Thursday , 22 October 2026
Home / KELISTRIKAN / Pertumbuhan Pusat Data Perlu Diimbangi Perencanaan Sistem Kelistrikan yang Lebih Adaptif
Screenshot

Pertumbuhan Pusat Data Perlu Diimbangi Perencanaan Sistem Kelistrikan yang Lebih Adaptif

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Permintaan listrik untuk pusat data (data centre) di Asia Tenggara termasuk di Indonesia diproyeksikan meningkat empat kali lipat hingga 2035. Meski membuka peluang investasi, ketidakpastian skala, lokasi, dan waktu realisasi beban pusat data berisiko pada pembangunan pembangkit dan jaringan listrik yang berlebihan atau terlalu dini, sehingga diperlukan rencana kelistrikan yang adaptif.

Laporan terbaru Rocky Mountain Institute (RMI) berjudul “The Importance of Data Center Flexibility in Southeast Asia” menyatakan bahwa percepatan pembangunan pusat data perlu diikuti dengan perencanaan kelistrikan yang tepat dan mampu menangani ketidakpastian.  Beban pusat data dapat tumbuh dengan cepat, terkonsentrasi di lokasi tertentu, dan direalisasikan secara bertahap. Karena itu, kapasitas yang diajukan untuk penyambungan ke jaringan listrik belum tentu sama dengan kebutuhan listrik yang langsung terealisasi. Agar investasi sistem kelistrikan dapat mengikuti kebutuhan aktual, diperlukan verifikasi kesiapan proyek, jadwal pembangunan, dan tahapan pemakaian listrik.

Wini Rizkiningayu, Direktur Regional RMI untuk Asia Tenggara menjelaskan bahwa perkiraan kebutuhan listrik pusat data sebaiknya tidak otomatis diterjemahkan menjadi pembangunan pembangkit dan jaringan dalam skala penuh sejak awal. Investasi yang terlambat dapat menghambat proyek kelistrikan, sementara investasi yang terlalu dini atau berlebihan dapat membebani sistem. Hal ini akan menimbulkan risiko aset yang kurang termanfaatkan secara optimal. Perencanaan bertahap, transparansi kebutuhan listrik, dan fleksibilitas beban dapat membantu meringankan risiko tersebut.

“Di Indonesia, cadangan kapasitas yang tinggi dan perjanjian jual beli listrik jangka panjang di sistem Jawa-Madura-Bali menunjukkan pentingnya perkiraan kebutuhan listrik yang adaptif dan keputusan investasi yang bertahap. Komitmen pembelian listrik jangka panjang dapat mengurangi fleksibilitas sistem dalam memenuhi perubahan kebutuhan listrik dan perkembangan teknologi. Namun, pengalaman tersebut tidak berarti bahwa pertumbuhan pusat data akan otomatis menimbulkan kelebihan kapasitas baru. Pelajaran utamanya adalah perlunya menguji kebutuhan investasi melalui beberapa skenario beban sebelum mengambil komitmen jangka panjang,” Wini menjelaskan.

Pemodelan indikatif RMI untuk sistem kelistrikan di Semenanjung Malaysia mengilustrasikan manfaat fleksibilitas sistem. Dalam skenario dasar, sekitar 5 gigawatt (GW) beban pusat data pada 2030 diasumsikan beroperasi 24 jam sehari. Skenario ini bertepatan dengan berakhirnya sebagian perjanjian jual beli listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan berkurangnya kapasitas batu bara. Berdasarkan asumsi sistem kelistrikan yang digunakan dalam model, kombinasi tersebut mendorong kebutuhan tambahan kapasitas pembangkit, termasuk gas dan tenaga surya. Hasil ini menunjukkan penghentian PLTU dan pertumbuhan pusat data tidak otomatis mendorong pembangunan pembangkit gas secara eksklusif.

Sebaliknya, ketika model tersebut mengasumsikan fleksibilitas beban dengan pusat data mengurangi konsumsi pada jam puncak (peak shaving) atau menggeser sebagian beban ke jam lain (load shifting), kebutuhan investasi sistem kelistrikan berubah. Dalam skenario load shifting, fleksibilitas beban berpotensi menghindari atau menunda hingga 800 megawatt (MW) tambahan pembangkit gas. Skenario ini menunjukkan potensi integrasi sekitar 4,6 GW kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baru untuk melayani pertumbuhan beban pusat data dengan biaya sistem lebih rendah daripada skenario beban yang tidak fleksibel.

Temuan ini menunjukkan bahwa kebutuhan investasi sistem kelistrikan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pasokan listrik yang diperlukan, tetapi juga oleh waktu penggunaan dan kemampuan beban untuk menanggapi kondisi sistem. RMI tidak melakukan pemodelan sistem kelistrikan Indonesia dalam laporan ini. Karena itu, angka hasil pemodelan Malaysia tidak dapat dibaca sebagai proyeksi kebutuhan pembangkit Indonesia. Namun, Indonesia dapat mempertimbangkan untuk membandingkan skenario ketika beban pusat data diasumsikan tetap selama 24 jam sehari dengan skenario ketika sebagian beban dapat dikurangi atau digeser pada jam-jam tertentu.

Skema interkoneksi fleksibel dapat menjadi salah satu cara untuk menerapkan pendekatan tersebut. Hal ini tidak berarti seluruh beban pusat data harus dapat dihentikan. Pasokan untuk layanan kritis tetap dipertahankan, sementara sebagian pekerjaan komputasi yang tidak sensitif terhadap waktu dapat dijadwalkan ulang, atau baterai dan sistem energi di lokasi dapat digunakan untuk mengurangi beban jaringan pada sejumlah jam kritis, misalnya ketika terjadi beban puncak atau keterbatasan jaringan setempat. Membandingkan skenario ini dengan sambungan tetap selama 24 jam dapat membantu menilai kebutuhan investasi pembangkit dan jaringan, biaya sistem, serta peluang integrasi energi terbarukan.

“Dengan perencanaan dan insentif yang tepat, pusat data berpotensi mendukung investasi energi hijau, penyimpanan energi, modernisasi jaringan, dan fleksibilitas dari sisi permintaan, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi digital Indonesia. Namun, manfaat tersebut tidak terjadi secara otomatis. Dampaknya akan bergantung pada sumber listrik, efisiensi energi dan air, teknologi pendinginan, pemilihan lokasi, serta pengelolaan dampak terhadap sumber daya dan masyarakat sekitar. Tujuannya bukan memperlambat pertumbuhan pusat data, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut didukung oleh sistem kelistrikan yang andal, terjangkau, dan adaptif, serta tidak memindahkan beban lingkungan ke komunitas lokal,” Wini menegaskan. (Rama Julian)

Foto: Dok

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Dua Tahun Prabowo-Gibran, IESR Desak Pembenahan Pasokan BBM dan Keandalan Listrik

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *