JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Kementerian Perindustrian terus mempercepat langkah transformasi industri nasional menuju target Net Zero Emission (NZE). Pemerintah secara umum menargetkan pencapaian NZE pada tahun 2060, khusus untuk sektor industri justru dipacu lebih cepat untuk mencapainya pada tahun 2050.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, percepatan ini merupakan bentuk komitmen kuat sektor industri dalam mendorong industri hijau sekaligus meningkatkan daya saing global.
“Pemerintah berkomitmen untuk mempercepat transformasi industri menuju rendah karbon. Sektor industri kita targetkan dapat mencapai NZE pada tahun 2050 melalui berbagai langkah strategis yang terukur dan implementatif,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (21/4) lalu.
Menperin menjelaskan, strategi dekarbonisasi industri difokuskan pada upaya reduksi emisi sebagai prioritas utama sebelum memasuki tahap netralisasi emisi. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam menekan jejak karbon industri secara bertahap namun berkelanjutan.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Emmy Suryandari menyampaikan bahwa implementasi strategi dekarbonisasi dilakukan melalui lima pilar utama.
“Strategi ini dilaksanakan melalui lima pilar utama, yaitu efisiensi energi dan bahan baku melalui optimalisasi proses produksi, substitusi bahan bakar dan bahan baku, pembaruan proses produksi menggunakan teknologi yang lebih efisien, elektrifikasi, serta penerapan teknologi Carbon Capture Utilization (CCU),” ungkapnya pada forum internasional INTERCEM Asia 2026 di Jakarta.
Lebih lanjut, sektor industri semen menjadi salah satu fokus utama dalam agenda dekarbonisasi nasional. Indonesia sebagai produsen semen terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas mencapai 121,66 juta ton per tahun memiliki peran strategis dalam upaya penurunan emisi.
Kemenperin sedang menyusun Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Semen sebagai panduan implementasi yang terstruktur. Capaian sektor ini bahkan telah menunjukkan hasil yang sangat bagus, dimana hal tersebut ditunjukkan dengan penurunan clinker factor menjadi 68,1 persen dari baseline 81 persen pada tahun 2010, serta peningkatan penggunaan energi alternatif (Thermal Substitution Rate/TSR) menjadi 12,58 persen dari sebelumnya 3 persen.
Selain itu, emisi spesifik industri semen juga berhasil ditekan menjadi 566,3 kg CO� per ton semen ekuivalen, jauh lebih rendah dibandingkan kondisi awal sebesar 724 kg CO� per ton semen.
Menperin menambahkan, keberhasilan ini tidak terlepas dari sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan asosiasi dalam mendorong implementasi teknologi ramah lingkungan. “Kami optimistis industri nasional, khususnya sektor semen, mampu terus meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya saingnya di pasar global melalui penerapan prinsip industri hijau,” tegasnya.
Di sisi kebijakan, pemerintah juga terus memperkuat ekosistem industri melalui berbagai instrumen strategis, antara lain penerapan wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) semen sesuai Permenperin Nomor 26 Tahun 2024, serta optimalisasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang saat ini telah mencapai kisaran 74,66 persen hingga 98,32 persen di sektor semen.
Transformasi industri juga diperkuat melalui implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0 serta penerapan Standar Industri Hijau (SIH) guna mendorong efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan.
Kemenperin turut mendorong kolaborasi global dalam mempercepat dekarbonisasi industri. Hal ini tercermin dari penyelenggaraan INTERCEM Asia 2026 yang dihadiri lebih dari 300 pelaku industri dari berbagai negara, termasuk Asia, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika. Kegiatan ini akan berlangsung pada 15–16 April dengan agenda pembahasan yang berfokus pada dinamika perdagangan semen dan klinker, aspek pengangkutan dan logistik, serta prospek pasar di kawasan Asia.
Melalui forum ini, Indonesia mempertegas posisinya sebagai mitra strategis dalam pengembangan industri semen global yang lebih tangguh, efisien, dan berkelanjutan. “Kami membuka peluang kerja sama seluas-luasnya dengan mitra internasional untuk mempercepat inovasi dan transformasi industri menuju ekonomi rendah karbon,” katanya.
Bekerja sama dengan ASPERSSI, kegiatan ini terselenggara dengan melibatkan anggota Asosiasi Semen Indonesia bersama produsen semen internasional, pelaku perdagangan, pemilik kapal, broker, serta penyedia jasa logistik dari berbagai negara.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) Lilik Unggul Raharjo mengungkapkan, industri semen Indonesia saat ini tengah mengalami transformasi struktural. Sejak tahun 2015, inudstri semen menghadapi kondisi kelebihan pasokan yang berkepanjangan, sehingga mendorong pergeseran industri dari fase pertumbuhan tinggi dan ekspansi kapasitas menuju lingkungan yang lebih kompetitif, berorientasi pada efisiensi, dan berfokus pada keberlanjutan.
“Pada saat yang sama, kami berkomitmen penuh untuk mendorong dekarbonisasi. Industri ini telah menunjukkan kemajuan signifikan melalui penurunan emisi, peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif, serta penurunan faktor klinker dan terus mempercepat peta jalan menuju target Emisi Nol Bersih pada tahun 2050,” katanya.
Direktur Operasional Konferensi INTERCEM Matt Owen menyampaikan, penyelenggaraan INTERCEM Asia 2026 di Jakarta merupakan bentuk dukungan terhadap penguatan industri semen nasional. “Konferensi ini berlangsung pada periode yang strategis di tengah dinamika ekonomi global dan sektor pelayaran yang penuh tantangan, sehingga forum diskusi yang dihadirkan menjadi sarana penting bagi para pemangku kepentingan dalam merespons perkembangan industri serta memperkuat kolaborasi internasional,” katanya. (RA)
Resources Asia Energi News Makers