Friday , 6 November 2026
Home / ENERGI MINYAK & GAS / PLN EPI Targetkan 10 Juta Ton Biomassa per Tahun, Buka Peluang 150 Ribu Lapangan Kerja Hijau
Keterangan foto: Tongkol jagung merupakan salah satu jenis biomassa yang dimanfaatkan PLN EPI sebagai bahan bakar pembangkit listrik secara berkelanjutan. (Foto/Dok/PLN Enerfi Primer Indonesia)

PLN EPI Targetkan 10 Juta Ton Biomassa per Tahun, Buka Peluang 150 Ribu Lapangan Kerja Hijau

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendorong penguatan ekosistem biomassa nasional untuk meningkatkan pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar pembangkit listrik hingga 10 juta ton per tahun, sekaligus membuka peluang penciptaan 150 ribu lapangan kerja hijau (green jobs). Strategi tersebut dilakukan melalui optimalisasi program cofiring di 52 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PLN Group, pengembangan rantai pasok biomassa berbasis sumber daya domestik, serta penguatan kolaborasi lintas kementerian dan pelaku usaha. Hal ini disampaikan Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir dalam Diskusi Panel Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI) 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta.

Hokkop menjelaskan bahwa peningkatan pemanfaatan biomassa menjadi bagian dari strategi PLN EPI dalam mempercepat transisi energi, mengurangi ketergantungan terhadap batu bara, sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi dari limbah pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Sejak pertama kali diterapkan pada 2020, program cofiring terus berkembang dan hingga 2025 telah diimplementasikan di 52 PLTU dengan total pemanfaatan biomassa mencapai 2,352 juta ton.

“Kalau kita hitung berdasarkan teknologi pembangkit, untuk PLTU dengan teknologi PC kita dorong pemanfaatan biomassa hingga 10 persen, CFB di atas 25 persen, dan stoker di atas 70 persen. Jika seluruh potensi itu dikalkulasikan, kebutuhan biomassa PLN bisa mencapai sekitar 8–10 juta ton,” ujar Hokkop

Menurut Hokkop, peluang peningkatan pemanfaatan biomassa masih terbuka luas melalui optimalisasi teknologi pembangkit yang telah beroperasi. PLN mengoperasikan tiga jenis teknologi pembangkit, yakni pulverized coal (PC), circulating fluidized bed (CFB), dan stoker, yang masing-masing memiliki kemampuan berbeda dalam menyerap biomassa sesuai karakteristik teknologi dan spesifikasi bahan bakar.

Salah satu implementasi optimalisasi tersebut terlihat di PLTU Sanggau, Kalimantan Barat, yang menggunakan teknologi stoker dan telah mampu memanfaatkan biomassa hingga sekitar 73 persen. Bahkan, teknologi tersebut memiliki potensi substitusi batu bara hingga 100 persen apabila kualitas dan karakteristik biomassa memenuhi persyaratan teknis pembangkit.

Untuk mendukung peningkatan pemanfaatan tersebut, PLN EPI terus mendorong penguatan kualitas biomassa, khususnya dari sisi nilai kalor, kadar air, dan karakteristik material. Pengolahan biomassa menjadi produk seperti wood pellet dan wood chip juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesesuaian bahan bakar dengan kebutuhan teknologi pembangkit.

Dari sisi realisasi, pemanfaatan biomassa PLN menunjukkan tren pertumbuhan signifikan dalam lima tahun terakhir. Volume cofiring meningkat dari 9.728 ton pada 2020 menjadi 282.581 ton pada 2021, kemudian 585.663 ton pada 2022, dan 1,006 juta ton pada 2023. Angka tersebut kembali meningkat menjadi 1,624 juta ton pada 2024 dan 2,352 juta ton pada 2025.

Sementara itu, hingga 26 Oktober 2026, realisasi pemanfaatan biomassa mencapai 1,842 juta ton. Sejalan dengan pengembangan program, jumlah jenis biomassa yang dimanfaatkan secara berkelanjutan juga meningkat dari tiga jenis pada 2020 menjadi 18 jenis pada Oktober 2026. Rata-rata nilai kalor biomassa turut meningkat dari 2.520 kilokalori per kilogram menjadi 3.440 kilokalori per kilogram, mencerminkan upaya peningkatan kualitas bahan bakar untuk mendukung optimalisasi pembangkit.

PLN EPI telah mengidentifikasi sekitar 70 jenis biomassa yang pernah diuji atau dimanfaatkan, dengan 18 jenis di antaranya telah memasok secara berkelanjutan ke pembangkit. Jenis biomassa tersebut antara lain tongkol jagung, sekam padi, cangkang sawit, limbah kayu, serta berbagai residu pertanian dan perkebunan.

Meski memiliki potensi sumber daya yang besar, pengembangan biomassa nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari persaingan pasar ekspor, keterbatasan fasilitas pengolahan, tingginya biaya logistik, hingga belum terintegrasinya rantai pasok dari hulu hingga hilir. Karena itu, PLN EPI mendorong penguatan kebijakan yang dapat memberikan prioritas bagi pemanfaatan biomassa untuk kebutuhan energi domestik.

Hokkop mengusulkan agar sekitar 30 persen dari potensi biomassa yang dapat dimanfaatkan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu memperkuat kepastian pasokan bahan baku, meningkatkan skala industri biomassa nasional, sekaligus mendukung pencapaian target pemanfaatan biomassa untuk pembangkit listrik.

“Kami tidak meminta seluruh produksi biomassa dialokasikan untuk PLN. Kami hanya meminta sekitar 30 persen untuk kebutuhan domestik. Dengan alokasi tersebut, pemanfaatan biomassa untuk PLN berpotensi mencapai sekitar 10 juta ton,” katanya.

Lebih dari sekadar substitusi bahan bakar fosil, pengembangan biomassa juga memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi masyarakat dan menciptakan lapangan kerja baru, khususnya di wilayah sentra pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Berdasarkan perhitungan PLN EPI, pemanfaatan biomassa sekitar 2,5 juta ton dapat menghasilkan perputaran ekonomi hampir Rp 4 triliun per tahun. Apabila pemanfaatannya meningkat menjadi 20 juta ton, skala ekonomi yang terbentuk diperkirakan mencapai Rp 11,7 triliun..

Dari sisi manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan, pengembangan ekosistem biomassa juga diproyeksikan berpotensi menghasilkan penerimaan negara sebesar Rp 1,25 triliun, menurunkan emisi hingga 12 juta ton CO₂ ekuivalen, serta menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau. Selain itu, pemanfaatan biomassa berpotensi mengoptimalkan hingga 20 juta ton limbah per tahun menjadi sumber energi yang bernilai ekonomi.

Dampak ekonomi pengembangan biomassa mulai tercermin dari keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok PLN. Saat ini, sekitar 210 perusahaan telah memiliki kontrak aktif sebagai pemasok biomassa. Dengan asumsi setiap perusahaan mempekerjakan sekitar 100 orang, rantai pasok tersebut memiliki potensi penyerapan tenaga kerja hingga 21 ribu orang.

Menariknya, sekitar 70–80 persen perusahaan mitra tersebut berasal dari kalangan pelaku usaha muda di daerah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan biomassa tidak hanya mendukung diversifikasi energi, tetapi juga membuka ruang bagi tumbuhnya kewirausahaan, industri pengolahan, dan aktivitas ekonomi produktif berbasis potensi lokal.

Untuk mempercepat pengembangan ekosistem biomassa nasional, PLN EPI menekankan pentingnya sinergi lintas kementerian dalam menciptakan kebijakan yang mendukung daya saing industri dan keberlanjutan pasokan. Dukungan tersebut mencakup kebijakan harga biomassa yang kompetitif dari Kementerian ESDM, pengaturan tata niaga dan ekspor oleh Kementerian Perdagangan, dukungan pembiayaan dari Kementerian Keuangan, serta percepatan industrialisasi pengolahan biomassa melalui Kementerian Perindustrian.

Selain itu, penguatan infrastruktur transportasi dan efisiensi logistik melalui dukungan Kementerian Perhubungan menjadi faktor penting dalam memastikan biomassa dari sentra produksi dapat disalurkan secara ekonomis dan berkelanjutan menuju pembangkit listrik.

“Kalau seluruh kementerian dan pemangku kepentingan bisa bergerak bersama dalam melihat biomassa dan bioenergi, saya optimistis pemanfaatannya dapat meningkat sesuai kebutuhan, yakni mencapai sekitar 10 juta ton per tahun,” ujar Hokkop.

Ke depan, PLN EPI akan terus memperkuat pengembangan ekosistem biomassa terintegrasi melalui optimalisasi teknologi cofiring, peningkatan kualitas bahan bakar, penguatan rantai pasok domestik, serta pemberdayaan pelaku usaha dan masyarakat di daerah. Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan pengembangan biomassa dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

Melalui pengembangan biomassa sebagai bagian dari bauran energi pembangkit, PLN EPI menegaskan bahwa transisi energi tidak hanya berorientasi pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga menjadi peluang untuk membangun sumber pertumbuhan ekonomi baru berbasis sumber daya domestik. Optimalisasi limbah menjadi energi, penciptaan lapangan kerja hijau, serta penguatan industri biomassa nasional menjadi fondasi dalam mewujudkan ketahanan energi yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus mendukung visi PLN EPI menjadi perusahaan global dalam solusi energi primer terintegrasi. (Rama Julian Saputra)

Foto: Dok PLN EPI

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

MedcoEnergi Umumkan Keberhasilan Penerbitan Obligasi Senilai AS$300 Juta yang Jatuh Tempo pada Tahun 2032

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – PT Medco Energi Internasional Tbk (“MedcoEnergi” atau “Perseroan”) hari ini mengumumkan bahwa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *