TANGERANG, RESOURCESASIA.ID – Transisi energi bukan lagi hal tabu untuk dijalankan, bahkan oleh perusahaan migas yang notabena memanfaatkan sumber daya alam fosil namun turut mengembangkan program transisi energi sekaligus penurunan emisi.
Hiroyuki Mori, Executive Vice President and Member of the Board, Energy Business, Japan Organization for Metals and Energy Security (JOGMEC) menilai investasi di sektor energi bersih terus meningkat. Namun pada saat yang sama, investasi di sektor migas juga bertambah.
“Ini bukan sebuah kontradiksi. Hal tersebut terjadi karena dunia tidak hanya menghadapi tantangan perubahan iklim, tetapi juga ketidakpastian pasokan energi. Saat ini kita dituntut untuk memikirkan sekaligus menerapkan bagaimana transisi energi dan ketahanan energi dapat dicapai secara bersamaan,” jelas Hiroyuki disela Plenary Session – Energy Transition At The Crossroads: Urgency, Reality, And The Road Ahead pada IPA Convex 2026 di ICE BSD, Kamis (21/5/2026).
Di banyak negara maju, Jepang contohnya diversifikasi juga berarti tetap memanfaatkan energi fosil, termasuk LNG, dengan cara yang lebih rendah karbon melalui kombinasi pengurangan emisi, peningkatan efisiensi, serta penerapan teknologi Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS).
Puah Kok Keong, Chief Executive, Energy Market Authority of Singapore , menegaskan di tengah transisi menuju masa depan rendah karbon sekalipun, minyak dan gas akan tetap memainkan peran penting. Dia mencontohkan Singapura peran gas alam sangatlah penting. Kami tidak melihatnya hanya sebagai bahan bakar transisi, tetapi juga sebagai fondasi utama ketahanan dan keberlanjutan energi Singapura.
“Kami sangat bergantung pada gas alam untuk pembangkit listrik. Sebanyak 95% listrik Singapura dihasilkan dari gas alam yang diimpor melalui pipa dari Malaysia dan Indonesia, serta dalam bentuk LNG,” jelas Puah Kok.
Namun demikian Singapura juga tetap melihat transisi energi jadi suatu keharusan apalagi jika dilihat modal untuk melakukan transisi energi untuk negara – negara di kawasan Asia Tenggara cukup besar dan diiringi dengan penurunan harga listriknya.
Menurut International Renewable Energy Agency, biaya pembangkitan listrik dari energi terbarukan telah turun drastis, yakni sebesar 87% untuk solar PV dan sekitar 55% untuk pembangkit listrik tenaga angin darat (onshore wind). Sementara itu, biaya penyimpanan baterai juga turun lebih tajam, sekitar 90%.
Eniya Listiyani Dewi, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) mengungkapkan Indonesia memiliki berbagai pilihan strategi menghadapi kondisi gejolak energi sekarang ini.
Berbicara ketahanan dan transisi energi maka Indonesia kata Eniya berada di jalur yang tepat karena di sektor transportasi misalnya pemerintah mempunyai cita-cita untuk mengurangi ketergantungan akan minyak bumi dan menggantinya dengan bahan bakar nabati.
“Saat ini program yang berjalan adalah campuran biodiesel 40% (B40), dan pada Juli mendatang akan ditingkatkan menjadi 50% (B50), sehingga kami berharap Indonesia tidak lagi perlu mengimpor solar. Selain itu, pada Juli nanti kami juga akan mulai menerapkan mandatori bioetanol sebesar 5% di beberapa wilayah tertentu,” ungkap Eniya.
Sementara itu, Yuzaini Md Yusof, President Director, PETRONAS Indonesia, menyatakan secara prinsip PETRONAS jelas mendukung agenda transisi energi Indonesia. Dalam menetapkan target PETRONAS tidak bisa menyamaratakan semuanya karena setiap wilayah memiliki kondisi yang berbeda-beda.
“Di wilayah operasi kami di Indonesia, kami memahami bahwa tidak ada pendekatan “satu solusi untuk semua” dalam menjalankan transisi energi,” jelas Yuzaini.
Di Indonesia bagian timur, misalnya, masih ada wilayah yang menggunakan diesel dan bahkan belum memiliki akses listrik sama sekali. “Hal-hal seperti inilah yang harus kami pahami ketika beroperasi di suatu negara,” kata Yuzaini. (Rama Julian Saputra)
Resources Asia Energi News Makers