JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi PLN (ITPLN), John Andrew Tampubolon, mengembangkan kendaraan bawah air atau drone bawah air yang dioperasikan dari jarak jauh atau Remotely Operated Vehicle (ROV) dengan sistem komunikasi hybrid, pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) dengan penggerak bersumber dari listrik tenaga surya.
Inovasi ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas lebih besar dalam pengoperasian ROV dengan memanfaatkan surface boat sebagai relay komunikasi antara operator dan kendaraan bawah air.
ROV tersebut mengintegrasikan dua jalur komunikasi, yaitu Radio Frequency (RF) antara operator dan surface boat yang berfungsi sebagai relay, serta RS-485 melalui kabel tether yang menghubungkan surface boat dengan ROV. Sistem tersebut juga dipadukan dengan Relay Solar Powered Surface Boat dan monitoring IoT untuk memantau parameter kelistrikan secara real-time.

John mengatakan gagasan tersebut berangkat dari persoalan yang ditemuinya dalam pengoperasian ROV. Berdasarkan pengamatan terhadap sistem pengoperasian yang menjadi latar belakang penelitiannya, operator masih cenderung bergantung pada laptop dan perangkat komunikasi untuk memantau pergerakan serta menjaga koneksi dengan ROV.
Ketergantungan tersebut membuat mobilitas operator menjadi terbatas karena operator perlu berada di sekitar perangkat komunikasi agar kondisi dan pergerakan ROV tetap dapat dipantau.
“Saya melihat dari beberapa penelitian yang sudah ada, kenapa operator harus selalu standby di laptop untuk melihat pergerakan ROV. Kalau jauh dari perangkat sinyalnya, koneksi bisa hilang,” ujar John saat berbincang, Jum’at, 28 Agustus 2026.

Melalui sistem komunikasi hybrid yang dikembangkan, operator dapat mengoperasikan ROV dari posisi yang lebih jauh dari perangkat komunikasi. Dengan memanfaatkan Relay Solar Powered Surface Boat sebagai perantara komunikasi, operator tidak harus terus berada di dekat perangkat sinyal untuk memantau dan mengendalikan ROV. Selama koneksi antara operator, surface boat, dan ROV tetap terjaga, operator dapat bergerak lebih leluasa tanpa harus terpaku pada perangkat komunikasi.
“Jadi saya bisa mengoperasikan drone bawah air, tetapi bisa jauh dari dronenya dengan menggabungkan protokol komunikasi tadi,” katanya.
John menjelaskan, ROV merupakan kendaraan bawah air yang dikendalikan dari jarak jauh. Perangkat tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan penelitian, pemantauan lingkungan bawah air, hingga pengembangan teknologi kelautan.
Dalam rancang bangunnya, ROV dilengkapi thruster untuk menghasilkan gerakan horizontal dan vertikal. Sistem tersebut memungkinkan kendaraan bergerak maju, mundur, ke kiri, ke kanan, serta naik dan turun sesuai perintah operator.
Penelitian John tidak hanya berfokus pada sistem kendali. Ia juga mengintegrasikan surface boat bertenaga surya yang berfungsi sebagai relay komunikasi sekaligus bagian dari sistem catu daya pendukung.
Dalam penelitian berjudul “Rancang Bangun Remotely Operated Vehicle Underwater Oceanic BVex dengan Integrasi Hybrid Surface-Relay Solar Powered Berbasis Internet of Things (IoT)”, John merancang tiga subsistem utama, yakni komunikasi, catu daya, dan monitoring.
Pada subsistem komunikasi, RF digunakan untuk menghubungkan operator dengan Relay Solar Powered Surface Boat. Selanjutnya, komunikasi antara surface boat dan ROV menggunakan RS-485 melalui kabel tether.
Pada subsistem monitoring, dua sensor INA219 digunakan untuk mengukur tegangan pada sisi panel surya dan sisi beban. Sensor ACS712 30A digunakan untuk mengukur arus pada sisi panel surya, sedangkan sensor ACS758 100A digunakan untuk mengukur arus pada sisi beban. Data hasil pengukuran sensor kemudian diproses oleh Arduino Nano dan diteruskan melalui Set-Top Box (STB) ke sistem monitoring Node-RED untuk ditampilkan secara real-time. Dengan sistem tersebut, kondisi kelistrikan pada sisi panel surya dan beban dapat dipantau secara langsung.
Menurut John, penggabungan sistem tersebut bertujuan meningkatkan fleksibilitas dan efisiensi pengoperasian. Operator tidak perlu terus-menerus berada di dekat perangkat komunikasi hanya untuk menjaga koneksi dan memantau kondisi kelistrikan ROV.
“Operator bisa lebih fleksibel dan lebih leluasa mengoperasikan. Jadi ketika drone masuk ke bawah permukaan air dan panel sudah berada pada posisi operasional di air, operator tidak harus standby di perangkat sinyalnya. Operator tetap dapat mengendalikan dan memantau ROV,” imbuhnya.
John mengungkapkan, salah satu tantangan dalam pengembangan ROV adalah bagaimana mengirimkan data dari kendaraan bawah air secara efektif. Dalam sejumlah penelitian, komunikasi bawah air dikembangkan menggunakan berbagai media, termasuk kabel, gelombang akustik, dan komunikasi optik.
Ia menyebut terdapat penelitian yang mengembangkan metode transmisi alternatif menggunakan laser maupun frekuensi suara. Masing-masing metode memiliki karakteristik dan kebutuhan penerapan yang berbeda.
“Memang ada beberapa penelitian dari luar yang mengembangkan drone bawah air menggunakan laser untuk transmisi data. Ada juga yang menggunakan frekuensi suara. Tetapi teknologi itu masih dalam ruang lingkungan tertentu,” kata John.
Dalam pengembangan ini, John memilih pendekatan komunikasi hybrid dengan mempertimbangkan efisiensi, ketersediaan teknologi, dan kebutuhan operasional ROV. Sistem tersebut menggabungkan RF untuk komunikasi antara operator dan surface boat sebagai relay, serta RS-485 melalui kabel tether untuk komunikasi antara surface boat dan ROV.
Hasil pengujian menunjukkan sistem komunikasi dapat beroperasi pada jarak 5, 10, 15, hingga 20 meter dengan delay yang terukur pada rentang 0–1 milidetik.
Pada pengujian catu daya, panel surya menghasilkan tegangan pada kisaran 13,09–13,10 volt, dengan daya yang terukur berada pada rentang 18,48–41,25 watt. Sistem monitoring mampu menampilkan parameter tegangan dan arus pada sisi panel surya maupun beban secara real-time. Berdasarkan nilai tegangan dan arus yang terukur, sistem juga dapat memantau kondisi daya melalui dashboard Node-RED.
John mengatakan pengembangan tersebut masih dapat diperluas untuk mendukung penelitian bawah air yang lebih kompleks. Ia melihat ROV sebagai salah satu teknologi yang berpotensi mendukung kegiatan pemantauan dan penelitian di lingkungan bawah air.
Penelitian tersebut dibimbing dosen ITPLN, Dr. Ir. Samsurizal, S.T., M.T., IPM. Integrasi komunikasi hybrid, energi surya, dan IoT menjadi bagian penting dalam pengembangan ROV agar kendaraan bawah air tidak hanya mampu bergerak dan dikendalikan dari jarak jauh, tetapi juga dapat dipantau secara lebih terintegrasi.
Bagi John, pengembangan ROV bukan sekadar membangun sebuah drone bawah air. Teknologi tersebut menjadi ruang untuk menggabungkan sistem komunikasi, energi terbarukan, sistem kendali, dan IoT dalam satu perangkat yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan penelitian dan pemantauan bawah air. (Rama Julian Saputra)
Foto: ITPLN
Resources Asia Energi News Makers