BOJONEGORO, RESOURCESASIA.ID — PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB) memperkuat sinergi dengan masyarakat sekitar wilayah operasinya dalam rangka mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Sosialisasi Keamanan dan Keselamatan Fasilitas Lapangan Gas JTB yang menyasar para petani penggarap lahan hutan atau pesanggem di sekitar Gas Processing Facility (GPF) JTB, Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, pada 28 Agustus 2026.
Kegiatan yang diikuti puluhan peserta tersebut menjadi bagian dari langkah preventif PEPC Lapangan JTB untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai risiko pembakaran lahan, sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menjaga keamanan dan keselamatan fasilitas operasi JTB yang merupakan bagian dari Objek Vital Nasional (Obvitnas) di sektor energi.
Upaya ini juga sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap pencegahan dan penanganan Karhutla di berbagai wilayah Indonesia. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan pentingnya penanganan Karhutla secara serius dan terpadu, mengingat dampaknya terhadap keselamatan masyarakat, kesehatan, lingkungan, serta aktivitas sosial dan ekonomi.

Deputy Field Manager JTB Andy Suhendro mengatakan, pelibatan masyarakat menjadi kunci dalam mencegah potensi kebakaran sejak dini, terutama karena sebagian masyarakat masih menggunakan metode pembakaran untuk membersihkan lahan sebelum musim tanam. “Kami ingin mengubah cara pandang bahwa membakar lahan bukanlah solusi untuk membersihkan lahan karena api dapat dengan mudah menyebar dan menjadi kebakaran yang tidak terkendali, terlebih ketika lokasinya berada di sekitar fasilitas operasi,” ujar Andy.
Menurut Andy, pencegahan Karhutla bukan hanya terkait perlindungan lingkungan, tetapi juga merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan masyarakat dan keandalan operasi fasilitas JTB. “Karena itu, kami mengajak para pesanggem menjadi bagian dari sistem pencegahan. Ketika masyarakat memahami risikonya dan mengetahui apa yang harus dilakukan, potensi kejadian dapat kita cegah bersama sejak awal,” tambahnya.
Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, sesi penyuluhan ini menghadirkan narasumber dari berbagai pemangku kepentingan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro memberikan materi mengenai pencegahan dan mitigasi Karhutla, termasuk langkah-langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi potensi kebakaran.
Sementara itu, Perum Perhutani melalui Administratur (ADM) KPH Bojonegoro memberikan edukasi mengenai pengelolaan lahan hutan serta penerapan praktik pertanian tanpa bakar sebagai alternatif dalam mempersiapkan lahan sebelum musim tanam. Dari aspek keamanan dan penegakan hukum, pihak Kepolisian turut memberikan pemahaman mengenai ketentuan hukum serta konsekuensi dan sanksi terhadap praktik pembakaran hutan dan lahan.

Fungsi HSSE Operation PEPC Lapangan JTB melengkapi kegiatan dengan memberikan pemahaman mengenai fasilitas operasi di JTB, potensi risiko di sekitar fasilitas, aspek keamanan fasilitas, serta mekanisme pelaporan apabila terjadi kondisi atau kejadian darurat. Kegiatan ini turut melibatkan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat sebagai bagian dari penguatan kolaborasi multipihak dalam pencegahan Karhutla.
Sebagai bentuk komitmen bersama, seluruh peserta menandatangani pakta integritas pencegahan Karhutla. Pakta tersebut menjadi simbol kesepakatan bersama untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta turut menjaga kawasan hutan di sekitar wilayah operasi dari potensi kebakaran.
Tidak berhenti pada edukasi, PEPC juga memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dengan menyerahkan secara simbolis alat pompa punggung pemadam kebakaran lahan kepada perwakilan kelompok petani hutan. Peralatan tersebut diharapkan dapat mendukung upaya penanganan awal apabila terjadi potensi kebakaran di sekitar area aktivitas masyarakat.
Andy menegaskan, kolaborasi dengan masyarakat merupakan bagian dari pendekatan preventif PEPC dalam menjalankan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE). “Kami percaya bahwa menjaga keselamatan fasilitas dan lingkungan tidak dapat dilakukan sendiri. Diperlukan kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, dan pengelola kawasan hutan. Ketika semua pihak memiliki kepedulian yang sama, pencegahan akan jauh lebih efektif,” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, PEPC berharap terbentuk kesadaran kolektif di kalangan masyarakat untuk mencegah pembakaran lahan serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi Karhutla. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen PEPC JTB Field untuk menjaga keberlangsungan operasi di Lapangan Jambaran-Tiung Biru, melindungi lingkungan, serta membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi melalui kolaborasi yang berkelanjutan. (Rama Julian Saputra)
Foto: Dok PEPC JETB
Resources Asia Energi News Makers