BOJONEGORO, RESOURCESASIA.ID – Keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari infrastruktur yang berdiri megah atau energi yang mampu menerangi negeri. Lebih dari itu, pembangunan sejati lahir dari kualitas manusia yang tumbuh sehat sejak dini. Atas semangat tersebut, PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Lapangan Jambaran-Tiung Biru (JTB) melalui Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) yang di dukungan SKK Migas, terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui Program “Ayo Cegah Stunting” di sekitar wilayah operasi Lapangan JTB.
Program yang telah berjalan secara berkelanjutan sejak 2022 ini merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus mendukung target pemerintah menurunkan prevalensi stunting. Dilanjutkan dengan program Pagi Sehat Senja Bahagia, sebuah konsep inisiasi PEPC JTB bersama SKK Migas sebagai regulator industri hulu migas, sebagai upaya untuk berkontribusi dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat sekitar wilayah operasi.
Pada tahun 2025, program dilaksanakan di lima desa sekitar wilayah operasi JTB, yakni Desa Bandungrejo, Desa Mediyunan, Desa Kaliombo, Desa Pelem, dan Desa Dolokgede dengan menjangkau 375 penerima manfaat yang terdiri atas 62 remaja, 90 pasangan usia subur, 68 ibu hamil, 40 balita dan 90 kader posyandu.

Program ini dirancang menggunakan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari edukasi pencegahan stunting, pendampingan ibu hamil, pemantauan tumbuh kembang balita, pemberian makanan tambahan (PMT), penguatan kapasitas kader posyandu hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha produktif berbasis posyandu.
Pendekatan ini diyakini mampu memutus rantai stunting sejak masa remaja hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Tidak hanya berhenti disitu, PEPC JTB memastikan setiap sasaran memperoleh pendampingan secara intensif. Edukasi mengenai pentingnya protein hewani, ASI eksklusif, MPASI bergizi, sanitasi, serta pola hidup sehat diberikan kepada pasangan usia subur, ibu hamil, hingga orang tua balita.
Evaluasi kegiatan menunjukkan terjadinya peningkatan pemahaman peserta program mengenai stunting, pentingnya pemeriksaan kehamilan rutin, konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), serta penerapan pola makan bergizi seimbang di tingkat keluarga. Sementara itu, pendampingan terhadap ibu hamil dilakukan secara berkala melalui pemeriksaan berat badan, tekanan darah, kadar hemoglobin, dan Lingkar Lengan Atas (LILA).
Hasil evaluasi menunjukkan sebagian besar ibu hamil di lima desa memiliki status gizi yang baik dengan nilai LILA di atas 23,5 sentimeter, sehingga tidak masuk kategori Kekurangan Energi Kronis (KEK). Bagi ibu hamil yang masih berisiko, tim pendamping bersama tenaga kesehatan memberikan intervensi lanjutan melalui pemenuhan gizi dan pemantauan kesehatan secara intensif.
Pendampingan yang dilakukan selama 4 bulan juga memberikan perkembangan positif pada balita sasaran. Di Desa Bandungrejo misalnya, delapan balita stunting memperoleh pendampingan melalui kunjungan rumah, pemantauan antropometri, serta pemberian makanan tambahan secara berkala.
Salah satu balita, Fadlan Al Ghifari, mengalami peningkatan berat badan dari 11 kilogram menjadi 11,2 kilogram, sementara tinggi badannya bertambah dari 84,6 sentimeter menjadi 84,8 sentimeter. Balita lainnya, Alkaf Aqsa Arezzy, juga menunjukkan perkembangan positif dengan kenaikan berat badan dari 8 kilogram menjadi 8,1 kilogram, tinggi badan dari 77 sentimeter menjadi 77,2 sentimeter, serta peningkatan lingkar kepala dari 46,5 sentimeter menjadi 46,7 sentimeter selama masa pendampingan.

Tren peningkatan serupa juga terlihat pada balita lainnya yang memperoleh intervensi secara konsisten. Untuk memperluas dampak edukasi, PEPC JTB juga memasang media kampanye pencegahan stunting berupa baliho di seluruh desa sasaran. Langkah ini menjadi sarana penyebarluasan informasi mengenai pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan, pemenuhan gizi seimbang, sanitasi, serta peran keluarga dalam mencegah stunting sehingga pesan kesehatan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.
Keberhasilan program ini merupakan hasil kolaborasi antara PEPC JTB dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Dinas Kesehatan, Puskesmas, Pemerintah Desa, Kader Posyandu, Tenaga Kesehatan, serta Masyarakat. Sinergi tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun posyandu yang semakin tangguh, mandiri, dan mampu menjadi garda terdepan pencegahan stunting di tingkat desa.
Menurut Manager Communication Relations & CID, Rahmat Drajat, perusahaan berupaya menjaga keberlanjutan operasi Lapangan Gas Jambaran-Tiung Biru tidak hanya dalam memastikan pasokan energi nasional tetap terjaga, namun lebih dari itu, perusahaan ingin memastikan bahwa manfaat keberadaan operasi hulu migas ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat melalui peningkatan kualitas hidup.
“Melalui program ini, PEPC JTB ingin menegaskan komitmen kami untuk menghadirkan energi yang tidak hanya menggerakkan industri, tetapi juga menumbuhkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan siap menjadi modal pembangunan Indonesia di masa depan bagi Indonesia,” ungkapnya. Keberhasilan proyek strategis nasional Jambaran-Tiung Biru yang telah masuk fase operasi penuh ini tidak hanya ditakar dari kontribusinya terhadap ketahanan energi nasional.

Keberhasilan juga tercermin dari tumbuhnya generasi yang lebih sehat, cerdas, dan memiliki masa depan yang lebih baik. PEPC JTB percaya bahwa investasi terbaik bukan hanya pada infrastruktur energi, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia, anak-anak republik yang akan menjadi penerus pembangunan Indonesia. Selamat Hari Anak. (Rama Julian Saputra)
Foto: Dok PEPC JTB
Resources Asia Energi News Makers