JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Institut Teknologi PLN (ITPLN) menegaskan pentingnya percepatan transisi energi nasional untuk menghindari kerugian ekonomi besar akibat krisis iklim. Hal itu disampaikan dalam Seminar Series Dies Natalis ke-28 ITPLN bertema “Orchestrating the Solar Sovereignty Roadmap: Synergizing Global Innovation for National Energy Sovereignty and Local Excellence”.
Wakil Rektor III ITPLN, Purnomo mengatakan potensi kerugian ekonomi Indonesia akibat pemanasan global dapat mencapai Rp 40.000 triliun pada 2048 jika transisi energi tidak berjalan optimal.
“Berdasarkan studi Bank Indonesia, potensi kerugian akibat pemanasan bumi bisa mencapai 40 persen dari PDB nasional pada 2048. Kalau diperkirakan PDB kita saat itu Rp 100.000 triliun, maka potensi loss-nya sekitar Rp 40.000 triliun,” ujar Purnomo saat membuka seminar, Senin, 25 Mei 2025.
Menurut dia, dampak tersebut tidak hanya menghantam sektor ekonomi, tetapi juga fiskal dan moneter nasional. Karena itu, transisi energi dinilai bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

Purnomo menjelaskan Indonesia telah memiliki komitmen mencapai net zero emission pada 2060. Komitmen itu, kata dia, telah diperkuat melalui ratifikasi Paris Agreement hingga berbagai regulasi turunan seperti RUPTL dan RUKN.
“Kalau kita terlambat memulai transisi energi, suhu bumi bisa melampaui dua derajat Celsius dan dampaknya akan jauh lebih besar,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti pentingnya orkestrasi seluruh elemen bangsa untuk mempercepat transisi energi nasional, khususnya melalui pengembangan energi surya.
Menurut Purnomo, tema seminar yang mengusung konsep “orkestrasi” mencerminkan perlunya sinergi berbagai pihak agar tujuan transisi energi dapat tercapai secara selaras.
Sementara itu, Direktur PT Trina Mas Agra Indonesia, Johan Hadi Wardoyo mengatakan pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 gigawatt. Angka tersebut melonjak tajam dibanding target sebelumnya dalam RUPTL 2025-2034 yang hanya sekitar 17 gigawatt.
“Lompatannya luar biasa sampai 100 gigawatt. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mempercepat energi baru terbarukan,” tegas Johan yang juga alumni Teknik Mesin ITPLN 2020 kemarin.
Ia menilai energi surya menjadi pilihan paling realistis karena memiliki proses pengembangan lebih cepat dibanding panas bumi, PLTA, maupun nuklir yang membutuhkan kajian panjang dan investasi besar.
“Kalau hydropower masih tergantung air, panas bumi ada ketidakpastian eksplorasi. Tapi matahari tidak ada paceknya,” katanya.
Johan menyebut Indonesia memiliki potensi energi surya hingga 3.294 gigawatt, namun pemanfaatannya hingga kini baru sekitar 1,5 gigawatt. Karena itu, ia berharap mahasiswa ITPLN dapat menjadi talenta utama penggerak transisi energi nasional.
Menurut dia, pengembangan energi baru terbarukan juga penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang rentan terhadap gejolak geopolitik dan fluktuasi harga global.
“Kalau kita terus bergantung pada fosil, gas, dan minyak, dampaknya besar terhadap ekonomi nasional ketika harga energi dunia naik,” ucapnya.
Seminar tersebut menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-28 ITPLN yang berfokus pada penguatan inovasi energi bersih dan kedaulatan energi nasional. (Rama Julian Saputra)
Foto: Dok ITPLN
Resources Asia Energi News Makers