Wednesday , 14 January 2026
Home / ENERGI HIJAU / AS Keluar dari UNFCCC, Indonesia Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi

AS Keluar dari UNFCCC, Indonesia Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID Keputusan Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump untuk menarik diri dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC) tidak semestinya menyurutkan komitmen iklim dan transisi energi Indonesia. Selain Amerika Serikat, Indonesia berpeluang membangun kerja sama pembiayaan bilateral dengan negara-negara belahan bumi selatan (Global South) untuk melanjutkan, bahkan memperkuat komitmen iklim dan transisi energi.

Dino Patti Djalal, Ketua sekaligus Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) mengatakan, meski pihaknya menyayangkan keputusan AS keluar dari UNFCC dan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), namun langkah tersebut tidak mengurangi urgensi krisis iklim dan tidak juga membebaskan komunitas internasional dari tanggung jawab bersama untuk menangani permasalahan tersebut. Negara-negara kekuatan menengah (middle power) di dunia, termasuk Indonesia, justru harus melipatgandakan peran dan upaya saat ini untuk melanjutkan komitmen pemangkasan emisi.

“Aksi iklim Indonesia tidak dapat dibandingkan dengan politik domestik satu negara saja. Indonesia harus terus memberikan aksi nyata, mulai dari meningkatkan energi terbarukan dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, hingga melindungi hutan dan lautan serta mencapai net-zero, idealnya pada 2050. Jalan menuju masa depan yang tangguh tidak akan dipimpin oleh kemunduran, tetapi oleh mereka yang bersedia memimpin bersama,” kata Dino.

Agung Budiono, Direktur Eksekutif CERAH mengatakan, tidak dapat dipungkiri keluarnya AS dari UNFCCC berpotensi mempersempit ruang pendanaan aksi iklim dan transisi energi, termasuk berbagai skema kerja sama multilateral dan kemitraan kolektif. Sebelumnya AS juga sudah digantikan Jerman sebagai co-lead di Just Energy Transition Partnership (JETP) Indonesia. Berkurangnya komitmen negara maju akan berdampak langsung pada ketersediaan pembiayaan murah dan dukungan internasional yang sangat dibutuhkan negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk menurunkan ketergantungan pada energi fosil.

“Namun demikian, pelemahan kerja sama multilateral tidak serta-merta menutup seluruh ruang kerja sama internasional bagi Indonesia. Indonesia masih memiliki peluang besar untuk mendorong dan memperluas kerja sama bilateral  dengan negara-negara di Global South dan Timur Tengah –seperti Mesir, Kuwait, dan Maroko– dalam pengembangan energi terbarukan, efisiensi energi, dan penguatan kapasitas transisi energi,” kata Agung.

Menurut Agung, Indonesia tidak seharusnya menjadikan Amerika Serikat sebagai rujukan utama dalam menentukan arah kebijakan iklim dan transisi energi di tanah air. Berkaca dari dampak krisis iklim di dalam negeri yang semakin merusak, seperti banjir ekstrem di Aceh, Sumatera Utara, dan berbagai wilayah lainnya, pemerintah seharusnya memperkuat aksi mitigasi dan adaptasi iklim yang konsisten.

“Arah kebijakan nasional harus tetap konsisten dengan target penurunan emisi, pengurangan ketergantungan pada energi fosil, serta perlindungan masyarakat yang paling rentan terhadap dampak krisis iklim. Jangan sampai ketika komitmen Amerika Serikat terhadap isu ini melemah atau terhenti, Indonesia justru ikut mundur hanya karena AS merupakan salah satu mitra penting Indonesia,” Agung melanjutkan.

Selain kerja sama bilateral, penguatan kolaborasi South-South juga semakin krusial. Agung menambahkan, Indonesia memiliki peran strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam kerangka BRICS+, yang bisa menjadi alternatif penting untuk pertukaran teknologi pembiayaan alternatif dan praktik baik transisi energi yang lebih adil dan setara. (Rama Julian)

Foto: ilustrasi dok Pertamina

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Dukung Ketahanan Energi Nasional, Pertagas Perkuat RDMP Balikpapan melalui Pipa Gas Senipah–Balikpapan

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah meresmikan operasional Refinery Development Master Plan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *