MANILA, RESOURCESASIA.ID – Seiring dengan penyerahan ke ketuaan ASEAN dari Filipina kepada Singapura pada tahun 2027, ASEAN harus menjaga kesinambungan kebijakan dan momentum jangka panjang bagi berbagai inisiatif regional utama, khususnya ASEAN Power Grid (APG) beserta pembiayaannya melalui ASEAN Power Grid Financing Facility (APGF), Kerangka Kerja Kabel Listrik Bawah Laut, dan perdagangan listrik lintas batas.
Marlistya Citraningrum, Direktur Komunikasi dan Penjangkauan, IESR, mengatakan dalam memajukan implementasi APG, kerja sama regional perlu menempatkan energi terbarukan sebagai solusi atas tantangan ketahanan energi. Konektivitas listrik yang lebih luas dapat memperkuat ketahanan, mendiversifikasi pasokan energi, dan mempercepat integrasi energi terbarukan lintas batas. ASEAN juga perlu memperdalam kerja sama dalam rantai nilai energi bersih, termasuk teknologi energi terbarukan dan penyimpanan energi, guna meningkatkan daya saing jangka panjang kawasan serta mengurangi kerentanan terhadap gangguan pasokan dari luar.
Untuk menjembatani ambisi dan pelaksanaan, ASEAN perlu berfokus pada empat prioritas strategis:
- Membangun Pipeline Proyek Energi Bersih yang Layak Secara Finansial (Bankable): Mengembangkan proyek-proyek siap investasi yang mencakup energi terbarukan, penyimpanan energi, fleksibilitas sistem, dan transmisi lintas batas. Peningkatan skala pipeline ini memerlukan regulasi yang transparan, persiapan proyek yang lebih kuat, serta perencanaan investasi regional yang terkoordinasi.
- Membentuk Mekanisme Pembiayaan Regional Khusus: Mempercepat pembentukan dana pembiayaan yang dikelola ASEAN, di samping APGF. Mekanisme semacam ini dapat memitigasi risiko proyek strategis, memobilisasi modal publik dan swasta, serta memberikan dukungan berkelanjutan bagi investasi energi bersih dan konektivitas regional.
- Memperkuat Ketahanan Energi melalui Sumber Energi Terbarukan Lokal: Memperkuat ketahanan energi kawasan dengan memperluas akses terhadap sumber energi terbarukan domestik dan regional, memodernisasi jaringan listrik, serta meningkatkan ketahanan sistem, sehingga mengurangi kerentanan terhadap volatilitas harga bahan bakar fosil dan gangguan pasokan.
- Menyelaraskan Konektivitas dengan Transisi Bahan Bakar Fosil: Interkoneksi listrik regional harus memungkinkan integrasi energi terbarukan berskala besar dan mendukung jalur jangka panjang ASEAN untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sembari memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat secara aman dan terjangkau.
“Mewujudkan ambisi transisi energi ASEAN menjadi hasil nyata akan memerlukan pembiayaan berkelanjutan, koordinasi regional yang lebih kuat, dan kesinambungan kebijakan di berbagai masa ke ketuaan yang silih berganti”, terang Marlistya. (RA)
Foto: Dok IESR
Resources Asia Energi News Makers