Thursday , 30 May 2024
Home / ENERGI MINYAK & GAS / Kenapa Harga Gas Masih Tinggi ?

Kenapa Harga Gas Masih Tinggi ?

Wawancara Eksklusif

Resourcesasia, Jakarta – Produksi minyak dan gas bumi (Migas) Indonesia mendapat banyak sorotan. Banyak kalangan menyebut dengan nada pesimis, bahwa produksi migas bakal terjun bebas karena minimnya penemuan cadangan baru maupun sedikitnya investasi pengeboran serta harga gas yang masih tinggi. Namun semua ini terbantahkan. Kepala Divisi Komersial Gas SKK Migas, Sampe L. Purba membantah isu persoalan harga gas masih tinggi.

Menampilkan 5094.jpg


Saat ini industri-industri di Indonesia membeli gas lebih mahal dibandingkan dengan negara-negara tetangga di ASEAN, pada kisaran harga US$ 9-14 per MMBTU. Untuk perbandingan, harga gas industri di Malaysia US$ 4,47 per MMBTU, Singapura US$ 4-5 per MMBTU, dan Vietnam US$ 7,5 per MMBTU.

Pemerintah sendiri mengaku akan menekan harga gas industri yang terlampau tinggi itu. Pemerintah menargetkan penurunan harga gas industri, di bawah US$ 6 per MMBTU. Kisaran harga tersebut diharapkan, dapat mendekati dan bersaing dengan harga gas di negara-negara tetangga di ASEAN.

Sementara itu, para pelaku industri terus mengeluhkan tingginya harga gas industri di dalam negeri. Tingginya harga gas tersebut, membuat banyak industri tertekan, ditengah perlambatan ekonomi yang sedang terjadi. Jika hal tersebut terus dibiarkan, dikhawatirkan akan membuat daya saing industri lokal kian terpuruk. Selain itu, harga gas tinggi akan membuat investor berpikir ulang, untuk menanamkan investasi di Indonesia.

Kepala Divisi Komersial Gas SKK Migas, Sampe L. Purba menyebutkan Pertama-tama, informasi yang menyebut harga gas di negara tetangga ASEAN adalah lebih mahal dari harga gas di Indonesia, adalah kurang tepat. Data berikut ini menunjukkan sebaliknya.

Menampilkan Wawancara Sampe L Purba Kepala Divisi Komersial Gas-1.jpg


Terlihat dari data di atas bahwa harga rata-rata di tingkat pengguna, di Indonesia adalah $8.30 sedangkan di Malaysia $6.6, dan di Thailand $7.5. Bahkan di Tiongkok $15, Jepang $22.48 dan Korea Selatan $ 13.36. Itu berdasarkan data resmi yang diperoleh Pemerintah dari Perwakilan Negara masing-masing.

Perlu kami sampaikan bahwa, pembandingan dua data harus apple to apple. Luas Wilayah Indonesia yang berbentuk negara kepulauan, serta infrastruktur yang jauh antara lapangan gas dengan pengguna, merupakan salah satu faktor yang sangat signifikan dalam pembentukan komponen harga gas, untuk sampai ke tingkat pengguna.

Bagaimana sebenarnya strategi SKK Migas, menapik soal tingginya harga gas? Sampe L. Purba, Kepala Divisi Komersial Gas SKK Migas bercerita panjang lebar kepada Rama Julian Saputra jurnalis Resourcesasia.id dalam pertemuan akrab di kantornya jelang akhir tahun jumat, 30 Desember 2016. Berikut petikannya. 

1. Banyak pihak menilai harga gas industri di Indonesia saat ini masih tinggi. Menurut SKK Migas, bagaimana melihat harga gas ini? Apakah sudah sesuai? Kalau belum, idealnya seperti apa?

Jawab: Melihat harga gas harus komprehensif, yaitu menyangkut Sisi Pasokan, Infrastruktur transmisi, Trading, dan Pengguna. Beberapa yang harus diperhatikan adalah :

Pasokan Gas ke Industri itu tidak seluruhnya langsung dari Produsen/ KKKS. Tetapi majoritas adalah melalui midstream. Dalam catatan kami, dari 1600 bbtud, hanya 482 bbtud (30%) yang PJBGnya langsung antara hulu dengan end user. Sedangkan sisanya yang 70%, Produser menjualnya ke Midstream (PGN, Pertagas Niaga dan Trader lainnya). Midstream inilah yang menjual gas itu ke industri.

Menampilkan Wawancara Sampe L Purba Kepala Divisi Komersial Gas-2.jpg


Dari sisi infrastruktur, semakin jauh dan sedikit utilisasinya, seperti pipa transmisi dan distribusi, tentu akan semakin besar biaya untuk maintenance per unitnya. Akan halnya di sisi Pengguna, perlu dikritisi dua hal, yaitu, pertama berapa persen sebetulnya komponen gas dalam costnya. Untuk yang feedstock (seperti Pupuk dan Petro Kimia), memang sekitar 70% komponen costnya adalah gas. Sedangkan untuk Industri, seperti tekstil, kertas, keramik, baja, gas adalah sebagai energi atau bahan bakar. Komponen tersebut hanya antara 10 – 30% terhadap total biaya. Artinya, kok kenapa yang menjadi “kambing hitam” adalah harga gas, pada hal komponen gas hanya di 10%an dari total cost ?

Menampilkan Wawancara Sampe L Purba Kepala Divisi Komersial Gas-3.jpg


Yang kedua, apakah dengan volume gas yang sama, apabila dibandingkan utilisasi dan produktivitasnya dengan industri sejenis di luar negeri adalah sama. Dengan kata lain, apakah industri kita lebih boros dalam menggunakan gas baik sebagai bahan baku/ feedstock maupun energi, dibandingkan dengan industri sejenisnya di luar negeri. Inipun perlu dibuka.

Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif dan adil, hendaknya dibuka Struktur Cost itu, baik di sisi hulu, midstream (pipa transmisi distribusi), trader, dan di tingkat Pengguna.

2. Banyak pihak menyatakan bahwa SKK Migas seharusnya bisa memberikan insentif bagi KKKS, agar harga ditingkat hulu bisa lebih rendah. Apakah hal ini sudah dilakukan? Kalau belum, kesulitannya dimana?

Jawab: Hubungan SKKMIGAS dengan KKKS adalah Hubungan Kontraktual berdasarkan PSC. Kalau terkait dengan pemberian insentif, itu sudah diluar KKKS, dan kewenangannya ada pada Pemerintah, dalam hal ini KESDM dan Kementerian Keuangan.

Tetapi perlu disampaikan, KKKS – terutama ketika saat ini harga minyak maupun gas yang rendah, dan oversupply di pasar global – harus juga berusaha mengefisienkan secara internal. Termasuk di dalamnya adalah untuk berani meninjau dan menyesuaikan IRR dan komponen alokasi costnya.

3. Banyak investor berpikir ulang untuk menanamkan investasinya di sektor hulu migas, karena harga migas yang belum membaik. Apakah tidak tertariknya investor ini murni karena harga gas belum membaik, atau ada faktor lain yang membuat harga gas industri masih tinggi?

Jawab: Kalau kita berfikir soal investasi hulu migas, melihatnya harus holistik. Saat ini secara global, terdapat pelemahan sisi demand, sekalipun harga gas rendah. Jadi kesempatan berinvestasi di negara lain juga tidak banyak terbuka. Mungkin lebih baik tidak dikaitkan dengan harga gas yang tinggi., tetapi bagaimana supaya secara domestik kita dapat menumbuhkan demand yang baru/ creating demand.

Ada berbagai cara yang dapat ditempuh, misalnya:

  1. Produsen gas hulu, diminta untuk secara terintegrasi atau melalui konglomerasi dengan grupnya untuk juga berinvestasi di sisi industri pengguna gas. Dengan demikian, ada ketersambungan antara pasokan gas, captive market dan cross subsidi margin.
  2. Pemerintah mendorong timbulnya pengguna gas baru, misalnya mewajibkan Principal Penyuplai Kendaraan Umum ke Indonesia, untuk mengkonversi kendaraan agar berbahan bakar gas. Mereka juga untuk diminta investasi di industri pemasok bahan bakar gas. Transportasi massal, kereta api, atau kapal kapal untuk menggunakan gas.
  3. Infrastruktur terpadu, dan industrialisasi agar diarahkan pembangunannya di sekitar sentra-sentra penghasil gas. Jadi biar industri yang mendekat ke sumber gas.

4. Praktek calo di sektor hulu migas, diduga juga menjadi penyebab tingginya harga gas industri. Berdasarkan pengamatan SKK Migas, praktek calo migas ini seperti apa? Dan berapa besar kontribusinya terhadap peningkatan harga gas dalam negeri? Adakah upaya untuk memotong rantai calo migas ini?

Jawab: Saya kira tidak ada percaloan di tingkat hulu. Persoalannya adalah, produsen gas hulu tidak punya pilihan untuk mengantar gas mendekat ke konsumennya. Pipa transmisi dan distribusi bukan di bawah komando penguasaan hulu. Mau tak mau, apabila pemilik jaringan pipa transmisi juga adalah sekaligus sebagai shipper/ penjual gas, pilihan tidak banyak tersedia bagi hulu. Posisi tawar (bargain positionnya) rendah. Pilihannya adalah, jual kepada pemilik jaringan pipa, atau mungkin diberi akses, tetapi terbatas dan interruptable, serta dengan fee/ ongkos yang mahal. Hal ini juga berlaku untuk LNG. Paling jauh yang dapat dikontrol oleh hulu adalah hingga kapal pengangkut, itupun kalau dealnya adalah ex ship atau CIF. Sementara untuk biaya regasifikasi, transmisi dan distribusi yang besarannya dapat melebihi biaya gas hulu itu sendiri, perlu juga mendapatkan perhatian.

Menampilkan Wawancara Sampe L Purba Kepala Divisi Komersial Gas-4.jpg

5. Menurut SKK Migas, apa-apa saja yang harus dibenahi di tingkat hulu, agar harga gas industri di Indonesia bisa ditekan?

Jawab: Ini pertanyaan yang tidak lengkap. Harusnya anda tanya, apa saja yang perlu dibenahi di sepanjang value chain gas, agar harga terjangkau. Ingat, harga gas di tingkat pengguna, bisa lebih dari dua kali lipat , dibanding harga gas di hulu.

Hulu :

  1. Pemangkasan perizinan dan pembebanan pajak dan pungutan yang memberatkan
  2. Efisiensi hulu, dengan sharing facilities, renegosiasi Kontrak-kontrak, dan peninjauan IRR Kontraktor

Midstream

  1. Pemerintah agar konsisten mengatur konsep unbundling. Transporter jangan merangkap Pembeli Gas harus ada open akses
  2. Untuk yang sifatnya dedicated/ closed access, mengingat sifat infrastruktur yang monopoli alamiah, maka Pemerintah harus hadir menentukan margin yang wajar, disertai kewajiban untuk memperluas jaringan transmisi dan distribusi

Trader

  1. Sedapat mungkin tidak memberikan izin untuk perdagangan bertingkat
  2. Mengassess secara adil dan seimbang, apa itu fasilitas dan trader tanpa fasilitas

End User

  1. Melakukan review menyeluruh terhadap struktur cost dan efisiensi pabrik
  2. Kalau mau diberi subsidi/ pengurangan harga gas harus jelas. Yang mau dituju apakah Perusahaannya, Komoditasnya atau Konsumen Akhir (ultimate customer)nya
  1. Pemerintah menargetkan harga gas industri sebesar US $ 6 per MMBTU. Apakah itu harga yang ideal? Kalau tidak, idealnya berapa menurut SKK Migas?

Jawab: Pemerintah melihat dan mempelajari hal ini secara berimbang. Untuk tahap awal Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri ESDM Nomor. 40/2016 untuk gas tertentu, yaitu Pupuk, Petrokimia dan Baja.

Pemerintah menjaga keseimbangan antara kemampuan daya beli konsumen dalam negeri, harga gas bumi dalam negeri maupun internasional, keekonomian lapangan dan nilai tambah dari pemanfaatan gas bumi di dalam negeri.

Perlu kami informasikan bahwa dalam PerMen tersebut, sesuai dengan formula eksisting, dan dengan penyesuaian ini., harga gas tersebut bervariasi antara $2,85 – $ 7.35 di plant gate.

Kita akan lihat, dan tentu memberi masukan kepada Pemerintah, agar dalam perumusan kebijakan tersebut bersifat komprehensif. Menjaga kontinuitas kegiatan eksplorasi dan produksi di sisi hulu, mendorong kehadiran Pemerintah mengatur sisi midstream, serta mengefisienkan di tingkat end user juga, agar semua tepat sasaran

7. Kalau sekiranya Bapak diminta untuk memberi masukan komprehensif mengenai tata kelola gas secara komprehensif, kira kira apa model tata kelola yang Bapak usulkan?

Jawab: Hee hee.. itu pertanyaan menarik. Pertanyaan yang melampaui Tupoksi. Tapi tidak apa-apa. Kita anggap saja pertanyaan itu ditujukan kepada saya pribadi dan tidak dalam kapasitas mewakili institusi.

Jawaban saya sangat sederhana, tetapi solusinya tidak sederhana, yaitu :

  1. Harus kita pahami bahwa nature industri gas ini tidak memiliki fleksibilitas atau elastisitas yang tinggi baik di sisi supply maupun demand. Karena itu perlu komitmen jangka panjang untuk strategi pengembangan lapangan maupun penggunaannya. Tidak bisa gas hanya digunakan berdasarkan kebutuhan sesaat (peaker atau base load follower).
  2. Sifat infrastruktur gas adalah monopoly by alamiah. Karena itu harus ada pengaturan margin, akses sekaligus perlindungan investasi di midstream
  3. Untuk masa depan, harus didorong demand creation domestik. Kita tidak bisa lagi mengandalkan ekspor di tengah market yang tight. Mendorong domestic demand creation, misalnya dengan :
  • Mendorong penggunaan gas sebagai bahan bakar untuk transportasi (kapal, kereta api, kendaraan umum)
  • Memperluas penggunaan gas skala kecil di daerah terpencil, untuk industri maupun rumah tangga
  • Mendorong konversi gas dari semata mata feedstock dan energi, ke industri derivatif berbahan baku gas, untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi
  • Mendorong adanya Otoritas Gas Nasional, yang bertanggung jawab full untuk mengatur governance Penyediaan Gas, Pembangunan Jaringan Transmisi Gas, Penyerapan Gas domestik, Penyediaan Gas yang terjangkau (accessible), tersedia (available), terbeli (affordable) untuk jangka panjang (sustainable).

Model sederhana berikut dapat menjadi starting point diskusi tata kelola komprehensif.

Menampilkan Wawancara Sampe L Purba Kepala Divisi Komersial Gas-5.jpg

Menampilkan Wawancara Sampe L Purba Kepala Divisi Komersial Gas-6.jpg


Foto: Dok Pribadi

 

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak, oil dan gas bumi (migas), mineral dan batubara (minerba), kelistrikan, energi terbarukan, industri penunjang, lingkungan, CSR, perdagangan dan lainnya.

Check Also

Harumkan Nama Bangsa dan Negara, Inovasi PHE Raih Penghargaan Internasional

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA  – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream Pertamina terus menorehkan prestasi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *