Friday , 5 June 2026
Home / TAMBANG MINERAL & BATUBARA / Harita Nickel Akan Bangun PLTS 40 MWp di 2024 Demi Transisi Energi
Direktur Health, Safety, and Environment PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) Tonny Gultom menyampaikan materi dalam kegiatan Mining for Journalist Workshop ke-2 di Cerita Rasa Nusantara, Jakarta, Kamis (29/02/2024)

Harita Nickel Akan Bangun PLTS 40 MWp di 2024 Demi Transisi Energi

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Direktur Health, Safety, and Environment PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) Tonny Gultom mengatakan perseroan akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap dengan kapasitas sebesar 40 Megawatt Peak (MWp) pada tahun 2024 ini.

Kapasitas 40 MWp tersebut merupakan tahap awal dari target pembangunan PLTS Atap perseroan yang sebesar 300 MWp, sebagai upaya transisi energi untuk mengurangi emisi karbon.

“Jadi PLTS yang 40 Megawatt Peak (MWp) benar kita akan bangun tahun ini. Sebesar 40 MWp itu dari rencana 300 MWp,” ujar Tonny dalam kegiatan Mining for Journalist Workshop ke-2 di selenggarakan oleh PERHAPI di Cerita Rasa Nusantara, Jakarta, Kamis (29/02/2024).

Ia menyebut, rencananya PLTS itu akan ditempatkan di atap pabrik milik perseroan, dimana ke depan juga akan dibangun di atas lahan bekas tambang perseroan.

“Kami rencanakan penempatannya saat ini 40 MWp itu di atap pabrik dan di atap camp. Kedepannya akan bangun di atas bekas tambang,” ujar Tonny.

Ia melanjutkan, pembangunan PLTS Atap ini membutuhkan investasi yang cukup mahal apabila dibandingkan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

“Karena satu Megawatt itu sekitar 1 hektar butuhnya (lahan),” ujar Tonny.

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) Rencanakan PLTS Atap Sebesar 40 MWp pada 2024

Harita Nickel menargetkan pembangunan PLTS Atap sebesar 300 MWp sebagai upaya mengurangi emisi karbon untuk mendukung Indonesia mencapai Net Zero Emission (NZE) 2060.

Tonny memperkirakan pembangunan PLTS Atap mencapai 1 juta sampai 1,5 juta dolar Amerika Serikat (AS) per 1 MWp, sehingga, biaya untuk kapasitas 300 MWp dapat mencapai 300 juta sampai 450 juta dolar AS atau sekitar Rp4,5 triliun sampai Rp6,75 triliun.

Dalam aspek environmental, Harita Nickel saat ini masih didominasi menggunakan PLTU batu bara sebagai energi untuk mendukung operasional bisnis, baik dalam sektor pertambangan maupun hilirisasi.

Sebagaimana diketahui, pemerintah sendiri mulai merealisasikan program penghentian operasional PLTU batu bara secara bertahap sebagai upaya mewujudkan NZE pada 2060 mendatang. (Sumber antaranews.com)

Foto: Resourcesasia

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

PNBP Kuartal I Tahun 2026 Naik, Dampak Tata Kelola Minerba?

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Kontribusi sektor pertambangan mineral dan batu bara (minerba) terhadap perekonomian Indonesia terus …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *