JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – ENTREV (Enhancing Readiness for the Transition to Electric Vehicles in Indonesia) menggelar workshop bertema Pengarusutamaan Perempuan dalam Ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di Jakarta, Rabu (28/1). Kegiatan ini melibatkan pemangku kepentingan lintas sektor mulai dari pemerintah, mitra pembangunan, akademisi, hingga komunitas, sebagai upaya mendorong transisi kendaraan listrik yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan, dengan menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam keseluruhan rantai ekosistem.
Workshop ini menjadi ruang dialog strategis untuk membahas peran perempuan tidak hanya sebagai pengguna kendaraan listrik, tetapi juga sebagai pengambil keputusan, pelaku usaha, serta aktor kebijakan. Melalui forum ini, ENTREV menegaskan bahwa transisi menuju mobilitas rendah emisi tidak semata soal teknologi, melainkan juga menyangkut kesiapan sosial dan tata kelola yang responsif terhadap kebutuhan seluruh kelompok masyarakat.
Berdasarkan data komunitas Wuling Electric Vehicle Indonesia (WEVI) hingga 2025, mencatat bahwa perempuan mencakup sekitar 25 persen dari total 3.500 anggota komunitas kendaraan listrik di Indonesia, sementara 75 persen lainnya laki-laki. Capaian ini mencerminkan meningkatnya partisipasi perempuan sebagai pengguna aktif sekaligus penggerak komunitas kendaraan listrik, serta menunjukkan terbukanya ruang yang semakin luas bagi perempuan untuk terlibat dalam pengembangan ekosistem KBLBB yang inklusif dan berkelanjutan.

Nasrullah Salim, National Project Manager ENTREV mengungkapkan bahwa workshop ini sebagai komitmen bersama untuk memperkuat partisipasi perempuan sebagai elemen kunci dalam pengembangan ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.
“Workshop ini menegaskan dedikasi penuh untuk memperluas ruang partisipasi perempuan dalam ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Pelibatan perempuan menjadi kunci dalam ekosistem KBLBB ini, mengingat peran strategisnya dalam pengambilan keputusan terkait energi, baik di tingkat rumah tangga maupun transportasi. Karena itu, keterlibatan perempuan perlu terus diperkuat agar pengembangan kendaraan listrik di Indonesia berlangsung lebih inklusif dan berkelanjutan” pungkas Eriell.
Lebih lanjut, ENTREV memaparkan bahwa proyek ini dijalankan untuk mendukung kesiapan kebijakan, kelembagaan, dan teknis pemerintah Indonesia dalam mendorong adopsi kendaraan listrik. Selama periode implementasinya, ENTREV juga mendorong model bisnis inovatif di sektor transportasi yang berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca sekaligus membuka peluang ekonomi baru, termasuk bagi perempuan.
“Perempuan saat ini berperan di berbagai lini, mulai dari pembuat kebijakan, pelaku usaha, pengguna, hingga pengambil keputusan dalam aktivitas sehari-hari di tingkat rumah tangga. Karena itu, keterlibatan dan penguatan partisipasi perempuan menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) yang inklusif dan berkelanjutan” Ujar Duwi Pratiwi, Project Coordinator ENTREV
Pandangan ini menegaskan bahwa keterlibatan perempuan tidak hanya memperkaya perspektif dalam pengembangan KBLBB, tetapi juga memperkuat kualitas kebijakan dan implementasi di lapangan agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Perempuan memiliki pengaruh yang signifikan dalam proses pengambilan keputusan, baik di tingkat mikro maupun makro. Selain itu, perempuan juga berperan sebagai pendorong lahirnya kebijakan dan pendekatan baru yang lebih adaptif, fleksibel, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, sehingga keterlibatan perempuan menjadi elemen penting dalam memperkuat pengembangan ekosistem Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) ini” Kata Jasmine Andini, Koordinator Humas WEVI
Dengan demikian, Workshop ini sekaligus menekankan bahwa keterlibatan perempuan mampu memperkuat keberlanjutan ekosistem KBLBB, baik dari sisi adopsi teknologi, pengembangan usaha, maupun perubahan perilaku mobilitas. Dengan perspektif yang lebih inklusif, transisi energi di sektor transportasi diharapkan tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang lebih merata. (Rama Julian)
Foto: ist
Resources Asia Energi News Makers