RESOURCESASIA.ID, BALI – Posisi geografis Indonesia dinilai sangat strategis bagi perdagangan energi dunia, utamanya gas dan LNG. Faktor ini bahkan menjadi faktor penarik utama perusahaan migas global untuk berinvestasi di Indonesia.
President of SPA for Asia Pacific Region, ENI Ciro Antonio Pagano mengatakan, di tengah gejolak
geopolitik yang menyebabkan pasokan gas dari Rusia seret ke negara-negara Eropa, Indonesia
berpotensi menjadi negara yang memiliki posisi strategis untuk memenuhi kebutuhan gas dunia.
“Secara geografis, Indonesia menarik, karena memiliki potensi minyak dan gas yang besar,” katanya,
ketika menjadi Keynote International ‘IOCs strategic roadmap for investments’ di The 4th International
Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (ICIUOG) 2023, di Nusa Dua, Bali, Rabu (20/9).
Posisi Indonesia strategis karena dikelilingi oleh pembeli besar seperti Jepang, Korea, dan China.
Pada sisi lain, kebutuhan gas di pasar domestik juga tinggi, sehingga membuat Indonesia, juga
menjadi pasar gas yang potensial.
ENI adalah salah satu perusahaan yang melakukan investasi besar-besaran di Indonesia. Keseriusan
ENI ditunjukkan melalui aksi korporasi yang dilakukan pada Juli 2023, ketikak perusahaan
mengakuisisi hak pengelolaan Chevron di proyek migas Indonesia Deepwater Development (IDD).
“Juli lalu ENI dan Chevron telah menandatangani pengambilalihan Kutai Basin. Langkah ini menjadi
langkah penting bagi pengembangan proyek IDD, sekaligus menjadi konsolidasi besar untuk
pengembangan Lapangan Gas Kalimantan Timur. Kami akan perluas eksplorasi di Kutai Basin dan
berharap mendapatkan temuan cadangan gas yang akan digunakan untuk untuk mendukung transisi
energi. Karena itu, kita akan terus investasi di Indonesia,” ujarnya.
Gary Selbie, President Director of Premier Oil Natuna Sea BV (a Harbour Energy company) sekaligus
President of the Indonesian Petroleum Association (IPA), mengatakan pihaknya juga terus
merasakan manfaat berinvestasi di Indonesia. Salah satunya alasannya karena pemerintah
memberikan banyak insentif fiskal yang lebih fleksibel bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
“Jadi kita perpanjang produksi dari field (lapangan) kita. Kami juga senang karena pemerintah
memberikan insentif fiskal yang memberi kita peluang untuk mengembangkan lapangan yang tadinya
marjinal. Kita akan tanda tangan pekan ini,” ujarnya.
Gery mengatakan Harbour Energy akan melakukan serangkaian kegiatan pengeboran eksplorasi di
wilayah Andaman, termasuk appraisal wells yang akan dimulai bulan depan. Selain itu, pihaknya juga
akan sedang dalam proses dalam menyelesaikan isu di Blok Tuna, di mana mitranya dari Russia
mundur.
Meski betah berinvestasi di Indonesia, Gery berharap pemerintah bisa mendongkrak investasi migas
dengan menerapkan regulasi terkait harga gas domestik. “Karena 50 persen lapangan gas yang
belum dikembangkan di Indonesia sebenarnya ekonomis untuk dikembangkan di Indonesia,”
ujarnya.(Rama)
Foto: Dok SKK Migas
Resources Asia Energi News Makers