JAKARTA, RESOURCESASIA.ID — Institut Teknologi PLN (ITPLN) dan Institute of Technology PETRONAS (UTP), Malaysia, memperkuat kolaborasi akademik dengan melakukan riset bersama hingga program student Mobility. Kerja sama ini diarahkan untuk mengembangkan inovasi teknologi sekaligus memperluas pengalaman akademik mahasiswa di lingkungan internasional.
Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Master Research Collaboration Agreement (Master RCA) yang ditandatangani langsung oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik ITPLN, Prof. Dr. Susy Fatena Rostiyanti, ST, M.Sc., serta Dekan Pascasarjana dan Penelitian UTP, Prof. Ts. Dr. M Fadzil Hassan pada Selasa, 3 November 2026 di Malaysia.
Prof. Susy mengatakan kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kualitas riset dan membuka peluang pengembangan inovasi melalui kemitraan internasional.
“Kolaborasi dengan UTP menjadi kesempatan bagi ITPLN untuk memperluas jejaring penelitian sekaligus meningkatkan kualitas riset melalui pertukaran keahlian dan pengalaman. Kami harapkan kerja sama ini menghasilkan penelitian yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan industri dan masyarakat,” ujar Susy dalam keterangannya, Kamis, 5 November 2026.
Melalui Master RCA, ITPLN dan UTP menyepakati 10 proyek penelitian yang terdiri atas lima proyek dipimpin peneliti ITPLN dan lima proyek dipimpin peneliti UTP. Penelitian ini mencakup teknologi pertanian cerdas, efisiensi energi, kecerdasan buatan, sistem kelistrikan, hingga pengolahan sampah menjadi bahan bakar. Setiap proyek penelitian akan didanai hingga senilai 5000 USD dengan durasi penelitian 2 tahun.
Lima proyek yang dipimpin ITPLN meliputi optimalisasi irigasi pertanian menggunakan tenaga surya, pengembangan manajemen energi rumah tangga berbasis kecerdasan buatan, prediksi umur kabel DC XLPE menggunakan deep learning, penerapan IoT dan AI untuk efisiensi energi pada pertanian vertikal, serta optimasi produksi Refuse-Derived Fuel (RDF) berbasis analisis data dan karakteristik sampah di kota-kota wisata Indonesia.
Sementara itu, lima proyek yang dipimpin UTP mencakup peningkatan sistem irigasi berbasis teknologi Industri 4.0, pengembangan Cyber-Physical System untuk manajemen energi cerdas, prediksi umur kabel DC XLPE, sistem pengendalian iklim hemat energi pada pertanian vertikal, serta prediksi produksi RDF menggunakan model ensemble dan algoritma optimasi.
Dekan Pascasarjana dan Penelitian UTP, Prof. Ts. Dr. M Fadzil Hassan, mengatakan kerja sama tersebut memberi ruang bagi peneliti kedua institusi untuk menggabungkan kompetensi dan mengembangkan solusi teknologi melalui penelitian bersama.
“Kolaborasi riset ini memungkinkan para peneliti dari UTP dan ITPLN saling melengkapi keahlian. Kami berharap proyek-proyek yang disepakati dapat menghasilkan inovasi yang bermanfaat, memperkuat kapasitas penelitian kedua institusi, serta membuka peluang kerja sama akademik yang lebih luas di masa mendatang,” kata Fadzil.
Penelitian yang dikembangkan mencakup persoalan strategis, mulai dari efisiensi energi dan keandalan sistem kelistrikan hingga pemanfaatan teknologi digital dalam sektor pertanian. Di bidang pengelolaan sampah, riset RDF diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan residu sebagai bahan bakar alternatif melalui pendekatan berbasis data.
Selain Master RCA, kedua institusi juga menandatangani Implementation Agreement untuk program mobilitas mahasiswa serta Agreement for Student Mobility Programme. Kesepakatan ini menjadi landasan pertukaran mahasiswa, termasuk pengaturan status peserta, durasi kegiatan, pembiayaan, akomodasi, dan dukungan akademik selama program berlangsung.
Manajer Bagian Kerja Sama Internasional ITPLN, Nadia Paramita, menjelaskan bahwa implementasi awal program mobilitas melibatkan mahasiswa UTP yang mengikuti kegiatan akademik di ITPLN sebagai institusi tuan rumah. Program itu berlangsung selama tujuh hari, pada 5–12 Oktober 2026 lalu.
“Program mobilitas mahasiswa ini tidak sekadar memberikan pengalaman belajar di kampus berbeda, tetapi juga mempertemukan mahasiswa dengan lingkungan akademik, budaya, dan perspektif baru. Kami ingin peserta dapat membangun jejaring internasional, meningkatkan wawasan, serta membawa pulang pengalaman yang bermanfaat bagi pengembangan diri dan studinya,” kata Nadia.
Dalam pengaturan pembiayaan, mahasiswa peserta tetap membayar biaya kuliah kepada institusi asal. Biaya pribadi, termasuk perjalanan internasional, akomodasi, visa, asuransi, makan, buku, dan kebutuhan lainnya, menjadi tanggung jawab peserta sesuai ketentuan perjanjian. ITPLN sebagai institusi tuan rumah berupaya membantu menyediakan akomodasi serta akses terhadap layanan akademik dan administrasi selama kegiatan.
Melalui kesepakatan tersebut, ITPLN dan UTP menargetkan kolaborasi yang tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi berlanjut pada pelaksanaan riset, pertukaran mahasiswa, dan pengembangan inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri serta tantangan teknologi masa depan. Kerja sama ini sekaligus memperkuat hubungan akademik Indonesia-Malaysia melalui penelitian dan pembelajaran lintas negara. (Rama Julian Saputra)
Foto: Dok ITPLN
Resources Asia Energi News Makers