Tuesday , 5 March 2024
Home / ENERGI MINYAK & GAS / 2019 Indonesia Mulai Impor Gas

2019 Indonesia Mulai Impor Gas

Resourcesasia.id, Jakarta – Melihat DataNeraca Gas Bumi Indonesia Tahun 2016-2035 yang diluncurkan Kementerian ESDM hari ini, Indonesia mulai impor gas pada 2019. Dua tahun lagi, total pasokan gas dari dalam negeri sebesar 7.651 MMSCFD.

Sementara permintaan gas mencapai 9.323 MMSCFD, sehingga harus impor sebanyak 1.672 MMSCFD. Pada 2020, suplai gas domestik sebesar 7.719 MMSCFD, sementara total permintaan sebesar 9.396 MMSCFD. Maka dibutuhkan impor gas sebesar 1.677 MMSCFD.

Impor nantinya semakin besar pada  tahun 2025, yakni mencapai 3.552 MMSCFD. Karena, suplai dari dalam negeri diperkirakan mulai menurun menjadi 5.712 MMSCFD sementara permintaan di tahun yang sama sebesar 9.263 MMSCFD.

Sehingga pada 2030, impor gas diperhitungkan bakal naik menjadi 3.722 MMSCFD. Pasokan dari dalam negeri tinggal 5.294 MMSCFD sementara permintaan 9.017 MMSCFD.

Pada tahun 2035, impor sudah melampaui produksi gas di dalam negeri. Produksi gas hanya 3.469 MMSCFD, sedangkan permintaan di dalam negeri 8.816 MMSCFD sehingga perlu impor 5.348 MMSCFD.

Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, menjelaskan permintaan gas pada 2019 sebesar 9.323 MMSCFD diperhitungkan berdasarkan Contracted Demand, Committed Demand, dan Potential Demand.

Permintaan yang sudah pasti baru yang sudah terikat kontrak jual beli gas (Contracted Demand) sebesar 5.598 MMSCFD. Sedangkan yang masih berupa komitmen, belum teken kontrak, sebesar 2.289 MMSCFD dan permintaan potensial sebesar 1.436 MMSCFD belum pasti terealisasi.

Potensi permintaan tergantung pada tingkat pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan industri, dan asumsi-asumsi lainnya. Lalu committed gas masih berupa komitmen, belum diikat kontrak, jadi belum tentu terealisasi.

Jika Committed Demand dan Potential Demand tidak terealisasi sesuai perkiraan, hanya sedikit yang terealisasi, maka impor gas belum akan dimulai pada 2019.

“Yang committed ini kan 2018-2019 sudah mulai beroperasi, dia jadi kontrak. Kita lihat negatifnya di 2019. Dengan catatan yang committed ini menjadi kontrak semua, baru kita pasti impor,” kata Wirat saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (3/5/2017).

Selain itu, harus diperhitungkan juga penurunan (decline) produksi gas di dalam negeri. Bisa jadi produksi gas di dalam negeri tidak merosot secepat yang diperkirakan. Kalau decline bisa diminimalkan, impor gas bisa ditekan.

Meski demikian, antisipasi tetap harus dilakukan sejak jauh-jauh hari. Apalagi mumpung sekarang harga gas dunia sedang rendah. Karena itulah, PT Pertamina (Persero) baru-baru ini menandatangani kontrak jual beli gas alam cair (Liquified Natural Gas/LNG) dengan ExxonMobil.

Pertamina bakal mengimpor gas dari ExxonMobil sebanyak 1 juta ton tiap tahun mulai dari 2025 sampai 2045. Sebelumnya, pada 2014 lalu Pertamina juga telah menandatangani kontrak impor LNG sebesar 1,5 Million Ton Per Annual (MTPA) mulai 2019 dari Cheniere Corpus Christi.

Kesepakatan impor gas ini merupakan langkah untuk mengantisipasi agar tidak terjadi krisis gas di dalam negeri pada masa mendatang. Kebutuhan gas industri dan pembangkit listrik harus terpenuhi supaya ekonomi bisa terus tumbuh.

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak, oil dan gas bumi (migas), mineral dan batubara (minerba), kelistrikan, energi terbarukan, industri penunjang, lingkungan, CSR, perdagangan dan lainnya.

Check Also

Tahun ini PDC Berkomitmen Ciptakan Kembali Operation Excellence dengan Zero accident

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – PT Patra Drilling Contractor (PDC), bagian dari PT Pertamina Drilling Services Indonesia …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *