JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – PT Vale Indonesia Tbk (“PT Vale” atau “Perseroan”) mencatatkan kinerja operasional dan keuangan yang solid sepanjang tahun 2025 di tengah tantangan pasar nikel global yang masih tertekan serta dinamika regulasi nasional. Melalui penguatan disiplin operasional, tata kelola yang solid, dan komitmen terhadap keberlanjutan, Perseroan berhasil memperkokoh fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Sepanjang 2025, PT Vale mencatatkan produksi nikel dalam matte sebesar 72.027 ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sisi keuangan, Perseroan membukukan pendapatan sebesar US$990,2 juta, tumbuh 4% secara tahunan, serta laba bersih sebesar US$76,1 juta, meningkat 32% dibandingkan 2024. Capaian ini didukung oleh pengendalian biaya yang disiplin, optimalisasi volume penjualan, serta diversifikasi sumber pendapatan melalui penjualan bijih nikel saprolit dari Blok Bahodopi dan Pomalaa. EBITDA Perseroan pada 2025 tercatat sebesar US$228,2 juta”, tulis perseroan dalam keterangan tertulis, Kamis (30/4/2026).
Dalam mendukung strategi pertumbuhan, PT Vale terus mencatat kemajuan signifikan pada proyek-proyek strategis Indonesia Growth Project (IGP). Tambang Bahodopi mulai memasuki fase operasional pada 2025, membuka sumber pendapatan baru dan meningkatkan fleksibilitas komersial.
Sementara itu, IGP Pomalaa dan IGP Sorowako Limonite (Sorlim) masing-masing mencatatkan progres konstruksi sekitar 50% dan 37%, serta IGP Morowali mendekati penyelesaian fase awal konstruksi. Seluruh proyek IGP dirancang untuk mendukung hilirisasi nikel melalui teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) sebagai bagian dari rantai pasok nikel untuk transisi energi dan kendaraan listrik.
Di bidang lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), PT Vale terus memperkuat posisinya sebagai pelaku pertambangan berkelanjutan. Perseroan menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca Lingkup 1 dan 2 sebesar 33% pada 2030 dengan baseline 2017.
Selama 2025, PT Vale berhasil melakukan reklamasi lahan seluas 158,09 hektare, menanam kembali 72.296 pohon, serta melanjutkan program konservasi keanekaragaman hayati. Upaya tersebut tercermin dari peningkatan Sustainalytics ESG Risk Rating ke skor 23,7, menjadikan PT Vale sebagai perusahaan pertambangan dengan risiko ESG terendah di Indonesia.
Pada aspek tata kelola, Perseroan meraih skor 99,53 dalam ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) 2025, mencerminkan konsistensi penerapan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan manajemen risiko. Penanganan insiden kebocoran pipa minyak di Towuti, Sulawesi Selatan, pada 2025 juga menjadi pembelajaran penting dalam memperkuat sistem respons darurat, keterbukaan informasi, serta kolaborasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan.
Memasuki 2026, PT Vale berada pada posisi yang lebih siap dengan fondasi operasional yang semakin kuat, portofolio proyek pertumbuhan yang berkembang, serta strategi diversifikasi yang terarah untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan. (Rama Julian Saputra)
Foto: Dok Vale
Resources Asia Energi News Makers