PULAU OBI, RESOURCESASIA.ID – Jalan beton membelah kawasan permukiman yang dipenuhi deretan rumah baru. Di sepanjang jalan berdiri tiang lampu penerangan, sementara sekolah, Puskesmas Pembantu, rumah ibadah, kantor desa, dan area komersial berada dalam satu kawasan yang saling terhubung. Sulit membayangkan bahwa kawasan ini berada di Pulau Obi, salah satu episentrum hilirisasi nikel nasional di Maluku Utara.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kawasi Reinhard Siar mengatakan, Permukiman Baru Desa Kawasi dirancang bukan hanya sebagai kawasan hunian, tetapi juga lingkungan yang dilengkapi berbagai fasilitas dasar untuk mendukung kehidupan masyarakat.
“Akses listrik dan air stabil, lingkungannya lebih tertata, dan fasilitas umum tersedia. Harapannya, warga bisa memanfaatkannya dengan baik dan ekonomi lokal ikut tumbuh,” ujarnya.

Permukiman Baru Desa Kawasi dibangun atas inisiatif Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dengan menggandeng Harita Nickel sebagai bagian dari penataan Desa Kawasi. Sebanyak 259 unit rumah dibangun dengan empat pilihan tipe, yaitu 36, 54, 72, dan 108, yang disesuaikan dengan kondisi rumah warga sebelumnya. Perusahaan turut berperan mengaliri kawasan ini dengan jaringan air bersih dan listrik selama 24 jam.
Berjalan beberapa meter dari kawasan hunian, masyarakat dapat menjangkau Puskesmas Pembantu, rumah ibadah, Gedung Serbaguna, hingga lapangan sepak bola. Fasilitas-fasilitas tersebut dibangun dalam satu kawasan sehingga aktivitas sehari-hari warga dapat dilakukan tanpa harus berpindah ke lokasi yang berjauhan.

Sekolah dasar dan sekolah menengah juga tersedia di sini, murid-murid Desa Kawasi yang semula harus menyebrang ke pusat Kabupaten Halmahera Selatan di Bacan untuk menjalani ujian berbasis komputer, kini bisa menjalankan ujian di sekolahnya sendiri.
Sementara untuk urusan Kesehatan, di Permukiman Baru Desa Kawasi juga sudah terdapat Puskesmas Pembantu yang mampu menjalankan pelayanan umum, pelayanan gigi dan mulut, hingga USG ibu hamil.

Yunince, salah satu warga mengapresiasi jalan lingkungan yang sebelumnya berupa tanah kini telah dibeton. Saat musim hujan, genangan dan lumpur tidak lagi menjadi persoalan. Sementara ketika musim kemarau tiba, debu yang dulu kerap beterbangan kini jauh berkurang.
“Kalau hujan tidak becek, kalau panas tidak berdebu. Di sini listrik dan air 24 jam penuh. Di rumah lama saya tidak pakai AC, tapi di sini sampai pasang tiga AC,” katanya.
Urusan sampah pun tidak perlu pusing lagi, sebab di sini juga telah dibangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) untuk mengelola sampah rumah tangga, nantinya sampah organik diolah menjadi pupuk yang dimanfaatkan oleh pertanian warga.

Mobilitas warga turut berubah sejak Dermaga Panji Baru mulai beroperasi. Lokasinya berada sekitar 800 meter dari permukiman, lebih dekat dibanding dermaga sebelumnya yang berjarak sekitar tiga kilometer. Dari dermaga tersebut, kapal penumpang dan kapal barang melayani rute menuju Laiwui, Labuha, dan Ternate. Tidak jauh dari dermaga juga dibangun kawasan komersial untuk mendukung tumbuhnya usaha-usaha lokal.
Tak hanya membangun hunian dan fasilitas pendukung, pemerintah juga memperkuat kepastian hukum atas tempat tinggal warga melalui sertifikasi atas tanah yang ditempati warga. Kepala Dinas Kawasan Permukiman dan Perumahan Rakyat Kabupaten Halmahera Selatan Ikbal Hi Mustafa mengatakan, legalitas kepemilikan tanah menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam meningkatkan layanan kepada masyarakat yang menempati permukiman baru.

“Pemda bersama Harita Nickel berkomitmen memberikan yang terbaik bagi warga Kawasi. Hak kepemilikan tanah ini menjadi bagian penting dari peningkatan layanan pemerintah,” kata Ikbal.
Resources Asia Energi News Makers