Tuesday , 16 July 2024
Home / ENERGI MINYAK & GAS / Lifting Migas Selalu Meleset, Kenaikan Harga BBM Digencet

Lifting Migas Selalu Meleset, Kenaikan Harga BBM Digencet

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Pilihan sulit tengah dihadapi oleh Pemerintah cq. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) atas kekurangan produksi minyak mentah (crude oil) dan ketersediaan produk olahan kilang Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional untuk memenuhi permintaan konsumsi yang semakin meningkat. Setidaknya, tiga (3) tahun terakhir lifting Minyak dan Gas Bumi (migas) nasional tak pernah mencapai angka 700.000 barel per hari (bph). Pada tahun 2022, Satuan Khusus Kerja Migas (SKK Migas) mencatat realisasi minyak mentah siap jual (lifting minyak) hanya mencapai 612.300 bph (bopd). Angka ini lebih rendah dari capaian lifting minyak pada tahun 2021 yang mencapai 660.300 bph dengan sasaran awal 703.000 bph dan ternyata meleset! Tepat kiranya pertanggungjawaban rendahnya kinerja lifting migas nasional dialamatkan kepada SKK Migas!

Begitu juga halnya dengan tahun 2023, data KESDM mengungkapkan bahwa capaian produksi minyak siap jual atau lifting minyak di dalam negeri hanya mencapai 605.000 bph, dan capaian ini juga tak memenuhi sasaran yang ditetapkan sebesar 660.000 bph alias meleset lagi! Tak hanya komoditas minyak, lifting gas juga mengalami penurunan yang mengindikasikan terjadi kelandaian cukup drastis. Terbukti dari realisasi lifting gas tahun 2023 yang hanya mencapai 964 ribu bph, lebih rendah dari asumsi 1,1 juta. Sementara itu, kebutuhan minyak mentah Indonesia saja mencapai sekitar 1,4 juta bph. Tak ayal lagi, pemerintah Indonesia harus melakukan importasi migas untuk menutup selisih produksi atas konsumsi migas dan BBM sejak tahun 2004 secara massif disatu sisi.

Disisi yang lain, laju peningkatan kendaraan bermotor yang aktif di Indonesia menurut Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia (Korlantas Polri) sampai periode 9 Februari 2023 tidak dapat dikendalikan oleh otoritas terkait dan telah mencapai 153.400.392 unit (data September tahun 2021:143.340.128 unit). Peningkatan sejumlah 10.060.264 unit (naik 6,5%) kendaraan bermotor yang mencakup 147.153.603 unit kendaraan pribadi, yaitu sepeda motor sebesar 87 persen dan mobil pribadi sejumlah 19.177.264 unit (12,4%). Peningkatan jumlah kendaraan bermotor ini tentu menjadi pemicu utama terjadinya kenaikan konsumsi BBM dan berdampak pada kenaikan volume dan nilai impor.

Data meningkatnya impor BBM sebesar 12,6% pada periode 2019-2022 dapat dicermati dalam ‘Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia 2022’, yang diterbitkan oleh KESDM. Terdapat kenaikan konsumsi sejumlah 3,13 juta kl (24,74 juta kl-27,86 juta kl) yang berasal dari impor BBM dengan tambahan pengeluaran devisa negara sejumlah Rp324 triliun lebih. Bahkan, hingga Mei tahun 2024 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai impor migas dan BBM Indonesia telah mencapai US$14.636,9 juta atau setara Rp232,1 triliun untuk pembelian 20,9 juta kl. Artinya, terdapat hubungan yang berbanding lurus (linear) antara kenaikan jumlah kendaraan bermotor, khususnya kendaraan pribadi dan sepeda motor yang signifikan mempengaruhi jumlah dan pola konsumsi BBM secara rata-rata nasional.

Peningkatan jumlah kendaraan bermotor pribadi sebesar 6,5 persen tersebut telah mengakibatkan kenaikan konsumsi BBM dua (2) kali lipatnya. Tidak hanya itu, jumlah Rupiah yang harus disediakan oleh pemerintah dan BUMN Pertamina sebagai operator juga lebih besar sebagai akibat tingginya nilai mata uang US dollar. Setiap peningkatan jumlah impor migas dan BBM, selain akan mengakibatkan defisit transaksi berjalan dan APBN semakin membesar (terkait alokasi subsidi), juga berdampak pada kinerja BUMN Pertamina. Berbagai upaya untuk melakukan transisi energi agar tidak bergantung total pada energi fosil sampai sejauh ini masih belum terlaksana dengan baik dan lancar disebabkan oleh sejumlah faktor yang mempengaruhi, diantaranya adalah soal kesiapan infrastruktur.

Lalu, bagaimana caranya pemerintah mengatasi agar peningkatan impor migas dan BBM (sebagai produk olahan kilang) sebagai akibat tidak pernah tercapainya sasaran kinerja lifting dan membengkaknya defisit transaksi berjalan dan APBN? Hanya ada dua (2) pilihan keputusan (opsi) yang dapat diambil oleh pemerintah dalam jangka, yaitu faktor harga dengan menaikkan harga BBM subsidi dan faktor non harga dengan menaikkan alokasi anggaran subsidi. Pilihan (opsi) kenaikan harga BBM memang kebijakan yang tak populis alias digencet dalam pengertian akan menimbulkan protes publik, khususnya para konsumen.

Namun, jika menambah alokasi anggaran subsidi BBM tentu akan berdampak pada angka defisit APBN yang semakin tinggi dan semakin memperbesar defisit transaksi berjalan sebagai akibat importasi migas dan BBM. Jika, impor migas dan BBM terus dilakukan pemerintah maka volume dan nilainya akan berpotensi menjadi 40 juta kl lebih atau mengeluarkan lebih banyak devisa negara, yaitu US$30.000 juta lebih. Bagaimana menurut Menteri ESDM Arifin Tasrif, Menteri BUMN Erick Tohir, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengambil keputusan dilematis ini?

Publik berharap Bapak-bapak dan Ibu mampu mengatasi permasalahan defisit transaksi berjalan yang menurut catatan BI pada kuartal I/2024 telah mencapai US$2,2 miliar atau setara Rp36 triliun lebih agar tidak membebani pemerintahan Presiden terpilih Prabowo Subianto yang akan datang! Dan, jangan selalu melemparkan masalah defisit transaksi berjalan dan APBN melulu akibat faktor eksternal alias alasan klasik!

Penulis: Defiyan Cori
Ekonom Konstitusi

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (migas), mineral dan batubara (minerba), kelistrikan, energi terbarukan (ebt), industri penunjang, lingkungan, CSR, perdagangan dan lainnya.

Check Also

Dukung Produksi Migas, PHE ONWJ Aktifkan Kembali Platform LES di Lepas Pantai Karawang

RESOURCESASIA.ID, KARAWANG – Untuk menjaga ketahanan energi, Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *