Friday , 22 May 2026
Home / ENERGI MINYAK & GAS / Kebutuhan Investasi Energi Diproyeksi Melonjak, Hulu Migas dan CCS Jadi Motor Utama

Kebutuhan Investasi Energi Diproyeksi Melonjak, Hulu Migas dan CCS Jadi Motor Utama

TANGERANG, RESOURCESASIA.ID – Pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi sektor energi, termasuk pengembangan carbon capture and storage (CCS), akan meningkat signifikan dalam beberapa tahun mendatang seiring percepatan transisi energi yang diiringi dengan target menuju ketahanan energi nasional.

Dadan Kusdiana, Sekretaris Jendral Dewan Energi Nasional (DEN) mengatakan kebijakan energi nasional yang diumumkan Presiden pada September 2025 berfokus pada tiga aspek utama, yakni ketahanan energi, transisi energi, dan dekarbonisasi.

“Pertama adalah bagaimana menjamin ketahanan energi, yang saat ini menjadi isu hangat. Kedua adalah bagaimana menjaga transisi energi, bagaimana Indonesia bergerak menuju energi bersih. Dan ketiga, yang baru dibandingkan kebijakan sebelumnya, adalah dekarbonisasi,” ujar Dadan dalam Plenary Session — Indonesia in Regional Energy Investment: Where Will the Next Dollar Go? disela IPA Convex 2026 di ICE BSD, Kamis (21/5/2026).

Menurut dia, Indonesia akan menjalankan strategi energi secara paralel, yakni tetap memanfaatkan energi fosil sambil mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).

“Dengan demikian, saya rasa kita semua memahami bahwa kita akan berjalan di dua sisi: kita akan tetap menggunakan energi fosil konvensional dan pada saat yang sama mendorong penggunaan energi bersih, khususnya energi baru dan terbarukan,” katanya.

Saat ini, pemerintah tengah menyiapkan RUEN atau Rencana Umum Energi Nasional sebagai peta jalan energi nasional. Dokumen itu akan menjadi acuan implementasi berbagai program transisi energi lintas sektor.

Dalam proyeksi pemerintah hingga 2060, porsi energi terbarukan dalam bauran energi primer diperkirakan mencapai sekitar 70%, sementara gas sekitar 20% dan minyak 5%. Namun, kebutuhan minyak dan gas diperkirakan masih tinggi selama masa transisi energi. Berdasarkan data IEA dan IRENA, kebutuhan minyak Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 2 juta barel per hari pada 2030 dan masih sekitar 1 juta barel per hari pada 2060.

Kebutuhan investasi sektor energi jelas akan meningkat signifikan dalam beberapa tahun mendatang termasuk yang utama dari sektor hulu migas serta penerapan Carbon Capture Storage (CCS).

“Realisasi investasi tahun lalu mencapai US$15 miliar. Saya rasa itu sangat baik karena hampir sama dengan tahun 2024. Kami memproyeksikan peningkatan tahun ini, dan saya percaya pada 2027 dan 2028 nilainya akan jauh lebih besar,” ujarnya.

Ia mengatakan investasi itu akan datang dari pengembangan proyek-proyek besar seperti ENI, Masela, hingga Andaman yang membutuhkan pendanaan besar.

“Kita akan memiliki banyak proyek besar, seperti ENI dan Masela, dan mungkin Andaman nantinya. Semua itu membutuhkan investasi yang signifikan,” katanya.

Selain dari proyek hulu migas, pemerintah juga mendorong investasi di sektor carbon capture and storage (CCS) sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi nasional. Menurut Dadan, Indonesia memiliki potensi besar sebagai lokasi penyimpanan karbon regional.

Untuk memperkuat pengembangan CCS, Indonesia telah menjalin kerja sama dengan sejumlah negara seperti Singapura, Korea Selatan, dan Jepang.

“Kami memiliki kerja sama erat dengan Singapura, termasuk nota kesepahaman yang sangat spesifik mengenai CCS. Bulan lalu, kami juga melakukan hal yang sama dengan Korea dan Jepang,” ujar Dadan.

Sementara itu, Tatsushi Amano Senior Executive Managing Officer and Global Head of Energy & Natural Resources Finance Group, Japan Bank for International Cooperation (JBIC), menjelaskan Jepang dan Indonesia memiliki hubungan panjang untuk pembiayaan termasuk di sektor energi. “Kebijakan Jepang adalah berupaya mencapai netral karbon dengan cara yang realistis dan pragmatis. Karena itu, kami ingin mendukung proyek-proyek berbasis bahan bakar fosil maupun energi terbarukan, tergantung pada kondisi nyata dan kebutuhan masing-masing negara,” kata Tatsushi.

Ciro Pagano, Head of Middle East and Far East Region Eni, menegaskan iklim usaha yang kondusif memungkinkan pelaku usaha bekerja sama dengan pemerintah, SKK Migas, serta para mitra lainnya. Bahkan, lanjutnya, ENI tidak menutup kemungkinan untuk menggelontorkan lebih banyak investasi yang berdampak pada ketahanan energi.

“Kami merasa memiliki kontribusi besar dalam upaya ketahanan energi karena kami mendapatkan dukungan, sekaligus dapat mendukung negara dan pemerintah untuk mencapai ketahanan energi,” kata Ciro. (Rama Julian Saputra)

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

BPMA Targetkan Ada Kontrak PSC Baru di Aceh Tahun Ini, Salah Satu Cadangannya

TANGERANG, RESOURCESASIA.ID – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menyatakan berhasil menarik minat investor untuk mengelola …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *