Thursday , 25 July 2024
Home / ENERGI MINYAK & GAS / Tahun 2030, Produksi Bahan Bakar Fosil Masih 2 Kali di Atas Batas

Tahun 2030, Produksi Bahan Bakar Fosil Masih 2 Kali di Atas Batas

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Sejumlah negara masih berencana memproduksi bahan bakar fosil dua kali lipat lebih banyak pada tahun 2030 dibandingkan jumlah yang dibutuhkan untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5°C. Masih adanya kesenjangan produksi global ini menunjukkan kurangnya komitmen bersama dalam melakukan transisi energi.

Hal ini terungkap dari Laporan Kesenjangan Produksi oleh gabungan peneliti dunia mengenai bahan bakar fosil global yang dirilis, Rabu (8/11) lalu. Laporan ini menyoroti adanya ketidaksesuaian antara produksi batubara, minyak, dan gas yang direncanakan dan diproyeksikan oleh pemerintah di 20 negara produsen utama, termasuk Indonesia, dengan batasan produksi global yang sesuai dengan target Perjanjian Paris.

Laporan ini dibuat atas kerja sama antara Stockholm Environment Institute (SEI), Climate Analytics, E3G, International Institute for Sustainable Development (IISD), dan UN Environment Programme (UNEP). Lebih dari 80 peneliti, dari lebih dari 30 negara, berkontribusi dalam analisis dan tinjauan ini, yang mencakup berbagai universitas, lembaga think-tank, dan organisasi penelitian lainnya.

“Rencana untuk memperluas produksi bahan bakar fosil merusak transisi energi yang diperlukan untuk mencapai nol emisi, menciptakan risiko ekonomi dan membuat masa depan umat manusia dipertanyakan,” kata Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen. 

Berdasarkan perhitungan dalam laporan tersebut, rencana dan proyeksi akan mengarah pada peningkatan produksi batubara global hingga tahun 2030, dan produksi minyak dan gas global hingga setidaknya tahun 2050. Gap produksi bahan bakar fosil yang akan menghasilkan emisi CO2 per tahun 2030 tercatat 110 persen lebih banyak dibandingkan yang seharusnya terjadi jika ingin membatasi kenaikan suhu di tingkat 1,5°C, atau 69 persen lebih banyak dibandingkan menggunakan skenario batasan kenaikan suhu di tingkat 2°C.

“Kami menemukan bahwa banyak negara mempromosikan gas fosil sebagai bahan bakar ‘transisi’ yang penting, namun tidak memiliki rencana yang jelas untuk beralih dari bahan bakar tersebut di kemudian hari,” ujar Ploy Achakulwisut, salah satu penulis utama laporan dan ilmuwan SEI.

Laporan Kesenjangan Produksi 2023 ini merujuk pada 20 negara penghasil bahan bakar fosil utama yaitu Australia, Brasil, Kanada, Cina, Kolombia, Jerman, India, Indonesia, Kazakhstan, Kuwait, Meksiko, Nigeria, Norwegia, Qatar, Federasi Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, dan Inggris. Profil negara-negara ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari pemerintah tersebut masih terus memberikan dukungan kebijakan dan keuangan yang signifikan untuk produksi bahan bakar fosil.

Indonesia sebagai salah satu negara produsen utama bahan bakar fosil yang disoroti, dalam hal ini masih aktif menjadi eksportir batubara terbesar ketiga atau 7,6 persen dari total ekspor global, disamping juga sebagai pengguna energi fosil lainnya seperti gas dan minyak. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki ketergantungan ekonomi sangat tinggi terhadap sumber enegi fosil, dimana industri minyak dan gas berkontribusi sebanyak 12 persen dari PDB Indonesia saat ini.

Laporan ini memperingatkan risiko yang besar dan merekomendasikan agar negara-negara harus menargetkan penghentian produksi dan penggunaan batu bara secara menyeluruh pada tahun 2040, serta pengurangan produksi dan penggunaan minyak dan gas bumi sebanyak tiga perempatnya pada tahun 2050 dari tingkat produksi dan penggunaan pada tahun 2020. Untuk itu, pemerintah dengan kapasitas yang lebih besar untuk beralih dari bahan bakar fosil harus menargetkan pengurangan yang lebih ambisius dan membantu mendukung proses transisi di negara-negara dengan sumber daya yang terbatas. (Rama)

Laporan selengkapnya dapat dilihat di https://productiongap.org/

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (migas), mineral dan batubara (minerba), kelistrikan, energi terbarukan (ebt), industri penunjang, lingkungan, CSR, perdagangan dan lainnya.

Check Also

Kolaborasi Pertamina – Toyota, Uji Coba Bioethanol 100% di GIIAS 2024

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Pertamina terus mempertajam kompetensi dan memperluas kolaborasi untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *