Wednesday , 22 April 2026
Home / INTERNASIONAL / WMO: Kenaikan Suhu Global Diproyeksi Melebihi 1,5°C Sebelum 2030
Screenshot

WMO: Kenaikan Suhu Global Diproyeksi Melebihi 1,5°C Sebelum 2030

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) menyatakan, peluang pemanasan global selama periode 2025-2029 akan melebihi 1,5°C dibandingkan masa pra-industri mencapai 70%. Peningkatan ini menandai lonjakan tajam dari prediksi tahun-tahun sebelumnya dan memperkuat urgensi aksi iklim yang ambisius.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru “WMO Global Annual to Decadal Climate Update 2025-2029”. Mengacu laporan ini, terdapat 80% kemungkinan bahwa setidaknya satu tahun antara 2025 dan 2029 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat, melampaui rekor pada 2024. Selain itu, terdapat 86% kemungkinan bahwa dalam periode tersebut, setidaknya satu tahun akan melampaui 1,5°C di atas tingkat suhu global pra-industri.

Prediksi ini menunjukkan kenaikan signifikan dari laporan sebelumnya, di mana peluang rata-rata pemanasan lima tahun melebihi 1,5°C hanya sebesar 32% dalam laporan  2023, dan 47% dalam laporan 2024.

“Kita baru saja mengalami 10 tahun terhangat yang pernah tercatat. Sayangnya, laporan WMO ini tidak memberikan tanda akan ada jeda dalam beberapa tahun mendatang, dan ini berarti akan semakin banyak dampak negatif pada ekonomi, kehidupan sehari-hari, ekosistem, dan planet kita,” ujar Ko Barrett, Wakil Sekretaris Jenderal WMO.

“Pemantauan dan prediksi iklim yang berkelanjutan sangat penting untuk menyediakan alat dan informasi berbasis sains kepada pembuat keputusan agar kita dapat beradaptasi,” tambahnya.

WMO juga mencatat pola perubahan iklim yang kian memburuk. Setiap tambahan fraksi derajat pemanasan berdampak langsung terhadap peningkatan gelombang panas ekstrem, curah hujan berlebihan, kekeringan parah, pencairan es kutub dan gletser, serta kenaikan permukaan laut. Di Asia Selatan, kecuali pada 2023, tercatat kondisi yang lebih basah dari rata-rata dan pola ini diperkirakan akan berlanjut hingga 2029.

Pemanasan di Kutub Utara diperkirakan terjadi lebih dari 3,5 kali lipat dibandingkan rata-rata global, dengan suhu musim dingin meningkat hingga 2,4°C di atas rata-rata periode dasar 1991-2020. Prediksi curah hujan untuk Mei-September menunjukkan kondisi yang lebih basah dari rata-rata untuk wilayah Sahel, Eropa Utara, Alaska, dan Siberia Utara, sementara wilayah Amazon diperkirakan akan mengalami kondisi lebih kering. Selain itu, konsentrasi es laut selama Maret 2025–2029 diperkirakan akan terus berkurang di wilayah Laut Barents, Laut Bering, dan Laut Okhotsk.

“Peningkatan suhu global melebihi 1,5°C akan berdampak langsung pada masyarakat Indonesia. Cuaca ekstrem sudah terbukti telah menyebabkan gagal panen, terjadinya bencana seperti banjir bandang, dan gelombang panas. Hal ini membuat transisi energi menjadi sesuatu yang harus didorong oleh pemerintah, karena penggunaan energi fosil secara terus menerus berkontribusi pada meningkatnya suhu global,” kata Wicaksono Gitawan, Policy Strategist CERAH.

Peter Thorne, Direktur Irish Climate Analysis and Research UnitS (ICARUS) Universitas Maynooth, menegaskan bahwa pemanasan akan terus berlanjut selama emisi gas rumah kaca tidak menurun. Dunia hanya akan berhenti menghangat ketika mencapai emisi nol bersih.

“Fakta bahwa peluang pemanasan lima tahunan melebihi 1,5°C kini mencapai 70%, dari sebelumnya hanya 32% dua tahun lalu, adalah cerminan bahwa kita makin dekat dengan ambang batas kritis yang disebut dalam laporan IPCC. Namun, ini bukan alasan untuk menyerah, justru sebaliknya—kita harus menggandakan upaya mitigasi,” ujar Peter.

Panel Lintas Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) menentukan level pemanasan global di masa depan berdasarkan rata-rata selama 20 tahun. Peningkatan suhu sementara pada level ini diperkirakan akan sering terjadi dengan frekuensi yang lebih sering, yang menandai peningkatan suhu bumi menuju ke 1,5-2°C. Laporan terbaru WMO mengungkap pemanasan global rata-rata selama 20 tahun untuk periode 2015–2034 diperkirakan mencapai 1,44°C.

Dalam Perjanjian Paris, negara-negara telah sepakat untuk menahan kenaikan suhu rata-rata global jangka panjang di bawah 2°C, dan berupaya keras membatasi hingga 1,5°C. Komunitas ilmiah secara konsisten menekankan bahwa setiap tambahan fraksi derajat pemanasan memiliki dampak besar, dan aksi iklim yang cepat dan adil adalah satu-satunya jalan ke depan. (RA)

Foto: ist

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Pertamina SMEXPO Kartini, Komitmen Pertamina Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – PT Pertamina (Persero) menggelar Small Medium Enterprise Expo (SMEXPO) Kartini di Lobby …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *