Thursday , 25 July 2024
Home / CSR / Inovasi Salt Centre Terintegrasi, PHE WMO Siapkan Petani Garam di Segala Cuaca Guna Percepat Produksi Garam
Kelompok Tani Garam Binaan PHE WMO panen garam cepat produksi dengan inovasi Salt Centre, Bumdes Wijaya Kusuma, di Desa Banyusangka, Bangkalan Madura, Selesa (7/11)

Inovasi Salt Centre Terintegrasi, PHE WMO Siapkan Petani Garam di Segala Cuaca Guna Percepat Produksi Garam

RESOURCESASIA.ID, BANGKALAN, MADURA – PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) memberdayakan warga Desa Banyusangka, kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur untuk dapat memproduksi garam kualitas baik melalui penerapan teknologi tepat guna, dengan memanfaatkan teknologi baru, mereka bisa memproduksi garam jauh lebih banyak dan cepat dibandingkan produksi dengan cara konvensional.

Berbagai inovasi sosial yang di kembangkan oleh PHE WMO lewat program Salt Center Terintegrasi merupakan langkah penting dalam menjawab permasalahan ini dan membawa manfaat bagi petani garam khusus wilayah Bangkalan dan umumnya Indonesia.

Pada Tahun 2018, Program Salt Center Terintegrasi mulai dikembangkan dengan menyediakan sarana dan prasarana produksi garam serta rumah garam sebagai solusi untuk meningkatkan produkstivitas petani garam dan terbukti warga desa Banyusangka binaan PHE WMO memprudksi garam jauh lebih cepat dibandingkan dengan cara konvensional. Selain itu, prosuksinya jauh lebih banyak.

BACA JUGA : Dukung Energi Terbarukan Tenaga Surya dan Angin, Pertamina Wujudkan Desa Energi Berdikari

salah satu kelompok Tani membaya hasil panen garam di lokasi salt centre binaan PHE WMO

Untuk mengatasi terbatasnya produksi garam khususnya di Kabupaten Bangkalan, PHE WMO mengembangkan inovasi Salt Centre Terintegrasi untuk mempersiapkan petani garam bertahan di tengah ketidakpastian cuaca. Teknologi yang dikembangkan berupa pengenalan cuaca, teknologi ulir filter (TUF) dan  kristalisasi garam berbahan bakar briket rakyat (Pengembangan Siram Berbakat).

Saat ini jumlah produksi garam di Indonesia kian menurun, sementara jumlah kebutuhan garam setiap tahunnya selalu meningkat. Produksi garam di Kabupaten Bangkalan hanya 740 ton dari target yang ditetapkan yakni 4.000 ton atau hanya 18,5% dari target Kabupaten Bangkalan.

Salt Centre Banyusangka terletak kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur

Tahun 2022 PHE WMO telah melakukan inovasi rumah garam portable dan alat cuci garam untuk meningkatkan produksi dan kualitas garam dimana capaian produksi yakni sebesar 32 ton.

Hasilnya, kualitas garam rakyat di desa Banyusangka juga meningkat dengan indikator pengukuran kadar NaCl dari sebelumnya 56,12 persen menjadi 94,07 yang telah memenuhi standar garam konsumsi atau garam meja.

Pengembangan Siram Berbakat (Kristalisasi Garam Berbahan Bakar Briket Rakyat) – Siram Berbakat dikembangkan sebagai upaya peningkatan produksi garam rakyat yang dilakukan dengan proses kristalisasi garam menggunakan teknologi tepat guna yang memiliki bahan bakar dari briket. Briket ini dikembangkan berasal dari sampah masyarakat yang tidak memiliki nilai ekonomis. Selain dapat menyelesaikan persoalan sampah, Siram Berbakat juga mampu meningkatkan produksi garam rakyat.

Sedangkan pada tahun 2023, melalui inovasi yang telah dikembangkan untuk meningkatkan kuantitas produksi garam rakyat nyatanya telah berhasil meningkatkan produksi garam mencapai 54 ton.

Dengan adanya program ini juga mencakup diversifiukasi produk berbahan dasar garam pengembangan eduwisata garam bagi dunia pendidikan.

Roughing Filter menjadi advance filter. Perubahan tersebut dilakukan sebagai upaya perbaikan karena adanya kendala pada debit air yang rendah karena sebelumnya hanya mengandalkan gravitasi. Pada pengembangan advance filter dilakukan perbaikan dengan memanfatkan pompa celup bertenaga sollar cell. Selain itu terdapat perbaikan komposisi filter yang sebelumnya hanya ditujukan untuk mengurangi TSS yakni padatan yang tidak terlarut dalam air, tetapi sekarang ini ditujukan untuk mengurangi TSS dan juga TDS yang merupakan padatan yang terlarut dalam air.

Inovasi ini berhasil dalam meningkatkan kualitas garam dan ekonomi masyarakat setempat, masih ada masalah serius yang harus dihadapi oleh petani garam di Indonesia yakni penurunan prosuksi gram. Sementara kebutuhan garam terus meningkat, prosuksi garam semakin menurun, terutama di daerah penghasil garam terbesar seperti di pulau Madura

BACA JUGA : Tingkatkan Penjualan AMDK Bright Melalui Digitalisasi, Pertamina Retail Maksimalkan Potensi Pasar B2B

Kabupaten Bangkalan, salah satu daerah penghasil garam, juga mengalami penurunan prosuksi garam yang signifikan pada tahun 2022, produski garam di Bangkalan hanya mencapai 18,5 persen dari target yang ditetepakan. Hal ini menunjukan bahwa masalah garam masih menjadi isu utama wilayah ini.

Sehingga hadirnya PHE WMO meningkatkan produksi garam rakyat melalui proses kristalisasi menggunakan teknologi tepat guna yang memiliki bahan bakar dari briket. Briket dikembangkan berasal dari sampah masyarakat yang tidak memiliki nilai ekonomis.

Muzwir Wiratama, GM Zona 11 Regional 4 Subholding Upstream Pertamina (Kiri) – Pengembangan Teknologi Ulir Filter (TUF) – TUF merupakan salah satu water treatment yang ditujukan untuk mempercepat proses evaporasi garam, sehingga produksi garam yang dihasilkan juga akan meningkat. Teknologi ini juga sebagai upaya untuk efisiensi lahan garam.

Muzwir Wiratama, GM Zona 11 Regional 4 Subholding Upstream Pertamina, mengatakan usaha garam rakyat di Indonesia memiliki akar sejarah yang kuat dan layak untuk dikembangkan. Sebagai negara kepulauan, usaha garam rakyat sangat potensial sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan rakyat.

“PHE WMO mendukung upaya pemerintah mendukung produksi garam nasional dengan memberdayakan petani garam di Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan melalui inovasi dan pengembangan teknologi sehingga usaha garam rakyat semakin efisien, berkualitas dan menjadi komoditi strategis yang dapat meningkatkan kesejahteraan petambak garam khususnya dan masyarakat pesisir pada umumnya. Kami ingin keberadaan kami membawa nilai manfaat kepada pemangku kepentingan, khususnya masyarakat di ring satu,” kata Wiratama, di Salt Center Banyusangka Bumdes Wijayakusuma, Desa Banyusangka, Kecamatan Tanjungbumi, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Rabu(8/11).

Wiratama menyampaikan Program Pengembangan Siram Berbakat ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk mendukung kinerja keberlanjutan melalui program Environmental, Social & Governance (ESG) dan mendukung pemerintah mencapai target agenda internasional khususnya Sustainable Development Goals, dimana program ini utamanya berkontribusi pada tujuan nomor 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. “Semoga bisa menjadi HUB yang lebih besar lagi dan bisa direplikasi di tempat lain,” ujar Wiratama.

Program pengenalan cuaca merupakan peningkatan kapasitas petani garam untuk melakukan pemantauan awan agar dapat melakukan prediksi cuaca secara mandiri. Kelompok penerima manfaat dilatih untuk mengakses data cuaca pemerintah sebagai data sekunder dan membuat laporan harian pengamatan cuaca. Pengamatan cuaca dilakukan dengan menggunakan teropong binocular, windsocks dan juga anemometer untuk memastikan kondisi cuaca berdasarkan kondisi awan, arah angin dan juga kecepatan angin.

BACA JUGA : PHE Berhasil Meraih Penghargaan Best Booth of The Year di Joint Convention Pangkalpinang 2023

Selain itu, penerapan Teknologi Ulir Filter ini dilakukan dengan cara memodifikasi petak garam yang dibuat secara berulir untuk mempercepat laju air agar lebih cepat tua sehingga mempercepat proses kristalisasi garam. Jika dengan menggunakan metode konvensional proses kristalisasi air tua membutuhkan waktu 21-28 hari, dengan adanya teknologi ulir filter mampu mempercepat proses kristalisasi mencapai 14 hari. Teknologi Ulir Filter ini juga memanfaatkan limbah padat Non B3 PHE WMO berupa pipa sebanyak 0,34785 ton.

Pengembangan Teknologi Ulir Filter (TUF) – TUF merupakan salah satu water treatment yang ditujukan untuk mempercepat proses evaporasi garam, sehingga produksi garam yang dihasilkan juga akan meningkat. Teknologi ini juga sebagai upaya untuk efisiensi lahan garam.

Produksi garam dengan Program Salt Centre ini, memperingkas waktu. Bila bisanya dilakukan secara konvensional adalah sekitar 28 hari tapi dengan teknologi ini diperingkas menjadi 14 hari. Metodenya, air laut ditampung dalam kolam pertama dan didiamkan sekitar 3 hari. Setelah itu, air tersebut kemudian dialirkan ke kolam lainnya melalui alat filter. Air tersebut didiamkan lagi, sampai mencapai kadar NaCl garam tertentu minimal 22. 

Adapun teknologi yang diterapkan adalah dengan membuat roughing filter, rumah garam portable dan juga alat cuci garam. Penerapan teknologi tepat guna tersebut telah berhasil meningkatkan kualitas garam rakyat di Desa Banyusangka. Salah satu indikatornya adalah peningatan kadar NaCl garam di sana dari yang sebelum ada program hanya sekitar 56,12 % menjadi 94,07 % dan telah memenuhi standart garam konsumsi.

Air tua, atau air laut yang sudah ditempatkan di kolam dengan kadar garam 22 dalam kurun waktu tertentu, kemudian dilakukan kristalisasi. Yakni dengan menggunakan Siram Berbakat, yang merupakan inovasi teknologi kristalisasi garam berbahan bakar briket atau sampah yang tidak digunakan oleh masyarakat. Dari kristalisasi itu, dalam waktu 4-5 jam bisa menghasilkan 50 kg garam.

Selain itu juga, Salt Centre Terintegrasi juga mengusung inovasi Pengembangan Siram Berbakat untuk menyelesaikan permasalahan sampah di pesisir baik organik dan juga anorganik. Desa Banyusangka memiliki kawasan TPI terbesar di Kabupaten Bangkalan, disisi lain kesadaran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan juga masih rendah dan seringkali membuang sampah sembarangan. Banyusangka yang berada di kawasan pesisir juga mendapatkan banyak sampah kiriman dari arus laut, bahkan kondisi ini juga menyebabkan banjir di Desa Banyusangka.

BACA JUGA : PEP Lirik Field dan PHE Kampar Edukasi Pelajar tentang Industri Hulu Migas

Dengan inovasi ini dilakukan pengelolaan sampah yang bekerjasama dengan Rumah Daur Ulang (RDU) Kabupaten Bangkalan. Sampah yang telah dikumpulkan oleh kelompok selanjutnya ditukar dengan briket, yang  dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk proses kristalisasi garam. Garam yang diproses dengan evaporasi dengan memanfaatkan briket ini juga memiliki hasil yang lebih putih dan halus. Inovasi ini juga mampu meningkatkan kapasitas produksi mencapai 50kg per hari.

Sementara Field Manager PHE WMO Markus Pramudito mengatakan “Program ini tidak hanya meningkatkan kapasitas petani garam sehingga lebih berdaya, namun lebih dari itu program ini telah mendorong terjadinya transformasi sosial, diantaranya menumbuhkan kemampuan petani garam untuk tidak tergantung pada cuaca. Selain itu, program ini juga mendorong terjadinya kesepakatan kolektif yang ditunjukkan dengan adanya kesepakatan standarisasi harga yang disesuaikan dengan kondisi pasar dan saling menguntungkan anatara petani garam, pengrajin ikan asin dan juga BUMDes Wijaya Kusuma. Dengan demikian, program ini juga memutus rantai tengkulak yang selama ini merugikan petani garam.”

“untuk menjaga stabilitas harga berupa pengembangan HUB “Jaringan Kerjasama Petani Garam Rakyat”. Melalui inovasi ini, petani garam tidak hanya dari Desa Banyusangka tetapi desa sekitar lainnya seperti Desa Tlangoh juga bekerjasama dengan BUMDes Wijaya Kusuma dalam proses distribusi garam. Dengan adanya kerjasama ini BUMDes Wijaya Kusuma telah mampu menjamin stabilitas harga garam khususnya di wilayah Desa Banyusangka dan sekitar Kecamatan Tanjungbumi. Hingga saat ini sebanyak 7 petani garam bekerjasama dengan BUMDes Wijaya Kusuma,” terang Markus.

produk olah garam bisa menjadi bahan makanan yang enak

Lanjut Markus menjelaskan “Program ini mendorong terjadinya kesepakatan kolektif yang ditunjukkan dengan adanya kesepakatan standarisasi harga yang disesuaikan dengan kondisi pasar dan saling menguntungkan antara petani garam, pengrajin ikan asin dan juga BUMDes Wijaya Kusuma. Dengan demikian, program ini juga memutus rantai tengkulak yang selama ini merugikan petani garam.”

Melalui program ini, pendapatan kelompok garam meningkat menjadi Rp 176 juta per tahun dan Rp 22 juta dari diversifikasi produk. Selain itu dari sisi lingkungan, 180 ton sampah terkelola setiap tahun.

Diversifikasi produk garam seperti pembuatan bumbu dendeng, sabun cuci, garam relaksasi, eco detergent, dendeng ikan, vanilla sea salt, permen karet, cabe garam, dan bumbu tabur bangkok melibatkan para wanita di desa.

“Pertamina juga memberi pelatihan diversifikasi garam. Bagaimana caranya garam bisa jadi produk lain. BUMDes menyediakan modal untuk ibu-bu itu. Produk mereka dijual BUMDes kepada konsumen,” Kata Ketua Badan Usaha Milik Desa Ahmad Bukhori Muslim di Banyusangka.

“Nelayan Banyusangka tak lagi kesulitan mencari garam. Kami menjual garam itu Rp 75-80 ribu setiap 50 kilogram. Ternyata kami bisa memproduksi garam yang sama dengan petani,” tambah Bukhori.

BACA JUGA : PHE Raih Penghargaan SOE Subsidiaries Awards The Iconomics

Ubaidillah Husni, Local Hero sekaligus Ketua Unit Usaha Produksi Garam dan anggota Karang Taruna Desa Banyusangka, mengakui Salt Center Terintegrasi berhasil mendongkrak produksi garam masyarakat Desa Banyusangka. “Produksi garam di Salt Center saat ini bisa mencapai 50 kilogram per hari. Kami juga mengembangkan jejaring kerjasama dengan berbagai pihak seperti pengrajin ikan asin dalam pendistribusian garam, serta petani garam sekitar baik di wilayah Desa Banyusangka maupun desa sekitarnya, untuk menjalin kerjasama distribusi garam rakyat ‘HUB’ melalui BUMDes Wijaya Kusuma, serta kegiatan penyebarluasan pengetahuan terkait dengan produksi garam rakyat.” ungkapnya saat ditemui di Salt Center.

Ubaidillah Husni (Tengah Baju Hitam), Local Hero sekaligus Ketua Unit Usaha Produksi Garam, dan anggota Karang Taruna Desa Banyusangka, mengakui Salt Center Terintegrasi berhasil mendongkrak produksi garam masyarakat Desa Banyusangka, Bangkalan.

Inovasi Sosial Salt Centre Terintergrasi

Program Salt Centre Terintegrasi dikembangkan pada tahun 2018 melalui fasilitasi penyediaan sarana dan prasana produksi garam serta penyediaan rumah garam sebagai salah satu upaya peningkatan produktivitas petani garam dikala musim penghujan.

Adanya rumah garam ini merupakan salah satu jalan keluar agar produksi garam tidak tergantung pada musim, karena hingga saat ini sebagaian pesar petani garam sangat bergantung pada musim dan ketika musim hujan/ kemarau basah hasil garam tentunya mengalami penurunan. Pelaksanaan program Rumah Garam di tahun 2018 terbukti efektif karena pada saat musim penghujan di tahun tersebut kelompok mampu produksi garam dengan hasil panen mencapai 11 ton dalam satu tahun penuh.

Pada 2022, PHE WMO mengembangkan program Salt Centre yang fokus pada pengembangan teknologi tepat guna untuk peningkatan kualitas garam. Adapun teknologi yang diterapkan adalah dengan membuat roughing filter, rumah garam portable dan juga alat cuci garam. Penerapan teknologi tepat guna tersebut telah berhasil meningkatkan kualitas garam rakyat di Desa Banyusangka dengan salah satu indikator pengukurannya adalah peningatan kadar NaCl garam banyusangka dari yang sebelum ada program hanya sekitar 56,12% dan menjadi 94,07% dan telah memenuhi standart garam konsumsi.

Selain itu, pelaksanaan program di tahun 2022 juga dilakukan dengan melakukan diversifikasi produk berbahan dasar garam dan juga pengembangan eduwisata garam. Meskipun telah berhasil dalam meningkatkan kualitas garam dan juga ekonomi masyarakat melalui inovasi yang dikembangkan, tetapi nyatanya masih terdapat masalah yang krusial yang dihadapi oleh petani garam di Indonesia. Masalah tersebut adalah minimnya jumlah produksi garam rakyat.

BACA JUGA : Kelompok Disabilitas Kembangkan UMKM Pertamina SMEXPO 2023 Hadirkan UMKM Inklusi Disabilitas

Jumlah produksi garam di Indonesia kian menurun, sedangkan jumlah kebutuhan garam setiap tahunnya selalu meningkat. Madura yang merupakan daerah dengan penghasil garam terbesar di Indonesia juga mengalami penurunan dari hasil garam. Oleh karena itu persoalan garam masih menjadi isu utama, tidak terkecuali di wilayah Kabupaten Bangkalan. Pengembangan sektor garam di wilayah Kabupaten Bangkalan juga masih kekurangan perhatian dari pemerintah setempat untuk menggenjot jumlah produksi garam rakyat.

Pada tahun 2022, capaian garam di Kabupaten Bangkalan hanya 740 ton dari target yang ditetapkan yakni 4.000 ton atau hanya 18,5% dari target Kabupaten Bangkalan. Angka tersebut diambil berdasarkan data angka produksi di empat kabupaten yakni kabupaten Bangkalan, Pamekasan, Sampang dan Sumenep.

Inovasi program yang dikembangkan oleh PHE WMO untuk menjawab permasalahan yang dihadapi terkait dengan minimnya produksi garam, dilakukan dengan membuat serangkaian teknologi tepat guna mulai dari peningkatan kapasitas masyarakat hingga pengembangan teknologi itu sendiri.

Pada tahun 2023, terdapat pula perbaikan pre treatment air dari sebelumnya yakni roughing filter menjadi advance filter. Perubahan tersebut dilakukan sebagai upaya perbaikan karena adanya kendala pada debit air yang rendah karena sebelumnya hanya mengandalkan gravitasi. Pada pengembangan advance filter dilakukan perbaikan dengan memanfatkan pompa celup bertenaga sollar cell. Selain itu terdapat perbaikan komposisi filter yang sebelumnya hanya ditujukan untuk mengurangi TSS yakni padatan yang tidak terlarut dalam air, tetapi sekarang ini ditujukan untuk mengurangi TSS dan juga TDS yang merupakan padatan yang terlarut dalam air.

Selain itu PHE WMO juga berupaya untuk menyebarluaskan pengetahuan terkait dengan pengelolaan garam rakyat untuk masyarakat. Jika sebelumnya telah dilakukan pengembangan Eduwisata Garam ke lokasi program. Pada tahun 2023, dikembangkan modul pembelajaran untuk siswa mulai dari level TK hingga SMA. Modul pembelajaran tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan terkait pengelolaan garam rakyat yang dapat diakses di sekolah tanpa harus datang ke lokasi program.

BACA JUGA : Pertamina Hulu Energi Turut Andil Catatkan Transaksi Perdana Carbon Trading

Tidak hanya itu, untuk mengembangkan jejaring kerjasama dalam pengelolaan garam rakyat, khususnya untuk menjangkau penerima manfaat yang jauh lebih banyak, dilakukan kegiatan peningkatan jejaring kerjasama petani garam rakyat “HUB”. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas garam rakyat khususnya di wilayah Kecamatan Tanjungbumi dan juga menjaga stabilitas harga garam rakyat

Keunggulan hal baru dan cara baru yang dilakukan dalam pelaksanaan program Salt Centre Terintegrasi adalah sebagai berikut :

1. Pengenalan Cuaca

Pengenalan cuaca ini merupakan kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat khususnya petani garam untuk mengetahui pertanda alam melalui pemantauan awan. Hal tersebut ditujukan agar masyarakat dapat melakukan prediksi cuaca secara mandiri. Pengamatan cuaca ini menggunakan teropong binocular yang dapat melihat secara lebih jelas dan dalam jarak yang lebih jauh terkait dengan kondisi awan sehingga dapat memprediksi apa yang akan terjadi. Dengan adanya pelatihan ini masyarakat mampu mengukur peluang terjadinya hujan. Pada kegiatan pelatihan cuaca ini juga dilakukan pengenalan kepada kelompok penerima manfaat untuk mengakses data cuaca pemerintah sebagai data sekunder. Pada kegiatan ini kelompok juga membuat daily report sebagai bentuk record daily dari hasil pengamatan cuaca. Pengamatan cuaca dilakukan dengan menggunakan teropong binocular, windsocks dan juga anemometer untuk memastikan kondisi cuaca berdasarkan kondisi awan, arah angin dan juga kecepatan angin.

2.Teknologi Ulir Filter

Penerapan Teknologi Ulir Filter ini dilakukan dengan cara memodifikasi petak garam yang dibuat secara berulir untuk mempercepat laju air agar lebih cepat tua sehingga mempercepat proses kristalisasi garam. Jika dengan menggunakan metode konvensional proses kristalisasi air tua membutuhkan waktu 21-28 hari, dengan adanya teknologi ulir filter mampu mempercepat proses kristalisasi mencapai 14 hari. Teknologi Ulir Filter ini juga memanfaatkan limbah padat Non B3 PHE WMO berupa pipa sebanyak 0,34785 ton.

3. Inovasi Siram Berbakat

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh dua masalah yang dihadapi oleh masyarakat Desa Banyusangka. Sampah organik dan juga anorganik sangat banyak ditemui di Desa Banyusangka, hal tersebut dikarenakan Desa Banyusangka memiliki kawasan TPI terbesar di Kabupaten Bangkalan, disisi lain kesadaran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan juga masih rendah dan seringkali membuang sampah sembarangan. Banyusangka yang berada di kawasan pesisir juga mendapatkan banyak sampah kiriman dari arus laut, bahkan kondisi ini juga menyebabkan banjir di Desa Banyusangka. Masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat Desa Banyusangka adalah masih rendahnya produksi garam rakyat sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan garam lokal, khususnya untuk proses pengasinan ikan.

BACA JUGA : PT Pertamina Hulu Indonesia dan Pertamina Foundation Kolaborasi Luncurkan Program Beasiswa Sobat Bumi Kalimantan

Selanjutnya berdasarkan dua masalah tersebut dirumuskan inovasi program untuk menjawab kedua permasalahan tersebut secara bersamaan. Inovasi program yang dikembangkan dijawab melalui kegiatan pengelolaan lingkungan di Desa Banyusangka dengan menerapkan pengelolaan sampah yang bekerjasama dengan Rumah Daur Ulang (RDU) De eL Ha Kabupaten Bangkalan. Sampah yang telah dikumpulkan oleh kelompok selanjutnya ditukar dengan briket, selanjutnya briket tersebut dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk proses kristalisasi garam. Garam yang diproses dengan evaporasi dengan memanfaatkan briket ini juga memiliki hasil yang lebih putih dan halus. Inovasi ini juga mampu meningkatkan kapasitas produksi mencapai 50kg per hari. Selain peningkatan produksi garam, teknologi Siram Berbakat ini juga ramah lingkungan dan mampu mengurangi emisi GRK sebesar 85%.

4.Pengembangan HUB “Jaringan Kerjasama Petani Garam Rakyat”

Inovasi ini dikembangkan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat luas karena tingginya harga garam yang dimainkan oleh tengkulak sedangkan kualitas garamnya rendah. Melalui inovasi ini, petani garam tidak hanya dari Desa Banyusangka tetapi desa sekitar lainnya seperti Desa Tlangoh juga bekerjasama dengan BUMDes Wijaya Kusuma dalam proses distribusi garam. Dengan adanya kerjasama ini BUMDes Wijaya Kusuma telah mampu menjamin stabilitas harga garam khususnya di wilayah Desa Banyusangka dan sekitar Kecamatan Tanjungbumi. Hingga saat ini sebanyak 7 petani garam bekerjasama dengan BUMDes Wijaya Kusuma.

Program ini telah berkontribusi terhadap 4 aspek yang sangat dirasakan oleh penerima manfaat yakni alam, ekonomi, sosial, dan kesejahteraan yang digambarkan melalui Kompas keberlanjutan. (Rama Julian Saputra)

Foto : Dok Resourcesasia.id

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (migas), mineral dan batubara (minerba), kelistrikan, energi terbarukan (ebt), industri penunjang, lingkungan, CSR, perdagangan dan lainnya.

Check Also

Illegal Drilling Gerogoti Industri Hulu Migas, Harus Lebih Tegas Menanganinya

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Kebakaran kembali terjadi yang berasal dari sumur illegal, yang terbaru terjadi di Kabupaten …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *