, yang merupakan sumber utama mata pencaharian sebagian besar penduduk setempat.

BACA JUGA : PT Pertamina Hulu Energi Sukses Raih Gold Rank ASRRAT 2023

Salah satu terobosan dari PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) yaitu Inovasi Salt Centre Terintegrasi, untuk meningkatkan produksi garam di Bangkalan Madura, Jawa Timur. Tidak hanya membantu warga sekitar terutama di tempat pelelangan ikan atau TPI akan kebutuhan garam. Tetapi juga memanfaatkan sampah di masyarakat yang awalnya tidak bernilai ekonomi.

Meningkatnya jumlah sampah organik dan juga anorganik di Desa Banyusangka, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, mendorong PHE WMO mengembangkan inovasi yang dapat mengubah sampah menjadi sumber daya yang berharga, bukan hanya beban lingkungan.

Melalui inovasi Siram Berbakat yang dikembangkan Kelompok Pengelola Garam BumDES Wijaya Kusuma Banyusangka, PHE WMO menjawab masalah sampah dengan kegiatan pengelolaan yang bekerjasama dengan Rumah Daur Ulang (RDU) De eL Ha Kabupaten Bangkalan.

Sampah digunakan sebagai bahan bakar untuk tungku pembuatan garam, yang merupakan sumber utama mata pencaharian sebagian besar penduduk setempat.

Sampah banyak ditemui di Desa Banyusangka, karena memiliki kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terbesar di Kabupaten Bangkalan. Selain itu, kesadaran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan juga masih rendah dan seringkali membuang sampah sembarangan.

Banyusangka yang berada di kawasan pesisir juga mendapatkan banyak sampah kiriman dari arus laut, bahkan kondisi ini juga menyebabkan banjir di Desa Banyusangka.

BACA JUGA : Inovasi Lapangan NPU Pertamina Hulu Mahakam Menjaga Keberlangsungan Energi Kalimantan Untuk Indonesia

“Sampah yang terkumpul ditukar dengan briket. Briket tersebut dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk proses kristalisasi garam,” Ubaidillah Husni, anggota Kelompok Pengelola Garam BumDES Wijaya Kusuma Banyusangka, saat ditemui wartawan di Salt Center Terintegrasi di Desa Banyusangka, Selasa(7/11).

Garam yang diproses dengan evaporasi dengan memanfaatkan briket ini juga memiliki hasil yang lebih putih dan halus. Inovasi ini juga mampu meningkatkan kapasitas produksi mencapai 50kg per hari.

Selain peningkatan produksi garam, teknologi Siram Berbakat ini juga ramah lingkungan dan mampu mengurangi emisi GRK sebesar 85%.

Proyek inovatif ini melibatkan teknologi kristalisasi garam yang unik, menggunakan briket sebagai bahan bakarnya. Sebelumnya, penggunaan briket sebagai bahan bakar untuk tungku garam hanyalah ide sederhana, tetapi kini telah menjadi kenyataan yang berhasil.

Teknologi ini mampu merubah sampah menjadi briket yang efisien sebagai sumber energi, sekaligus mengatasi masalah penumpukan sampah di daerah tersebut.

Manfaat Besar bagi Masyarakat

Dengan penerapan teknologi kristalisasi garam berbahan bakar briket, Bangkalan Madura telah mengalami perubahan besar. Setiap bulan, lebih dari 15 ton sampah berhasil dikurangi, mengurangi tekanan pada lingkungan dan meminimalkan pencemaran. Selain itu, solusi ini juga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat dengan menciptakan peluang pekerjaan dalam produksi dan distribusi briket.

Upaya Berkelanjutan untuk Masa Depan Lebih Hijau

Proyek ini adalah langkah awal yang luar biasa dalam menciptakan masyarakat yang lebih berkelanjutan. Bangkalan Madura telah menunjukkan bahwa dengan inovasi yang tepat, sampah dapat menjadi sumber daya yang berharga, bukan hanya beban lingkungan.

Proyek ini adalah contoh nyata bagaimana kita dapat mengubah tantangan menjadi peluang, memanfaatkan teknologi untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan ekonomi yang lebih kuat.

“Ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk mendukung kinerja keberlanjutan melalui program Environmental, Social & Governance (ESG) dan mendukung pemerintah mencapai target agenda internasional khususnya Sustainable Development Goals, dimana program ini utamanya berkontribusi pada tujuan no. 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.” kata GM Zona 11 Muzwir Wiratama.

BACA JUGA : Pertamina dan Polri Temukan Gudang Ilegal BBM Subsidi di Pati

Dengan demikian, melalui inovasi teknologi kristalisasi garam berbahan bakar briket, Bangkalan Madura telah membuktikan bahwa perubahan positif dapat dicapai jika kita berani berpikir di luar kotak.

Dan bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Semoga upaya mereka menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk menghadapi masalah lingkungan serupa dan mencari solusi yang kreatif.

Ulil Masruroh – Community Development Officer (CDO) PHE WMO

Produksi Garam Rakyat
Inovasi Siram Berbakat juga menjawab permasalahan minimnya produksi garam yang memicu yang tingginya harga yang dimainkan oleh tengkulak sedangkan kualitas garamnya rendah.

Garam yang diproses oleh Kelompok Pengelola Garam BumDES Wijaya Kusuma Banyusangka merupakan hasil evaporasi teknologi kristalisasi garam dengan memanfaatkan bahan bakar briket. Sebelumnya, penggunaan briket sebagai bahan bakar untuk tungku garam hanyalah ide sederhana, tetapi kini telah menjadi kenyataan yang berhasil. Pada 2022, PHE WMO mengembangkan program Salt Centre yang fokus pada pengembangan teknologi tepat guna untuk peningkatan kualitas garam.

BACA JUGA : Pertamina EP Adera Field Berhasil Tambah Produksi Minyak 729 BOPD dari Sumur ABB 140

Teknologi yang diterapkan adalah dengan membuat roughing filter, rumah garam portable dan juga alat cuci garam. Penerapan teknologi tepat guna tersebut telah berhasil meningkatkan kualitas garam rakyat di Desa Banyusangka dengan salah satu indikator pengukurannya adalah peningatan kadar NaCl garam banyusangka dari yang sebelum ada program hanya sekitar 56,12% dan menjadi 94,07% dan telah memenuhi standart garam konsumsi.

Melalui inovasi Siram Berbakat, petani garam tidak hanya dari Desa Banyusangka tetapi desa sekitar lainnya seperti Desa Tlangoh juga bekerjasama dengan BUMDes Wijaya Kusuma dalam proses distribusi garam. Dengan adanya kerjasama ini BUMDes Wijaya Kusuma telah mampu menjamin stabilitas harga garam khususnya di wilayah Desa Banyusangka dan sekitar Kecamatan Tanjungbumi. Hingga saat ini sebanyak 7 petani garam bekerjasama dengan BUMDes Wijaya Kusuma.

Program ini telah berkontribusi terhadap empat aspek yang sangat dirasakan oleh penerima manfaat yakni alam, ekonomi, sosial, dan kesejahteraan. (Rama)

Foto : Dok Resourcesasia.id

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Sulit Capai Swasembada Energi, Produksi Migas Bisa Anjlok ke 580.000 Barel Per Hari

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Industri hulu minyak dan gas bumi memiliki peran penting dalam merealisasikan target …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *