KARAWANG, RESOURCESASIA.ID – Gas yang mengalir dari perut bumi Karawang tak lagi sekadar lewat. Di Cilamaya, gas itu kini diolah menjadi sekitar 160 ton LPG setiap hari, cukup untuk memenuhi 10-15 persen kebutuhan LPG warga Jawa Barat dan DKI Jakarta. Di tengah impor LPG yang masih mencapai 7-8 juta ton per tahun, kilang berskala kecil ini menjadi salah satu cara pemerintah memperkuat pasokan dari dalam negeri.
Kilang milik PT Energi Nusantara Perkasa (ENP) itu diresmikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Kamis (15/10). Kilang ini mengolah gas dari Pertamina Hulu dengan kapasitas pengolahan terpasang 40 MMSCFD dan menyerap 82 tenaga kerja.
“Kita berangkat dari hal kecil untuk mencapai hal besar. Kecil gak apa-apa, tapi kalau ada beberapa titik yang seperti ini dikumpulkan, besar juga,” ujar Bahlil.
Bahlil menjelaskan, sumber bahan baku LPG di Indonesia tidak tersebar merata. Karena itu, kilang skala kecil dan menengah di titik-titik sumber gas menjadi penting, dan pemerintah akan terus menggalakkan pembangunan kilang serupa.
Langkah ini berangkat dari tingginya ketergantungan pada impor. Konsumsi LPG nasional mencapai 8,5 juta ton per tahun, atau 11-12 juta ton jika ditambah kebutuhan industri petrokimia di Cilegon. Sementara itu, kapasitas produksi dalam negeri tidak lebih dari 1,8 juta ton per tahun.
Beban subsidinya pun besar. Saat harga minyak Indonesia (ICP) berada di kisaran 70 dolar AS per barel, subsidi LPG mencapai Rp87 triliun. Dengan ICP di kisaran 90-100 dolar AS per barel, angkanya mendekati Rp100 triliun.
Bahlil menilai ketidakpastian geopolitik dalam hampir tiga tahun terakhir mendorong banyak negara memperkuat energi dari dalam negeri, dan Indonesia harus mengoptimalkan seluruh potensinya. Tantangannya, gas bahan baku LNG yang dimiliki Indonesia sebagian besar berupa C1 dan C2, yang tidak cocok diolah menjadi LPG.
Untuk itu, Bahlil meminta Lemigas dan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi menyiapkan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif LPG. CNG memakai gas C1 dan C2 yang melimpah di dalam negeri, dengan harga disebut 30-40 persen lebih murah. Tabung CNG 12 kilogram sudah digunakan, sedangkan tabung 3 kilogram masih diuji.
“Kalau itu mampu kita adakan, maka impor kita yang 8 juta ton per tahun itu kita bisa selesaikan dengan kebutuhan yang ada dalam negeri kita,” kata Bahlil.
Bahlil juga meminta jajarannya mempercepat perizinan bagi pelaku usaha skala menengah. “Jangan hanya ngurus perusahaan yang besar-besar, yang menengah juga diurus,” tegasnya. Izin yang persyaratannya sudah lengkap diminta selesai paling lama dalam satu minggu.
Kehadiran Kilang LPG Cilamaya diharapkan memperkuat pasokan LPG domestik sekaligus membuktikan bahwa sumber gas berskala kecil pun dapat dioptimalkan untuk mendukung kemandirian energi nasional. (RA)
Foto: KESDM
Resources Asia Energi News Makers