Tuesday , 2 March 2021
Home / ENERGI MINYAK & GAS / Hingga Pertengahan Mei, Produksi Pertamina EP Capai 101,6% dari Target

Hingga Pertengahan Mei, Produksi Pertamina EP Capai 101,6% dari Target

Resourcesasia.id, Jakarta – PT Pertamina EP, Kontraktor Kontrak Kerja Sama di bawah koordinasi dan supervisi SKK Migas yang juga anak usaha PT Pertamina (Persero), mencatatkan produksi sebesar 256.619 barrel oil equivalent per day (BOEPD) hingga 15 Mei 2018. Capaian produksi tersebut melewati target dalam RKAP 2018 sebesar 249.601 BOEPD atau sekitar 101,61%.

Nanang Abdul Manaf, Presiden Direktur PT Pertamina EP, mengatakan realisasi produksi tersebut terdiri atas produksi minyak sebesar 76.309 barel oil per day (BOPD) atau 96,26% dari target sebesar 79.275 BOPD. Sementara produksi gas mencapai 1.027,29 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). “Produksi gas hingga pertengahan Mei 2018 mencapai 104,10% dari target sebesar 986,82 MMSCFD,” ujar Nanang, Kamis (24/5).

Pertamina EP Asset 5, unit bisnis Pertamina EP yang berbasis di Balikpapan, Kalimantan Timur memberi kontribusi terbesar produksi minyak, yaitu 18.369 BOPD. Produksi ini berasal dari lima field yang berada di bawah pengelola Pertamina EP Asset 5, yaitu Sangatta Field, Bunyu Field, Tanjung Field, Sangasanga Field, dan Tarakan Field. Kontributor terbesar kedua adalah Pertamina EP Asset 2 yang bermarkas di Prabumulih, Sumatera Selatan, sebesar 17.051 BOPD. Pasokan minyak tersebut berasal dari empat field di Pertamina EP Asset 2, yaitu Prabumulih Field, Pendopo Field, Limau Field, dan Adera Field.

Sementara produksi gas nomor satu berasal dari Pertamina EP Asset 2. Total gas yang dihasilkan sebesar 442 MMSCFD, jauh lebih tinggi dibandingkan kontribusi dari Pertamina EP Asset 3 yang berbasis di Cirebon, Jawa Barat sebesar 292 MMSCFD. Pasokan gas Pertamina EP Aset 3 berasal dari tiga field, yaitu Tambun Field, Subang Field, dan Jatibarang Field.

Untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan produksi migas, Pertamina EP menyelesaikan program pemboran dan work over (WO) serta melaksanakan program rencana kerja operasi sumur. Selain itu, perusahaan juga melakukan rencana pemulihan (recovery plan) untuk mencapai target produksi.

Nanang menjelaskan, sepanjang Januari-Maret 2018, Pertamina EP membukukan pendapatan sebesar US$ 675 juta. “Pencapaian pendapatan ini 115% dari realisasi pendapatan tahun sebelumnya US$ 586 juta (year-on-year),” ujarnya.

Raihan pendapatan ini juga ditopang oleh mulai naiknya harga minyak global dan kebijakan efisiensi perusahaan. Salah satunya adalah menekan biaya produksi. Secara total, biaya produksi (production cost) minyak per Maret 2018 untuk onshore adalah sekitar US$ 15,98 per barel, gas US$ 1,03 per MSCF dan migas US$ 8,96 per MSCF. “Untuk lapangan offshore, salah satunya ada di Field Poleng, biaya produksinya hingga akhir Maret sebesar US$ 10,47 per barrel, gas US$ 1,81 per MSCF, dan migas US$ 10,47 per MSCF,” kata Nanang.

Dia juga menegaskan, Pertamina tahun ini mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 330 juta. Sementara itu belanja operasi (operational expenditure/opex) sebesar US$ 1.648 juta. “Dana itu dialokasikan untuk kegiatan eksplorasi, pengembangan, produksi, serta General & Administration (G&A),” ujarnya.

Hingga pertengahan Mei 2018, Pertamina EP telah merealisasikan belanja modal (capex) sebesar US$ 122 juta, terutama untuk pemboran sebesar US$ 83 juta dan US$ 39 juta untuk surface facilities(pembangunan, upgrading, dan overhaul). Sedangkan realisasi opex sebesar US$ 359 juta, terutama digunakan untuk mendukung kegiatan operasi perusahaan, antara lain kegiatan eksplorasi dan eksploitasi.

Lapangan Sukowati
Terkait pengelolaan lapangan Sukowati di Jawa Timur, pengelolaan lapangan tersebut dilakukan oleh Pertamina EP Asset 4 yang berbasis di Blora, Jawa Tengah. Chalid Salim Said, Direktur Operasi dan Produksi Pertamina EP, berharap Pertamina EP dapat menaikkan produksi Sukowati dengan langkah-langkah yang akan ditempuh dengan program antara lain percepatan rencana kerja dengan menambah jumlah rig, melakukan kajian teknologi baru, dan melakukan pemboran produksi atau pun sumur injeksi.

Menurut Chalid, ada dua langkah strategis yang disiapkan Pertamina EP terkait alih kelola lapangan Sukowati dari Joint Operating Body (JOB) Pertamina Petrochina East Java (PPEJ). Dalam jangka pendek,Pertamina EP akan menghidupkan kembali sumur-sumur yang mati, perbaikan artificial lifting, optimasi production facility, reparasi sumur, dry docking Floating Storage Offloading Cinta Natomas, dan penyelesaian POD Phase 6 Sukowati. “Dalam jangka panjang, kami merencanakan POD Phase 6 Sukowati,” katanya.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2800/13/MEM.M/2018 tanggal 17 Mei 2018, lapangan Sukowati yang sebelumnya dioperatori oleh JOB PPEJ, pada 20 Mei 2018 diserahkan pengelolaannya kepada Pertamina EP. Menteri ESDM Ignasius Jonan menunjuk Pertamina EP menjadi operator baru lapangan Sukowati serta fasilitas produksi Central Processing Asset Mudi, Palang Station sampai dengan FSO Cinta Natomas.(RJS)

Foto: Dok Resourcesasia.id

Check Also

Pertashop Perdana di Sultra, Warga Horodopi Koltim Tak Lagi Mahal Beli BBM

RESOURCESASIA.ID, KOLAKA TIMUR – Haru dan bahagia, itulah yang dirasakan Safruddin (49) warga Kelurahan Horodopi, …

Leave a Reply