JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Tim Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Institut Teknologi PLN (ITPLN) berhasil meraih Juara 2 dalam ajang TEKNOVISTAFEST – National IT Preneur Competition 2026 yang diselenggarakan Universitas Airlangga, Surabaya.
Tim bernama Bakso Malang tersebut terdiri atas Muhammad Khasyi Athallah, Muhammad Farhan Fahrezy, dan Erika Rahmadina. Mereka merancang inovasi CUAN.AI, sebuah aplikasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dirancang untuk membantu digitalisasi pembukuan sekaligus membuka akses permodalan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya pemilik warung dan toko kelontong.
Ketua tim, Muhammad Khasyi Athallah, mengatakan ide CUAN.AI berangkat dari persoalan yang dihadapi pelaku UMKM dalam mengelola keuangan dan mengakses pembiayaan formal. Menurut dia, banyak pedagang kecil masih mengandalkan pencatatan manual karena aplikasi pembukuan konvensional dianggap merepotkan, terutama ketika aktivitas jual beli sedang ramai.
“Kami melihat persoalan utama UMKM bukan semata-mata tidak memiliki akses teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut benar-benar mudah digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Pemilik warung membutuhkan sistem yang praktis, bukan aplikasi yang justru menambah pekerjaan dengan mengharuskan mereka mengetik setiap transaksi,” ujar Khasyi saat berbincang, Jum’at, 2 Oktober 2026.
Dia menjelaskan, persoalan pencatatan keuangan yang tidak terstruktur berpengaruh terhadap kemampuan UMKM membangun rekam jejak usaha. Padahal, rekam jejak keuangan menjadi salah satu aspek penting ketika pelaku usaha mengajukan pembiayaan kepada lembaga keuangan.
“Kami mengembangkan CUAN.AI sebagai ekosistem digital yang mengintegrasikan empat fitur utama, yakni pencatatan transaksi berbasis suara, manajemen stok melalui foto, asisten pemasaran generatif, serta Skor Kesiapan Kredit Digital,” ungkapnya.
Berbeda dengan aplikasi pembukuan konvensional yang mengandalkan input manual, jelasnya, CUAN.AI memungkinkan pedagang mencatat transaksi melalui suara. Teknologi Speech-to-Text dan Large Language Model (LLM) digunakan untuk mengidentifikasi nama barang, jumlah, dan harga dari ucapan pengguna.
“Data tersebut kemudian diolah menjadi laporan keuangan, termasuk informasi laba-rugi dan rekomendasi barang terlaris,” tegasnya.
Pada fitur pengelolaan stok, tuturnya, teknologi computer vision digunakan untuk menganalisis foto rak atau etalase. Sistem dapat memperkirakan kebutuhan pengisian ulang barang serta memberikan notifikasi ketika persediaan mulai menipis.
“CUAN.AI juga dilengkapi asisten pemasaran berbasis generative AI yang mampu membantu pedagang menyusun materi promosi berupa teks maupun gambar untuk dibagikan melalui WhatsApp,” imbuhnya.
Sementara itu, kata Khasyi, fitur Skor Kesiapan Kredit Digital dirancang untuk mengolah data alternatif, seperti frekuensi transaksi, konsistensi pencatatan, dan tren pertumbuhan omzet. Data tersebut menjadi dasar pembentukan profil kesiapan kredit yang dapat membantu UMKM membangun rekam jejak keuangan digital.
Khasyi menegaskan, keberadaan AI menjadi komponen utama dalam inovasi tersebut. Tanpa teknologi tersebut, CUAN.AI akan kembali menjadi aplikasi pencatatan manual yang tidak mampu memberikan otomatisasi dan analisis prediktif.
“Pengembangan teknologi ini masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan data transaksi riil dari warung serta variasi aksen dan kebisingan lingkungan ketika pengguna melakukan pencatatan melalui suara,” jelas mahasiswa angkatan 2024 itu.
Pada tahap awal pengembangan atau minimum viable product (MVP), lanjutnya, tim memperkirakan akurasi transkripsi berada pada kisaran 70–75 persen. Untuk mengatasinya, mereka merancang mekanisme konfirmasi singkat setelah proses transkripsi guna mengumpulkan data berlabel dari penggunaan nyata.
“Data tersebut selanjutnya akan digunakan untuk penyempurnaan model pengenalan suara secara bertahap, dengan target akurasi di atas 85 persen,” tegasnya.
Setelah meraih Juara 2 nasional, tim Bakso Malang menyiapkan pengembangan CUAN.AI melalui sejumlah tahapan. Dalam enam bulan pertama, mereka menargetkan pembangunan MVP dengan fitur pencatatan suara dan insight dasar, kemudian menyempurnakan manajemen stok visual serta asisten promosi berdasarkan masukan pengguna.
Pada bulan ketujuh hingga kedua belas, tim berencana memperluas implementasi melalui kemitraan dengan lembaga pembiayaan mikro, fintech lending berizin OJK, dan bank penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Dari sisi bisnis, CUAN.AI dirancang menggunakan model freemium dengan opsi berlangganan Rp20.000 per bulan serta potensi pendapatan dari biaya rujukan pembiayaan. Tim menargetkan 10.000 pengguna aktif pada tahun pertama dan mencapai titik impas pada pertengahan tahun kedua.
Adapun nama Bakso Malang dipilih secara sederhana. Salah satu anggota tim menyukai kuliner tersebut ketika berkunjung ke Jawa Timur, sementara kompetisi berlangsung di Surabaya.
Prestasi ini menunjukkan upaya mahasiswa ITPLN dalam mengembangkan teknologi yang tidak hanya berorientasi pada kecanggihan sistem, tetapi juga menjawab persoalan ekonomi masyarakat melalui solusi digital yang aplikatif. (Rama Julian Saputra)
Foto: ITPLN
Resources Asia Energi News Makers