Tuesday , 21 May 2024
Home / ENERGI TERBARUKAN / Ratusan Perusahaan dan Organisasi Dunia Desak Peningkatan Target Energi Terbarukan 11 Ribu GW pada 2030

Ratusan Perusahaan dan Organisasi Dunia Desak Peningkatan Target Energi Terbarukan 11 Ribu GW pada 2030

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Sebanyak 200 perusahaan dan organisasi dunia mempublikasikan surat terbuka berisi tuntutan untuk meningkatkan target energi terbarukan tiga kali lipat lebih besar atau setara 11 ribu gigawatt (GW) pada COP28 di Dubai, November mendatang. Perusahaan global yang berpartisipasi, di antaranya Amazon, Apple, Google, Microsoft, dan Huawei.

Surat tersebut disampaikan dalam Majelis Umum PBB dan New York Climate Week pada September 2023. Berikut isi lengkap surat tersebut:

“Kami, sebuah grup yang terdiri dari 200 organisasi global, dengan tegas menyerukan kepada pemimpin-pemimpin dunia dan berbagai pihak terkait Perjanjian Paris, untuk menyepakati target global energi terbarukan tiga kali lipat lebih besar menjadi setidaknya 11 ribu GW pada 2030 dalam COP28 tahun ini. Kami menggarisbawahi bahwa gebrakan langkah dalam pertumbuhan energi terbarukan pada dekade ini, dikombinasikan dengan peningkatan efisiensi energi, akan menjadi cara tercepat dan paling hemat biaya untuk mendekarbonisasi ekonomi global. Langkah ini akan menjadi komitmen komunitas global yang paling berdampak untuk memastikan masa depan yang layak huni bagi semua”, kata Communication Officer the Global Renewables Allieance (GRA) Rachel Cheng sebagaimana isi surat yang diterima di Jakarta, Senin (18/9).

Target global pada 2030 mengirimkan sinyal jelas pada pemerintah, industri, investor, dan masyarakat sipil bahwa diperlukan penyebaran energi terbarukan dalam skala fantastis dan cepat dalam tujuh tahun mendatang untuk membatasi pemanasan global maksimal 1.5°C. Hal ini juga mengacu pada pengakuan dunia dalam COP27 tahun lalu terkait urgensi mentransformasi sistem energi pada dekade kritis yang butuh aksi ini.

Presidensi COP28, pembuat kebijakan, dan kepala agensi energi internasional telah mengakumulasi target bersama untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan hingga tiga kali lipat lebih besar menjadi sekitar 11 ribu GW pada 2030. Hal ini berarti percepatan pembangunan pembangkit listrik berbasis angin, surya, air, dan panas bumi akan mendorong pengembangan teknologi penyimpanan energi berdurasi panjang dan hidrogen hijau. Alhasil, sistem energi tidak hanya akan dipastikan bersih, tetapi juga andal dan adil, serta akan menjadi pondasi sistem energi netral karbon pada 2050.

Energi terbarukan telah mengubah berbagai komunikasi di seluruh dunia: melistriki rumah; pabrik-pabrik dan mobil-mobil dengan listrik bersih; menciptakan jutaan pekerjaan hijau; dan menarik modal swasta dan publik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Meningkatkan kegiatan ini hingga tiga kali lipat menunjukkan peluang yang luar biasa besar untuk mengurangi kerugian dan kerusakan yang dialami alam dan masyarakat akibat perubahan iklim yang berbahaya, dan mengarahkan dunia pada pertumbuhan berkelanjutan, inklusif, dan berketahanan iklim.

Meski setiap negara dan regional akan mengadopsi pendekatan nasional masing-masing terhadap target bersama ini, terdapat faktor-faktor pendukung universal untuk mempercepat energi terbarukan. Tindakan mendesak berikut dibutuhkan untuk merealisasikan target:

  • Berkomitmen pada rencana transisi energi yang ambisius dengan tahapan yang jelas hingga 2030 dan setelahnya, yang memungkinkan industri energi terbarukan, penyimpanan energi, dan pendukungnya untuk merencanakan pengembangan rantai pasok yang efisien. Rencana ini harus terlihat dalam Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional (Nationally Determined Contributions/NDC) dan diabadikan dalam kerangka kebijakan nasional, termasuk target teknologi yang ambisius dengan pengadaan yang terjadwal rapi dan sering, serta volume kapasitas yang cukup besar.
  • Segera menyederhanakan skema perizinan untuk proyek energi terbarukan skala utilitas, serta proyek penyimpanan energi berdurasi panjang dan hidrogen energi terbarukan. Pembuat kebijakan bisa mempertimbangkan penerapan waktu tunggu untuk tahap-tahap administrasi, perizinan, dan perizinan lingkungan pengembangan proyek, serta model pelayanan perizinan satu pintu.
  • Segera berinvestasi dalam rencana pengembangan jaringan, yakni membangun jaringan listrik dan sistem pemanas secara cepat, untuk integrasi energi terbarukan dalam jumlah besar dan solusi penyimpanan energi berdurasi panjang. Mengingat infrastruktur jaringan membutuhkan waktu tunggu yang lebih lama dari proyek energi terbarukan, kurangnya ketersediaan koneksi jaringan dan transmisi berpotensi menjadi penghambat pengembangan energi terbarukan.
  • Membentuk kerja sama energi terbarukan multilateral dan perjanjian perdagangan untuk mendukung transisi energi, meningkatkan kolaborasi menghadapi tantangan bersama, dan berkontribusi pada transisi yang adil dan merata dalam pengembangan ekonomi.
  • Memaksimalkan potensi transisi energi yang berpihak pada alam dengan memasukkan rencana dan target penyebaran energi terbarukan sebagai bagian dari strategi lingkungan dan keanekaragaman hayati di darat dan lautan.
  • Memperkuat komitmen pada target pembangunan berkelanjutan (SDG 7) untuk mencapai transisi energi yang adil dan teratur yang tidak meninggalkan siapapun, dengan tindakan lanjutan yang menyediakan energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern untuk semua pada 2030.
  • Pembuat kebijakan juga harus mempertimbangkan faktor pendukung lainnya: implementasi keberlanjutan yang kuat dan standardisasi atau sertifikasi teknologi, menciptakan level persaingan yang sama dalam hal subsidi energi, mendorong fleksibilitas dan kemampuan pengiriman pasokan di pasar kelistrikan, mengakui hak adat dan hak atas tanah ketika merencanakan pembangunan energi terbarukan, memfasilitasi pengadaan energi terbarukan oleh perusahaan, dan penerapan peraturan global terkait nilai ekonomi karbon (carbon pricing).

Kami mengakui bahwa meningkatkan kapasitas energi terbarukan hingga tiga kali lipat pada 2030 merupakan “lompatan besar aksi iklim.” Untuk itu dibutuhkan kerja bersama pemerintah, industri, dan komunitas finansial untuk mempercepat kebijakan dan regulasi guna memperluas pengembangan proyek, menarik investasi baru ke sektor energi dan pembangunan infrastruktur, termasuk transmisi dan hub rantai pasok.

Pada tahun lalu, emisi sektor kelistrikan mencapai rekor tertinggi dan PBB menyatakan bahwa tidak ada negara yang saat ini berada pada jalur kredibel menuju 1.5°C. Terlihat jelas bahwa kita membutuhkan langkah koreksi sistem energi yang signifikan pada dekade ini, dan kita telah kehabisan waktu. Kami siap bekerja bersama pemerintah, industri, investor, dan masyarakat sipil untuk mengambil langkah bersama, bergerak cepat, dan meningkatkan kapasitas energi terbarukan sekarang juga.

Foto: Sumber Dok Antarafoto/Sigit Kurniawan

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak, oil dan gas bumi (migas), mineral dan batubara (minerba), kelistrikan, energi terbarukan, industri penunjang, lingkungan, CSR, perdagangan dan lainnya.

Check Also

Percepat Transisi, Indonesia Dorong Perluasan Akses Energi Bersih

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Indonesia konsisten menyuarakan percepatan transisi energi, sebagai bagian dari agenda internasional. Seperti …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *