Tuesday , 16 July 2024
Home / ENERGI TERBARUKAN / OCFI Dorong Peran Perempuan dalam Penanganan Perubahan Iklim
Elisabeth Kusrini Peneliti Senior OCFI

OCFI Dorong Peran Perempuan dalam Penanganan Perubahan Iklim

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Open Climate Change Financing in Indonesia (OCFI) mendorong partisipasi perempuan dalam gerakan transisi energi Indonesia. Membuka akses yang lebih besar bagi partisipasi perempuan dalam lapangan kerja hijau, berarti meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan pertumbuhan ekonomi lokal semakin berkembang.

“Penting untuk meningkatkan pelibatan masyarakat di semua level terutama kaum perempuan hingga pada pengambilan keputusan, mulai dari tahapan perencanaan hingga pelaksanaan program pembangunan rendah karbon. Perempuan harus diberi tempat istimewa mulai dari perumusan rencana aksi hingga pelaksanaan di lapangan”, ungkap Elisabeth Kusrini Peneliti Senior OCFI, Kamis 13 Juni 2024.

Elisabeth menjelaskan, dalam konteks pembangunan rendah karbon Gender Equality and Social Inclusion (GESI) merupakan alat yang digunakan untuk analisis kesenjangan antara lelaki dan perempuan, non-disabilitas dan disabilitas, serta kelompok inklusi lainnya. Konsep GESI sering digunakan sebagai parameter untuk memastikan kebijakan dapat memberikan perhatian khusus pada kesetaraan gender dan pelibatan kelompok marginal termasuk penyandang disabilitas.

“Dalam konteks perubahan iklim, dampak yang terjadi akibat perubahan iklim akan terdistribusi secara berbeda-beda antar kawasan, generasi, kelompok usia, kelompok pendapatan termasuk gender. Perbedaan dampak ini disebabkan adanya ketimpangan akses sumber daya keuangan, kepemilikan tanah, dan juga pengembangan pengetahuan dan keterampilan”, terang Elisabeth.

BACA JUGA: 

OCFI Desak Pemerintah Bentuk Lembaga Khusus Pengelola Dana Iklim di Daerah

Dampak ini kemudian akan lebih parah bagi kelompok rentan dan termarjinalkan yang memiliki kerentanan lebih tinggi dalam merespon dan beradaptasi terhadap perubahan iklim. Jika terus berlanjut maka ketimpangan gender dan sosial ini akan mengakibatkan diskriminasi terhadap kelompok gender dan sosial.

Kondisi ini kemudian semakin diperparah dengan adanya perbedaan pandangan atas peran dan status perempuan di lingkungan masyarakat yang sering kali menjadi dasar atas pembatasan akses mereka terhadap pelayanan masyarakat. Sehingga hal ini kemudian meningkatkan kerentanan mereka terhadap dampak perubahan iklim dan menghambat kemampuan mereka untuk beradaptasi.

“Sebagai kelompok yang paling bertanggung jawab dalam memastikan ketahanan pangan dan energi keluarga, kesulitan yang dihadapi perempuan dalam melakukan tugas sehari-hari kian meningkat karena perubahan iklim, termasuk kekeringan, banjir, dan gagal panen”, tambah dia.

Di sisi lain, penyandang disabilitas menjadi salah satu kelompok yang mengalami efek perubahan iklim yang lebih intens akibat diskriminasi, marjinalisasi, dan keterbatasan akses pada sumber daya sosial dan ekonomi. Cuaca ekstrem dan degradasi lingkungan yang disebabkan oleh perubahan iklim dapat mengakibatkan perpindahan paksa.

Penyandang disabilitas menghadapi risiko perpindahan paksa akibat iklim yang lebih tinggi yang memaksa mereka mendiami lingkungan yang telah terdegradasi tanpa rumah, pekerjaan dan layanan kesehatan. Risiko mereka jatuh kepada kemiskinan juga semakin meningkat akibat semakin parahnya ketidaksetaraan.

“Oleh sebab itu, penting untuk melibatkan kelompok gender dan kelompok inklusi sosial lainnya termasuk penyandang disabilitas dalam diskusi seputar perubahan iklim, risiko iklim, dan aksi iklim, untuk memahami kebutuhan, pengalaman, dan perspektif mereka terkait perubahan iklim. Dengan mengintegrasikan seluruh kelompok sosial dalam diskusi perubahan iklim dan proses pengambilan keputusan, program dan kegiatan tersebut dapat menjamin keberlanjutan aksi iklim yang mereka jalankan”, tegas Elisabeth.

Aksi iklim yang inklusif dan responsif GESI akan cenderung melibatkan kelompok perempuan dan kelompok rentan lainnya sebagai pemangku kepentingan dan memberdayakan mereka agar dapat berkontribusi dalam berbagai respons perubahan iklim.

BACA JUGA:

OCFI Dukung Program Rendah Karbon Pemprov Jambi

Hal ini, lanjutnya, juga akan berdampak mendalam terhadap pengurangan kemiskinan dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dalam kajian ini akan melihat sejauh mana keterlibatan kelompok gender dan kelompok inklusi sosial lainnya terlibat jauh dalam program-program penanganan perubahan iklim baik dari aksi adaptasi maupun mitigasi.

Untuk mengukur sejauh mana penerapan GESI dalam proyek perubahan iklim, terdapat beberapa pedoman yang dapat dijadikan acuan seperti pedoman pengarusutamaan GESI yang diterbitkan oleh Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu untuk pemrakarsa proyek green climate fund yang menggambarkan tujuh tahapan penerapan GESI dalam proyek penanganan perubahan.

“Tahap Persiapan, aspek GESI dipertimbangkan dalam tujuan dan ruang lingkup intervensi, identifikasi dan pelibatan kelompok rentan. Tahap Analisis GESI, mengkaji kebutuhan dan pengalaman perempuan, laki-laki, dan kelompok rentan lainnya untuk desain proyek. Kemudian, Tahap Analisis Masalah, menggunakan hasil analisis GESI untuk mengidentifikasi hambatan sosial, ekonomi, atau lingkungan yang terkait dengan tujuan proyek. Terakhir, Penemuan Solusi, menentukan keluaran, hasil dan dampak, serta strategi dan kegiatan proyek dengan perspektif GESI”, jelas Elisabeth.

BACA JUGA:

Menilik Tata Kelola JETP

Selain itu, USAID juga menerbitkan pedoman yang sama untuk mengetahui pengarusutamaan GESI dalam menyaring proposal pendanaan perubahan iklim. Panduan ini mengidentifikasi penerapan GESI melalui empat tahapan, yaitu permulaan proyek, desain proyek, implementasi proyek dan monitoring dan evaluasi.

“OCFI telah melakukan kajian penerapan GESI dalam proyek Bio Carbon Fund Plus Initiative for Sustainable Forest Lanscap (Bio-CF ISFL) di Provinsi Jambi. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur penerapan GESI dalam proyek perubahan iklim di Provinsi Jambi adalah menggunakan pedoman yang diterbitkan oleh USAID, sebab pedoman ini relevan dengan mengidentifikasi penerapan GESI dalam proyek BioCF ISFL yang sedang berjalan saat ini”, imbuh Elisabeth. (Rama Julian)

Foto: ist

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (migas), mineral dan batubara (minerba), kelistrikan, energi terbarukan (ebt), industri penunjang, lingkungan, CSR, perdagangan dan lainnya.

Check Also

Dukung Produksi Migas, PHE ONWJ Aktifkan Kembali Platform LES di Lepas Pantai Karawang

RESOURCESASIA.ID, KARAWANG – Untuk menjaga ketahanan energi, Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *