Friday , 26 July 2024
Home / ENERGI MINYAK & GAS / Menakar EOR sebagai Andalan Peningkatan Produksi Migas Nasional

Menakar EOR sebagai Andalan Peningkatan Produksi Migas Nasional

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Pemerintah RI memiliki target produksi minyak bumi nasional sebanyak 1 Juta barel per hari (bopd/barrel oil per day) pada tahun 2030. Untuk mendorong terciptanya target tersebut, diperlukan dukungan dari semua pemangku kepentingan. Tantangan tersebut disebabkan karena konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) masyarakat terus meningkat, bahkan telah mencapai 1,4 juta bopd. 

Sementara lifting migas kini rata-rata 630 ribu bopd bahkan terus turun hingga 590 ribu bopd. Sedangkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 ditargetkan mencapai 660 ribu bopd.

Gairah dalam memproduksi minyak mentah tengah menggelora karena harga minyak bumi meningkat dan kini ada di kisaran US$80-90 per barel setelah meningkat dalam beberapa tahun lalu sejak mencapai titik terendah pada tahun 2020. Harga Indonesian Crude Price (ICP) pada bulan April 2020 tercatat masih di level US$20,77 per barel.

“Momentum kenaikan harga minyak bumi ini tentunya harus dimanfaatkan untuk melakukan upaya-upaya pengurasan cadangan yang lebih lanjut, seperti lewat metode enhanced oil recovery (EOR), di samping upaya eksplorasi untuk menemukan cadangan baru,” kata Elan Biantoro, Sekjen Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) saat Luncheon Talk Aspermigas bertema ‘Masih Bisakah EOR Menjadi Andalan Peningkatan Produksi Migas Nasional’ di Jakarta, Kamis (16/11/2023).

Dipaparkan olehnya, pengalaman keberhasilan Indonesia dalam program EOR yang dilakukan di Lapangan Duri Riau (Duri Steam Flood) dan Lapangan Tanjung (Water Flood), di era 1990-an belum berlanjut dengan lapangan-lapangan lainnya di Indonesia. “Padahal dengan penerapan full scale Duri Steam Flood saat itu dapat mengangkat tingkat produksi minyak nasional secara signifikan menjadi 1,6 juta barel per hari,” cerita Elan.

BACA JUGA : Menakar EOR sebagai Andalan Peningkatan Produksi Migas Nasional

Enchanced Oil Recovery (EOR) di Indonesia sendiri mulai gencar dikembangkan kembali setelah keluarnya Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Instansi Pemerintah yang terkait seperti Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) dan SKK Migas terus mengkampanyekannya melalui workshop dan seminar. Bahkan Ditjen Migas pun melakukan Festival EOR pada akhir tahun 2022. Namun, secara umum, hingga saat ini, perkembangan penerapan EOR di sumur-sumur tua terasa sangat lamban.

“Meski Pemerintah telah mendorong untuk diterapkan dengan begitu masif dan berbagai teknologi EOR telah ditawarkan, pertumbuhan program penerapan EOR masih jauh dari harapan dan tampak terseok-seok,” ucap Elan. 

Dibeberkan olehnya, banyak kendala yang timbul, baik dari sisi teknis, legal dan keuangan. Untuk kendala teknis antara lain berupa pemilihan teknologi yang tepat untuk suatu sumur/lapangan dengan karakteristik reservoir dan geologi dari lapangan tersebut, infrastruktur yang tersedia, ketersediaan material, dan masalah Sumber Daya Manusia.

Masih ada lagi kendala Legal/Hukum dan Regulasi yang muncul dan dihadapi seperti untuk masalah perizinan, organisasi khusus yang fokus menangani EOR di dalam instansi pemerintah terkait (Ditjen Migas, SKK Migas) dan KKKS, kurangnya law enforcement pemerintah kepada KKKS, sampai urusan kepastian kontrak bagi kontraktor pemilik teknologi.

Dilanjutkan Elan, untuk kendala di bidang fiskal dan keuangan, antara lain kebijakan Cost Recovery bagi EOR, insentif bagi KKKS, berupa Profit Split dan Tax Holiday, term of payment yang win-win antara KKKS dan kontraktor pemilik teknologi, serta pembiayaan bagi pengelola wilayah kerja maupun kontraktor pemilik teknologi.

Sedangkan pada sisi Logistik dan unsur penunjang, kendala yang dihadapi adalah masalah pengadaan barang dan jasa, transportasi, dan urusan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN).

Elan menegaskan, Aspermigas sendiri berkomitmen mendukung program Pemerintah dalam peningkatan produksi minyak dan gas bumi, salah satunya dengan mendorong dan menggalakkan program-program EOR yang selama ini belum memberikan kontribusi produksi signifikan seperti di era 90-an.

Karena itu Aspermigas mengadakan Luncheon Talk bertema ‘Masih Bisakah EOR Menjadi Andalan Peningkatan Produksi Migas Nasional’ yang diharapkan dapat memunculkan pemikiran dan ide-ide strategis yang ampuh baik dari Pemerintah (Kementerian ESDM/SKKMigas), maupun dari para investor, praktisi dan akademisi/peneliti.

Luncheon Talk Aspermigas pada Kamis, 16 November 2023 mengundang Dirjen Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji sebagai pembicara kunci, serta para pakar dan praktisi EOR seperti Arif Bagus Prasetyo (Kepala Kelompok Kerja Perolehan Tahap Lanjut SKK Migas), Budi P. Kantaatmadja (PD&T/GR&T Division Petronas), dan Agus Masduki (Pertamina Hulu Rokan/PHR).

Dalam penyampaiannya sebagai pembicara kunci, Dirjen Minyak dan Gas Bumi menyampaikan Kementerian ESDM telah menerbitkan berbagai kebijakan serta peluang investasi yang menarik bagi para investor khususnya hulu migas. Kebijakan-kebijakan tersebut antara lain dibukanya dua opsi jenis kontrak KKKS yaitu format gross split dan format cost recovery, pembagian profit split yang lebih menarik mulai dari 80:20 bahkan sampai ada yang 50:50 bergantung resiko dan kompleksitas wilayah kerja. 

Telah dilakukan pula simplifikasi format KKKS gross split yang hanya terdiri dari tiga parameter, kebijakan pengelolaan hulu migas konvensional dan non konvensional dalam satu kontrak KKKS, kebijakan perpajakan, serta juga dorongan untuk melakukan kegiatan EOR bagi para KKKS eksisting pada masa perpanjangan kontraknya. 

Terkait kebijakan CCS/CCUS, Kementerian ESDM juga mengkolaborasikan dengan upaya EOR injeksi CO2. “Bungkusnya adalah CCS dan CCUS, (di mana) CCUS adalah EOR CO2,” ucap Dirjen Migas. Salah satu lapangan minyak yang bagus untuk penerapan EOR CO2 adalah Lapangan Sukowati di Bojonegoro, Jawa Timur.

Sementara itu Arif Bagus Prasetyo dari SKK Migas menyampaikan butuh waktu 7-14 tahun dalam upaya kegiatan EOR mulai dari kajian/studi, pilot project hingga penerapan full scale untuk peningkatan produksi dari usaha EOR. “Saat ini ada 20 lapangan migas top priority untuk kegiatan EOR dan semua upaya EOR masih dalam tahapan studi,” jelasnya seraya menyampaikan bahwa telah tersedia dana juga untuk EOR sebesar 442 juta dolar sebagai Komitmen Kerja Pasti dari para KKKS yang mendapat perpanjangan kontrak dari Pemerintah Indonesia.

Budi P. Kantaatmadja menyampaikan implementasi EOR di Petronas Malaysia seperti yang dilakukan di Lapangan Dulang dan Tapis. Di mana Petronas telah memulai kegiatan EOR sejak tahun 2000 dengan mengidentifikasi 1 miliar barel potensi EOR. Ada dua lapangan yang sudah menerapkan secara full field berupa gas injection dari total 11 kegiatan EOR dari berbagai tahapan. 

“Tantangan yang dihadapi Malaysia adalah periode kontrak PSC yang akan berakhir, persepsi mahalnya biaya EOR, sampai kepada revisi prosedur dan guidelines EOR serta R&D teknologi. PETRONAS terus meng-encourage para operator di Malaysia untuk mengembangkan peluang-peluang EOR di lapangan-lapangan migas di Malaysia,” tuturnya.

Sedangkan Agus Masduki dari PHR lebih menekankan pentingnya penentuan formula chemical untuk CEOR yang selama ini dinilai berbiaya sangat mahal. Namun jika kita sudah mendapatkan jenis chemical yang tepat, baru bisa dilakukan fabrikasi bahan kimia di dekat lapangan operasi EOR. “Dalam hal ini penerapan ekosistem yang tepat terkait bahan kimia EOR bisa membuat biaya EOR menjadi lebih efisian, seperti yang dilakukan di Cina,” ujarnya.

Guru Besar ITB Prof. Doddy Abdassah yang juga hadir dalam luncheon talk ini, menyampaikan bahwa kontribusi hasil EOR di dunia adalah 5 juta BOPD dari produksi minyak dunia yang sekitar 100 juta BOPD. “Artinya kontribusi EOR hanya sebesar 5 persen dari total produksi minyak dunia. Bahwa sukses keberhasilan lapangan Duri melalui penerapan steam flood adalah karena memang Lapangan Duri dikatagorikan sebagai Giant Field,” terangnya.

Menurut Prof Doddy, bagi Indonesia saat ini yang justru bisa memberikan tambahan produksi adalah dengan mengaktifkan kembali idle wells yang jumlahnya ribuan. “Dengan teknologi yang lebih baik dan pengelolaan oleh perusahaan migas domestik di bawah naungan Aspermigas, sumur-sumur yang selama ini sudah ditutup bisa diaktifkan kembali,” ucapnya.

Elan Biantoro menambahkan bahwa melalui berbagai kebijakan/regulasi Pemerintah dan masukan-masukan strategis dalam event Luncheon Talk yang digelar Aspermigas dapat memberikan semangat implementasi kegiatan EOR dan juga reaktivasi idle wells dapat terus meningkat untuk mengejar target produksi 1 juta barel per hari di tahun 2030. “ASPERMIGAS bersama para anggotanya akan terus mendukung program Pemerintah dalam kegiatan dan investasi minyak dan gas bumi,” pungkasnya.(Rama)

Foto : Dok Aspermigas

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (migas), mineral dan batubara (minerba), kelistrikan, energi terbarukan (ebt), industri penunjang, lingkungan, CSR, perdagangan dan lainnya.

Check Also

Kolaborasi Pertamina – Toyota, Uji Coba Bioethanol 100% di GIIAS 2024

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Pertamina terus mempertajam kompetensi dan memperluas kolaborasi untuk mendorong pengembangan dan pemanfaatan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *