JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – ENTREV (Enhancing Readiness for the Transition to Electric Vehicles in Indonesia) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Menjawab Tantangan Penguatan Ekosistem KBLBB di Indonesia melalui Skema Pembiayaan Inovatif” di Jakarta (13/02/26).
Forum ini mempertemukan perwakilan kementerian/lembaga, pelaku industri, asosiasi, lembaga keuangan, dan mitra pembangunan untuk membahas kebutuhan pembiayaan yang adaptif dan berkelanjutan guna mempercepat pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB). Diskusi ini menjadi langkah strategis untuk menjembatani tantangan investasi, memperkuat daya saing industri nasional, sekaligus memastikan transisi menuju transportasi rendah emisi berjalan lebih terstruktur dan inklusif.
Patia Junjungan Maningdo, Ketua Tim Kerja Industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) Kementerian Perindustrian menyampaikan bahwa perkembangan industri kendaraan listrik nasional menunjukkan arah yang semakin baik.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian mencatat bahwa total populasi KBLBB nasional per Desember 2025 telah mencapai 333.561 unit, dengan laju pertumbuhan majemuk (CAGR) lebih dari 143% dalam lima tahun terakhir. Sepeda motor listrik menjadi kontributor terbesar dengan 225.647 unit, disusul mobil listrik penumpang sebanyak 106.137 unit. Dari sisi pasar roda empat, pangsa Battery Electric Vehicle (BEV) meningkat signifikan dari 0,08% pada 2021 menjadi 12,93% pada 2025, mencerminkan akselerasi adopsi kendaraan listrik di dalam negeri.

Nasrullah Salim menyampaikan bahwa momentum pertumbuhan ini perlu diimbangi dengan dukungan pembiayaan yang inovatif dan terintegrasi agar ekosistem KBLBB nasional semakin kokoh dari hulu hingga hilir.
“Pertumbuhan KBLBB yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa arah kebijakan sudah berada di jalur yang tepat. Tantangan berikutnya adalah memastikan dukungan pembiayaan yang lebih adaptif, terjangkau, dan mampu menjawab kebutuhan pelaku usaha, sehingga potensi efisiensi dan manfaat ekonominya benar-benar dapat dirasakan secara luas. Melalui FGD ini, kami ingin merumuskan solusi yang konkret dan aplikatif bersama seluruh pemangku kepentingan” pungkas Nasrullah Salim, ENTREV National Project Manager.
Lebih lanjut, FGD ini juga menyoroti kesiapan industri dalam memenuhi target peningkatan TKDN sebagaimana tercantum dalam roadmap pemerintah, termasuk target minimum 60% untuk kendaraan roda empat pada 2027. Hal tersebut membutuhkan investasi berkelanjutan pada sektor manufaktur baterai, komponen utama, hingga infrastruktur pengisian daya. Karena itu, sinergi antara pemerintah, industri, dan lembaga pembiayaan menjadi faktor penentu agar target tersebut realistis dan dapat dicapai tepat waktu.
“FGD ini menjadi momentum penting bagi masa depan kendaraan listrik. Ketika aspek pembiayaan dapat diselesaikan dengan skema yang tepat dan kompetitif, kami yakin penjualan kendaraan listrik akan meningkat lebih pesat. Dukungan finansial yang terstruktur akan memberikan kepastian bagi pelaku industri untuk memperluas kapasitas produksi dan meningkatkan kualitas produk” ujar Peter Kho, Vice Secretary General Indonesia Electric Motorcycle Industry Association (AISMOLI)
Sebagai hasil diskusi, pada FGD ini merumuskan empat rekomendasi utama. Pertama, memperkuat ekosistem pembiayaan dan pasar sekunder kendaraan listrik melalui pengembangan skema kredit berbasis Total Cost of Ownership (TCO), standardisasi valuasi resale value, serta opsi penjaminan pembiayaan B2B oleh pemerintah daerah guna meningkatkan kepercayaan lembaga keuangan.
Kedua, menerapkan pendekatan yang berorientasi pada pengguna (user-centered), termasuk penyelarasan standar infrastruktur pengisian roda dua, ketersediaan fast charging dan battery swapping, penguatan model Battery-as-a-Service (BaaS), serta dukungan peningkatan daya listrik rumah tangga bagi mitra pengemudi.
Ketiga, mempercepat kesiapan industri domestik dan layanan purna jual melalui transisi produksi dari CBU ke CKD, penguatan rantai pasok baterai untuk memenuhi target TKDN, penetapan standar minimum garansi baterai armada komersial, serta integrasi kurikulum kendaraan listrik di SMK dan sertifikasi teknisi nasional.
Keempat, membangun kesiapan ekosistem kredit karbon yang berintegritas melalui skema agregasi kredit karbon untuk armada dan infrastruktur kendaraan listrik, sehingga manfaat penurunan emisi dapat dimonetisasi secara efisien dan selaras dengan target NDC nasional.
Oleh karena itu, melalui FGD ini ENTREV menegaskan komitmennya untuk menjadi katalis dialog dan kolaborasi lintas sektor dalam merumuskan solusi pembiayaan yang konkret, aplikatif, dan berkelanjutan. Dengan fondasi pembiayaan yang kuat, penguatan ekosistem KBLBB nasional tidak hanya akan mendorong pertumbuhan industri, tetapi juga mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu pemain strategis dalam transisi energi dan mobilitas rendah emisi di kawasan Asia Tenggara. (Rama Julian Saputra)
Foto: Dok ENTREV
Resources Asia Energi News Makers