Saturday , 24 October 2020
Home / ENERGI MINYAK & GAS / Pertamina EP Ajukan Rencana Produksi 2019 Sukowati Sebesar 12 Ribu BOPD

Pertamina EP Ajukan Rencana Produksi 2019 Sukowati Sebesar 12 Ribu BOPD

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero) mengajukan usulan produksi Lapangan Sukowati untuk 2019 rata-rata sebesar 12 ribu barrel oil per day (BOPD). Pada awal 2019, produksi Sukowati akan dimulai di level 9.000-an.

“Harapannya pada 2019 starting di angka 9 ribuan, ramp up di Februari. Sebentar lagi dengan SKK Migas akan mengajukan usulan-usulan sehingga bisa mencapai 12 ribu,” kata Nanang Abdul Manaf, Presiden Direktur PT Pertamina EP saat diskusi bertajuk “Making Money From Nature Fields: The Sprit of Indonesia’s Oil and Gas Producers yang digelar Dunia Energi di Jakarta, Rabu (7/11).

Menurut Nanang, kesulitan yang dihadapi di Sukowati adalah membuat semen bonding yang bagus dan berumur panjang. Rencana pengembangan dari sisi surface facilities untuk bisa maintenance produksi Lapangan Sukowati dilakukan dengan upgrading, pembangunan flow line dari sumur injeksi, general over hole, power supply, serta upgrading kantor.

“Ini rencana kerja untuk maintenance produksi Lapangan Sukowati. Kita pernah mencapai puncak di atas 40-ribu barel pada 2012, 2013, lalu terjun bebas di 2014. Sekarang kita mulai ramp up, harapannya peningkatan sampai dengan tahun depan,” ungkap Nanang.

Menurut Nanang, rata-rata produksi minyak Lapangan Sukowati sesudah terminasi 20 Mei 2018 mencapai 9.493 BOPD, dari sebelum diambil alih sebesar 6.874 BOPD. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan hingga 2.500 BOPD hanya dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Amien Sunaryadi, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas), mengatakan tim SKK telah melaporkan bahwa ada potensi menaikkan produksi minyak dengan caranya sederhana.

“Mereka cerita soal semen bonding seperti yang dilakukan di Lapangan Sukowati. Lumayan logis, practical. Yang penting produksi naik,” kata Amien.

Menurut Amien, SKK Migas sudah membentuk tim terkait upaya peningkatan produksi minyak dengan memperbaiki kualitas semen bonding. Selain itu, masalah sumber daya manusia juga perlu diperhatikan. Pertamina diyakini memiliki saya yakin manajemen sumber daya manusia yang cukup baik.

“Saya fokus ke output, human resources management harus dipegang betul. Dengan demikian discovery bisa naik, kalau Sukowati bisa 50% masa yang lain tidak bisa? Lapangan ada, orangnya ada, teknologi ada, challenge-nya how to make it happen,” kata Amien.
Lapangan Tua

Menurut Nanang, produktivitas lapangan tua hingga kini masih menjadi suatu tantangan bagi perusahaan minyak dan gas (migas) nasional. Strategi pengelolaan lapangan tua perlu mengedepankan upaya-upaya agar lapangan tersebut tetap memberikan nilai keekonomian yang tinggi.

“Mengelola aset yang mature kalau dipaksa dilakukan adalah dengan optimalisasi. Kalau produktivitas rendah dan cost rendah, ini dilema,” kata Nanang.

Dia menambahkan 90% dari total 300-an lapangan yang dikelola Pertamina EP sudah termasuk mature fields.

Pertamina EP, kata Nanang, sudah melakukan studi yang mengarah pada CO2 flooding seiring pengelolaan Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru. Lapangan gas Jambaran Tiung Biru diyakini memiliki sumber CO2 yang cukup besar.

“Sebesar 90 juta kaki kubik tiap hari akan dihasilkan CO2 dari Jambaran Tiung biru. Dua tahun ke depan kami harus siap menampung CO2 yang dihasilkan Jambaran. Mungkin 2021 kita confidence untuk implementasikan CO2 flooding untuk EOR di Lapangan Sukowati. Harapannya bisa diimplementasikan, studi bisa jalan sesuai skenario dan punya impact nasional,” kata Nanang.

Meidawati, Senior Vice President Upstream Strategic Planning and Performace Evalution Direktorat Hulu Pertamina, mengatakan mayoritas lapangan migas yang dikelola memang mature.

“Kami juga punya green field di Banyu Urip cukup besar ini dengan Exxon. Kita punya 100 persen di jambaran tiung biru, lalu tomori, donggi matindok, lap paku gajah yangbaru ditemukan PEP.

“Untuk porsi produksi, green field 21%, mature field 79%. Perbandingan ini sangat signifikan, bagaimana kami punya lapangan mature,” kata dia.

Menurut Meidawati, Pertamina masih memiliki harapan besar terhadap lapangan-lapangan yang dikelola. Pada tahun ini, target produksi sebesar 400 ribu barel per hari (bph) minyak dan 3.069 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

“Pada 2019, target produksi untuk minyak 414 ribu bph dan gas 2.966 MMSCFD,” katanya.

Meidawati menambahkan, tantangan mengelola lapangan tua, pertama kontrol biaya. Karena bagaimanapun aset yang sudah tua biayanya akan lebih mahal dibanding lapangan baru. Production facilities mungkin sudah tua semua.

Selain itu, masalah reservoir, mungkin ada data yang tidak lengkap, sehingga harus melakukan korelasi dengan lapangan sekitar.

Lalu challenge biaya. Kalau dikembangkan tadi tentu biaya operasinya tentu lebih tinggi kalau mengelola lapangan tua. Serta keekonomian proyek baru,” tandas Meidawati.(RJS)

Foto: Dok Resourcesasi.id

Check Also

MILIKI KINERJA TANGGUNG JAWAB SOSIAL YANG BAIK, PERTAMINA RAIH PENGHARGAAN INDONESIA CSR-PKBL AWARD 2020

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Pertamina berhasil meraih penghargaan Best PKBL kategori Mining and Quarrying with Outstanding …

Leave a Reply