Saturday , 13 June 2026
Home / NASIONAL / Jauh Dari Target Perjanjian Paris, Pemerintah Berencana Memproduksi Bahan Bakar Fosil Dua Kali Lipat Pada Tahun 2030 Dari Batas yang Diperbolehkan

Jauh Dari Target Perjanjian Paris, Pemerintah Berencana Memproduksi Bahan Bakar Fosil Dua Kali Lipat Pada Tahun 2030 Dari Batas yang Diperbolehkan

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Laporan Kesenjangan Produksi oleh gabungan peneliti dunia mengenai bahan bakar fosil global yang dirilis Rabu (8/11), menyoroti adanya ketidaksesuaian antara produksi batu bara, minyak, dan gas yang direncanakan dan diproyeksikan oleh pemerintah di 20 negara produsen utama, dengan batasan produksi global yang sesuai dengan target Perjanjian Paris. Secara keseluruhan, pemerintah masih berencana untuk memproduksi bahan bakar fosil dua kali lipat lebih banyak pada tahun 2030 dibandingkan dengan jumlah yang dibutuhkan untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5°C. Masih adanya kesenjangan produksi global ini menunjukkan kurangnya komitmen bersama dalam melakukan transisi energi.

“Rencana pemerintah untuk memperluas produksi bahan bakar fosil merusak transisi energi yang diperlukan untuk mencapai nol emisi, menciptakan risiko ekonomi dan membuat masa depan umat manusia dipertanyakan,” kata Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP. “Memberdayakan ekonomi dengan energi yang bersih dan efisien adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri kemiskinan energi dan sekaligus menurunkan emisi.”

Berdasarkan perhitungan dalam laporan tersebut, rencana dan proyeksi pemerintah akan mengarah pada peningkatan produksi batu bara global hingga tahun 2030, dan produksi minyak dan gas global hingga setidaknya tahun 2050. Gap produksi bahan bakar fosil yang akan menghasilkan emisi CO2 per tahun 2030 tercatat 110% lebih banyak dibandingkan dengan yang seharusnya terjadi jika kita ingin membatasi kenaikan suhu di tingkat 1,5°C, atau 69% lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan skenario batasan kenaikan suhu di tingkat 2°C.

“Kami menemukan bahwa banyak pemerintah mempromosikan gas fosil sebagai bahan bakar ‘transisi’ yang penting, namun tidak memiliki rencana yang jelas untuk beralih dari bahan bakar tersebut di kemudian hari,” ujar Ploy Achakulwisut, salah satu penulis utama laporan dan ilmuwan SEI. “Padahal, penelitian mengatakan bahwa kita harus mulai mengurangi produksi dan penggunaan batu bara, minyak, dan gas global sekarang juga – bersama dengan meningkatkan energi bersih, mengurangi emisi metana dari semua sumber, dan tindakan iklim lainnya – untuk menjaga agar target 1,5°C dapat tercapai.”

Laporan Kesenjangan Produksi 2023 ini merujuk pada 20 negara penghasil bahan bakar fosil utama yaitu Australia, Brasil, Kanada, Cina, Kolombia, Jerman, India, Indonesia, Kazakhstan, Kuwait, Meksiko, Nigeria, Norwegia, Qatar, Federasi Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, dan Inggris. Profil negara-negara ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari pemerintah tersebut masih terus memberikan dukungan kebijakan dan keuangan yang signifikan untuk produksi bahan bakar fosil.

“Kita sudah berada di jalur yang mengkhawatirkan dalam dekade ini untuk memproduksi 460% lebih banyak batu bara, 82% lebih banyak gas, dan 29% lebih banyak minyak dibandingkan dengan target kenaikan suhu 1,5°C. Menjelang COP28, pemerintah harus berupaya meningkatkan transparansi secara dramatis tentang bagaimana mereka akan mencapai target emisi dan membuat langkah-langkah yang mengikat secara hukum untuk mendukung tujuan-tujuan ini.” Ungkap Angela Picciariello, Peneliti Senior IISD.

Indonesia sebagai salah satu negara produsen utama bahan bakar fosil yang disoroti, dalam hal ini masih aktif menjadi eksportir batu bara terbesar ketiga atau 7,6% dari total ekspor global, disamping juga sebagai pengguna energi fosil lainnya seperti gas dan minyak. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki ketergantungan ekonomi sangat tinggi terhadap sumber enegi fosil, dimana industri minyak dan gas berkontribusi sebanyak 12% dari PDB Indonesia saat ini.

Laporan ini memperingatkan risiko yang besar dan merekomendasikan agar negara-negara harus menargetkan penghentian produksi dan penggunaan batu bara secara menyeluruh pada tahun 2040, serta pengurangan produksi dan penggunaan minyak dan gas bumi sebanyak tiga perempatnya pada tahun 2050 dari tingkat produksi dan penggunaan pada tahun 2020. Untuk itu, pemerintah dengan kapasitas yang lebih besar untuk beralih dari bahan bakar fosil harus menargetkan pengurangan yang lebih ambisius dan membantu mendukung proses transisi di negara-negara dengan sumber daya yang terbatas.

“Bahan bakar fosil sudah habis. Pada pertengahan abad ini, kita harus memasukkan batu bara ke dalam buku-buku sejarah, dan memangkas produksi minyak dan gas setidaknya tiga perempatnya – menuju penghapusan bahan bakar fosil secara penuh. Namun, terlepas dari janji-janji iklim mereka, pemerintah berencana untuk mengucurkan lebih banyak uang ke dalam industri yang kotor dan sekarat, sementara peluang berlimpah di sektor energi bersih yang sedang berkembang. Selain kegilaan ekonomi, ini adalah bencana iklim yang kita buat sendiri.” Ujar Neil Grant, Analis Iklim dan Energi, Climate Analytics. (Rama)

Foto : Dok Batahita.id

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Pengangguran Sarjana Meningkat, ITPLN Sodorkan Konsep SGE dan Jaminan Karir Lulusan

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Syamsir Abduh, menawarkan konsep Sustainable …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *