RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Perusahaan yang menjadi pionir dalam upaya dekarbonisasi dinilai memiliki daya saing yang lebih tinggi dan didukung oleh keunggulan dalam keberlanjutan bisnis. Industri yang berorientasi pada keberlanjutan cenderung lebih tangguh dalam menghadapi risiko bencana iklim, perubahan regulasi yang semakin ketat terhadap target emisi, serta dinamika permintaan pasar global, termasuk Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Arif Fajar Utomo, Manajer Engagement untuk Energi dan Bisnis Berkelanjutan di World Resource Institute (WRI) Indonesia sekaligus perwakilan proyek Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI). Arif menjelaskan, ada sejumlah keuntungan yang dicapai industri yang lebih dulu memulai dekarbonisasi.
“Keuntungan yang dapat dicapai mencakup peningkatan daya saing melalui efisiensi proses dan energi, peningkatan pendapatan, penguatan citra perusahaan, serta kepatuhan terhadap regulasi termasuk batasan perdagangan yang semakin mendukung dengan arah emisi nol bersih,” kata Arif saat berbicara pada Seminar Transisi Energi Industri dalam Instalasi Teknologi Rendah Karbon, beberapa waktu lalu.
Arif merujuk pada sejumlah riset yang mengungkapkan, gaya hidup berkelanjutan telah menarik perhatian konsumen dan mereka rela membayar lebih untuk membeli produk ramah lingkungan. Riset lain yang dilakukan Bain & Company Brief pada 2022 menunjukkan, pertumbuhan profit perusahaan yang telah menjadi pionir dalam dekarbonisasi industri mencapai 25%—30% pada tahun 2021 hingga 2050.
“Pertumbuhan ini lebih besar daripada perusahaan yang hanya menjadi pengikut dan bahkan terlambat dalam mengimplementasikan dekarbonisasi industri. Kami siap berkolaborasi dengan industri untuk mendukung upaya dekarbonisasi, khususnya dalam implementasi energi terbarukan dan efisiensi energi melalui proyek SETI,” kata Arif.
Proyek Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI) merupakan kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jerman untuk mendorong dekarbonisasi sektor industri dan bangunan. Fokus proyek SETI untuk sektor industri mencakup peningkatan kapasitas, identifikasi peluang transisi energi, serta implementasi energi terbarukan dan efisiensi energi melalui dukungan teknis, seperti audit energi dan studi pra-kelayakan. Selain itu, proyek ini juga menghubungkan industri dengan penyedia teknologi, pendanaan, dan pemangku kepentingan lainnya. Di sisi kebijakan, SETI memiliki fokus dalam penguatan kebijakan sebagai elemen kunci pendukung transisi di industri dan telah berkoordinasi dengan Kementerian terkait seperti Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Praptono Adhi Sulistomo, Koordinator Bidang Kerja Sama dan Investasi Aneka EBT Kementerian ESDM, menjelaskan, sektor industri memberikan kontribusi signifikan sebesar 34% terhadap emisi gas rumah kaca, menjadikannya salah satu penyumbang utama dibanding sektor lainnya, seperti transportasi, energi, dan limbah. Karena itulah, pemerintah mendorong agar dilakukan dekarbonisasi industri, baik dari sisi supply maupun demand, agar selaras dan dapat berkontribusi optimal dalam pencapaian target emisi nasional.
“Proyek SETI merupakan salah satu upaya untuk menjawab tantangan dekarbonisasi industri, khususnya dalam hal melakukan transisi energi untuk industri-industri kita, dan ini merupakan langkah yang krusial. Untuk mencapai target, kami membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk dari kalangan industri,” kata Adhi saat membuka seminar.
Beberapa contoh keberhasilan efisiensi energi disampaikan oleh sejumlah perusahaan. Christian Soeryoatmodjo, Sustainability Business Consultant PT Schneider Indonesia, menyebut, pabriknya di Batam mampu melakukan efisiensi energi lebih dari 15% dibandingkan dengan baseline data di 2019. Hal ini dapat dicapai setelah memahami data konsumsi energi perusahaannya melalui pemasangan perangkat lunak manajemen energi, menganalisa data pemakaian energi dan dilanjutkan dengan melakukan inisiatif efisiensi.
Sementara itu, Fano Adiwandito Sutranto, Marketing and Business Development Manager Synergy Efficiency Solutions (SES), menjelaskan, “Di industri, banyak sistem yang mengeluarkan panas yang tidak disirkulasi dan dibuang begitu saja. Padahal sistem pengelolaan panas yang tepat dapat menghemat energi. Contohnya, salah satu klien SES di Surabaya berhasil menghemat energi sebanyak 38% dengan beberapa cara, salah satunya mengganti sistem boiler yang terintegrasi dengan sistem pemanfaatan panas buang.”
Biaya awal menjadi tantangan bagi perusahaan melakukan dekarbonisasi industri, tetapi ada pilihan skema yang tidak mensyaratkan biaya awal yang memberatkan. Eka Himawan, Managing Director Xurya Daya Indonesia, menjelaskan, skema sewa tanpa biaya awal pemasangan PLTS dapat menjadi pilihan. Melalui skema ini, perusahaan cukup membayar biaya listrik yang dihasilkan PLTS dengan tarif lebih rendah dari harga listrik konvensional.
Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI)
Proyek SETI didanai oleh Internationale Klimaschutzinitiative (IKI) dari Bundesministerium für Wirtschaft und Klimaschutz (BMWK), Pemerintah Jerman, bekerja sama dengan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, dan dilaksanakan oleh konsorsium yang terdiri dari GIZ, IESR, WRI Indonesia, dan Yayasan Indonesia CERAH. Proyek SETI difokuskan pada energi terbarukan dan konservasi energi melalui dua tema utama yaitu dekarbonisasi industri dan bangunan. (Rama Julian)
Foto: ist
Resources Asia Energi News Makers