Wednesday , 10 June 2026
Home / LINGKUNGAN / Tekanan Panas Ekstrem Kurangi Produktivitas Pekerja di Sektor Pertanian Indonesia
Screenshot

Tekanan Panas Ekstrem Kurangi Produktivitas Pekerja di Sektor Pertanian Indonesia

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID Peningkatan tekanan panas akibat perubahan iklim menyebabkan setiap pekerja di sektor pertanian di Indonesia kehilangan jam kerja mencapai 595,1 jam sepanjang 2024, yang menyebabkan turunnya produktivitas. Hal ini berpotensi mengganggu rantai pasok pangan dunia, termasuk Indonesia.

Laporan dari Energy & Climate Intelligence Unit (ECIU) yang berjudul “Heat Stress & UK Food Imports” menyebutkan, jam kerja yang hilang per pekerja di Indonesia sebesar 595,1 jam tersebut naik tajam 21,8% dibanding 2022. Sementara secara total, jam kerja yang hilang di sektor ini menembus angka 23,6 juta jam pada 2024. Penurunan jam kerja ini berpotensi mengganggu rantai pasok pangan global –mengingat Indonesia merupakan salah satu pemasok komoditas pangan dunia.

Indonesia termasuk dalam 15 negara dengan kerentanan iklim tinggi yang secara kolektif memasok 11% dari total impor pangan Inggris senilai £7,4 miliar pada 2025. Inggris mengimpor pangan dari Indonesia senilai £172 juta atau setara 101 juta kilogram pada 2025 mencakup kopi, minyak sawit, kelapa kering, dan tuna cakalang. Secara lebih luas, negara-negara rentan iklim menyumbang 13% (£8,9 miliar) dari seluruh impor pangan Inggris.

“Ancaman dari perubahan iklim semakin meningkat, berdampak pada tanaman pangan itu sendiri, tetapi juga pada para pekerja yang kita andalkan untuk memproduksinya. Di negara-negara seperti India, di mana suhu saat ini mencapai angka empat puluhan derajat Celsius, sangat berbahaya untuk bekerja di luar ruangan, yang membahayakan kesehatan, mata pencaharian, dan pasokan makanan yang stabil,” ujar Gareth Redmond King, Kepala Program Internasional di Energy and Climate Intelligence Unit.

Indonesia sendiri mengalami dampak iklim yang memperparah tekanan pada sektor pangan. Peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, dan deforestasi menyebabkan banjir lebih sering dan lebih intens, termasuk tanah longsor pada 2025. Kota-kota padat penduduk mengalami gelombang panas, sementara pemanasan air laut mengancam terumbu karang dan mangrove. Jika El Niño terjadi pada 2026 dan berlanjut ke 2027 sebagaimana perkiraan, kondisi lebih kering dari normal akan meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, serta gangguan muson yang berdampak pada ketahanan pangan.

“Selain oleh petani yang kehilangan mata pencaharian saat panen, dampak dari cuaca ekstrem juga dirasakan oleh warga kota yang membeli produk turunannya, kopi dan sayur-mayur. Barang-barang tersebut menjadi mahal dan langka bagi orang-orang yang seharusnya bisa membeli produk tersebut. Ini adalah dampak yang dirasakan secara seragam oleh semua orang Indonesia. Maka dari itu, kita tidak boleh beradaptasi saja. Mitigasi iklim juga penting,” kata Bondan Andriyanu, Manager Outreach & Advocacy CERAH.

Tak hanya di Indonesia, secara global sekitar 1,5 miliar orang atau 25,3% populasi usia kerja bekerja di luar ruangan pada 2024. Penelitian menunjukkan potensi jam kerja yang hilang mencapai 640 miliar jam, akibat paparan panas pada tahun yang sama, lebih tinggi dibandingkan dengan 2023 dan meningkat 98,1% dibandingkan dengan rata-rata dasawarsa 1990-1999. Pekerja pertanian menyumbang hampir dua pertiga (63,5%) dari total jam kerja hilang di global, atau tiga perempat (75,5%) di negara-negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) rendah.

Laporan merekomendasikan perlunya percepatan mitigasi perubahan iklim serta investasi dalam perlindungan tenaga kerja sektor pertanian untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan global. (RA)

Foto: ist

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Pertamina Internasional EP Hadir di UGM melalui Leaders Go to Campus

YOGYAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berdampak langsung pada rantai pasok …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *