Friday , 4 September 2026
Home / ENERGI MINYAK & GAS / Peringati Hari Pelanggan Nasional, PLN EPI Perkuat Kolaborasi untuk Ekosistem Biomassa Berkelanjutan
Pengembangan biomassa berkaitan erat dengan agenda pengurangan emisi karbon yaitu tanaman yang dikembangkan dapat dipanen dan dimanfaatkan sebagai bahan baku energi, kemudian dilakukan penanaman kembali.

Peringati Hari Pelanggan Nasional, PLN EPI Perkuat Kolaborasi untuk Ekosistem Biomassa Berkelanjutan

YOGYAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Pengembangan biomassa mulai diarahkan untuk menjawab dua kebutuhan sekaligus, yakni memperkuat ketahanan energi nasional dan membuka manfaat ekonomi bagi masyarakat di daerah. Untuk itu, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menggandeng Keraton Yogyakarta dalam mengembangkan ekosistem biomassa berbasis masyarakat.

Kepala Bebadan Pangreksa Loka Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo mengatakan pengembangan biomassa di Yogyakarta tidak hanya berkaitan dengan penyediaan bahan bakar bagi pembangkit. Program tersebut juga dapat menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan tanaman biomassa, pakan ternak, hingga pengembangan bank bibit. Hal tersebut disampaikan pada kegiatan Konsolidasi dan Rekonsiliasi Pasokan Biomassa untuk Mencapai Target Cofiring 2026 dan Net Zero Emission di Yogyakarta dalam rangka memperingati Hari Pelanggan Nasional.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan bahwa penguatan ekosistem biomassa menjadi semakin penting seiring dengan peningkatan target cofiring. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Konsolidasi dan Rekonsiliasi Pasokan Biomassa untuk Mencapai Target Cofiring 2026 dan Net Zero Emission di Yogyakarta.

“Program ini harus berhasil untuk kepentingan dalam negeri kita sendiri,” ujar Mas Marrel, sapaan akrabnya.

Mas Marrel menyontohkan pengembangan biomassa di Gunungkidul. Program tersebut pada awalnya dikembangkan dengan target sekitar 30 hektare. Tanaman yang dikembangkan tidak hanya diarahkan sebagai sumber biomassa, tetapi juga dimanfaatkan masyarakat sebagai pakan ternak.

Kepala Bebadan Pangreksa Loka Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo mengatakan pengembangan biomassa di Yogyakarta tidak hanya berkaitan dengan penyediaan bahan bakar bagi pembangkit, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat.

Menurut dia, pendekatan tersebut sejalan dengan upaya menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan ekonomi. Karena itu, pengembangan biomassa perlu dirancang agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di sekitar sumber bahan baku.

Program tersebut juga dilengkapi pengembangan bank bibit. Saat ini, dua kelurahan disebut telah memiliki bank bibit dengan potensi menghasilkan sekitar 30 ribu bibit tanaman.

Mas Marrel mengatakan apabila program di Gunungkidul menunjukkan tingkat keberhasilan yang baik, pengembangannya berpotensi diperluas hingga 300–400 hektare. Model serupa juga dapat direplikasi ke wilayah lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Kalau program ini berhasil di Gunungkidul, kemungkinan besar akan lebih mudah diterapkan di wilayah lain,” katanya.

Menurut Mas Marrel, pengembangan biomassa juga berkaitan erat dengan agenda pengurangan emisi karbon. Tanaman yang dikembangkan dapat dipanen dan dimanfaatkan sebagai bahan baku energi, kemudian dilakukan penanaman kembali.

Komisaris Utama PLN EPI, Nikson Silalahi, mengatakan pengembangan biomassa membutuhkan kolaborasi seluruh entitas dalam ekosistem PLN. Hal itu mencakup PLN Holding, PLN EPI, PLN Nusantara Power, PLN Indonesia Power, hingga unit pembangkit.

Dia menilai pola tersebut membedakan pengembangan biomassa yang dilakukan PLN dengan anggapan pemanfaatan biomassa identik dengan penebangan hutan.

“Kita tunjukkan biomassa yang dilakukan PLN berbeda. Konsepnya adalah penanaman, harvesting, dan kemudian penanaman kembali,” ujarnya.

Komisaris Utama PLN EPI, Nikson Silalahi, mengatakan pengembangan biomassa membutuhkan kolaborasi seluruh entitas dalam ekosistem PLN. Hal itu mencakup PLN Holding, PLN EPI, PLN Nusantara Power, PLN Indonesia Power, hingga unit pembangkit.

Menurut Nikson, target net zero emission PLN pada 2060 tidak dapat dicapai hanya melalui kerja satu entitas. Setiap bagian harus memastikan perannya berjalan dan saling terhubung.

“Untuk mencapai target zero emission pada 2060, yang dibutuhkan adalah kerja sama dan kolaborasi kita semua,” kata Nikson.

Ia menilai kesiapan pasokan biomassa harus diikuti dengan kesiapan pembangkit dalam menerima biomassa. Jangan sampai pasokan telah disiapkan, tetapi tidak dapat diserap karena persoalan kualitas atau parameter teknis.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir mengatakan penguatan ekosistem biomassa menjadi semakin penting seiring peningkatan target cofiring.

Pada 2026, PLN EPI ditargetkan memasok 3,65 juta ton biomassa ke 52 PLTU di seluruh Indonesia. Target tersebut meningkat sekitar 50 persen dibandingkan pencapaian pasokan pada 2025 sebesar 2,35 juta ton.

Hingga 26 Agustus 2026, realisasi cofiring telah mencapai sekitar 1,4 juta ton biomassa atau hampir separuh dari target pasokan tahun berjalan. PLN EPI terus mendorong percepatan realisasi melalui penguatan ekosistem hulu, peningkatan kualitas biomassa, serta sinkronisasi kebutuhan pembangkit dengan kesiapan pasokan.

Hokkop mengatakan tantangan pemanfaatan biomassa tidak hanya terletak pada ketersediaan volume, tetapi juga kualitas, biaya logistik, dan kemampuan pembangkit menerima biomassa.

Ia menjelaskan, biomassa selama ini juga memiliki peran dalam menurunkan emisi dari pembangkit yang telah beroperasi. Melalui skema cofiring, biomassa dapat digunakan bersama batubara sehingga mengurangi penggunaan bahan bakar fosil pada pembangkit yang sama.

Di sisi lain, Hokkop menekankan pentingnya memastikan kualitas biomassa sesuai kebutuhan pembangkit. Menurut dia, PLN EPI perlu memperbaiki kualitas pasokan sekaligus membangun komitmen dengan para mitra agar biomassa yang disediakan benar-benar dapat diterima PLTU.

Potensi biomassa Indonesia sendiri masih besar. Hokkop menyebut potensi biomassa nasional mencapai sekitar 80 juta ton per tahun, sementara yang telah termanfaatkan baru sekitar 22 juta ton.

Untuk memperkuat rantai pasok, PLN EPI mengembangkan fasilitas subhub, hub, dan main hub di sejumlah wilayah. Strategi tersebut ditujukan untuk meningkatkan kuantitas, kualitas, serta keberlanjutan pasokan biomassa.

Sejumlah pengembangan yang dilakukan antara lain fasilitas dewatering di Ciamis, main biomass hub di Lebak, biomass hub di Tasikmalaya, pemasangan jembatan timbang di PLTU Sintang dan Barru, serta digital marketplace biomassa di Cilacap.

Hokkop berharap penguatan sisi hulu melalui pengembangan sumber biomassa dan infrastruktur pasokan dapat berjalan beriringan dengan kesiapan PLTU di sisi hilir.

Dengan kolaborasi tersebut, pengembangan biomassa diharapkan tidak hanya membantu mengejar target cofiring dan penurunan emisi, tetapi juga membangun rantai ekonomi baru yang melibatkan masyarakat di daerah penghasil biomassa. (Rama Julian Saputra)

Foto: Dok PLN EPI

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

PHR Raih Gold Award EPSA 2026 melalui Inovasi Bioremediasi Ramah Lingkungan

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) berhasil meraih Gold Award pada ajang Eco-Tech …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *