JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Sebanyak 560 juta anak di dunia berusia 0 hingga 9 tahun kini mengalami setidaknya satu bulan tambahan (30 hari atau lebih) tekanan panas ekstrem (heat stress) setiap tahun akibat krisis iklim yang disebabkan aktivitas manusia. Paparan heat stress tersebut tidak dialami secara merata oleh semua kelompok usia. Anak-anak yang memiliki kontribusi sangat kecil terhadap emisi gas rumah kaca historis, justru menanggung beban terberat.
Analisis Vrije Universiteit Brussel (VUB) “Age-specific exposure to human-induced increases in humid heat” mengungkapkan ketimpangan antargenerasi yang sangat mencolok. Meski mengalami ancaman kesehatan yang sama, paparan panas ekstrem pada anak-anak saat ini hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan orang dewasa berusia 60-69 tahun yang mencapai 190 juta orang atau 30% dari populasi. Hal ini karena anak-anak umumnya menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan.
“Perubahan iklim telah menyebabkan ratusan juta anak menderita akibat panas berbahaya di seluruh dunia, yang menimbulkan risiko serius bagi kesehatan mereka. Anak-anak di negara berkembang menghadapi paparan ekstrem iklim yang tidak proporsional saat ini maupun masa depan, meskipun kontribusi mereka terhadap emisi gas rumah kaca paling sedikit dalam sejarah. Pada saat yang sama, kemiskinan, perumahan yang tidak memadai, akses terbatas terhadap pendinginan, dan sistem perawatan kesehatan yang kewalahan membuat banyak anak hanya memiliki sedikit cara untuk melindungi diri dari panas,” kata Rosa Pietroiusti, penulis utama studi dan peneliti PhD di VUB.
VUB menemukan bahwa peningkatan terbesar dalam tekanan panas lembap (humid heat) akibat perubahan iklim terjadi di wilayah tropis dan negara-negara berkembang atau miskin, di mana populasi lebih muda dan lebih banyak anak-anak yang terdampak. Sementara, di Indonesia sendiri, yang merupakan negara berkembang, termasuk dalam wilayah dengan jumlah hari tekanan panas atribusi tertinggi di dunia, mencapai 90 hingga 150 hari per tahun
Di bawah skenario proyeksi perubahan iklim pada pemanasan global 1,5°C dan 2°C –yang sangat mungkin terlampaui jika negara-negara melanjutkan kebijakan saat ini, jumlah anak yang terdampak oleh tambahan satu bulan panas berbahaya diperkirakan akan meningkat masing-masing menjadi 620 juta (49%) dan 650 juta (59%) anak usia 0–9 tahun. Pada suhu 1,5°C, 4% anak usia 0-9 tahun (51 juta anak) diproyeksikan mengalami 150 hari atau lebih tekanan panas atribusi per tahun, meningkat dari 3% (40 juta anak) pada kondisi saat ini. Pada suhu 2°C, angka ini melonjak menjadi 10% (115 juta anak).
VUB menegaskan bahwa humid heat lebih berbahaya daripada panas kering karena menghambat kemampuan tubuh untuk berkeringat dan mendinginkan diri, yang menyebabkan tingkat tekanan panas yang berbahaya. Anak-anak sangat rentan terhadap panas ekstrem karena tubuh mereka memanas lebih cepat daripada orang dewasa, mereka berkeringat kurang efisien, dan mereka bergantung pada perawatan orang dewasa. Kepanasan dapat menyebabkan risiko kesehatan yang parah, termasuk dehidrasi dan sengatan panas yang berbahaya, serta berdampak pada pembelajaran dan perkembangan kognitif.
Menurut Dzatmiati Sari, Outreach and Advocacy Coordinator CERAH, pembuat kebijakan harus segera merealisasikan janjinya sesuai dengan Perjanjian Paris yakni dengan memangkas emisi bahan bakar fosil dan menahan kenaikan suhu untuk mencegah dampak terburuk krisis iklim bagi generasi mendatang. Dengan bertambahnya 90-150 hari panas per tahun di Indonesia, anak-anak bangsa Indonesia akan terkena dampak terbesar.
“Krisis iklim adalah krisis hak anak, sebab mengancam kelangsungan hidup dan hak-hak mereka sesuai Konvensi PBB tentang Hak-Hak Anak. Karenanya, mitigasi krisis iklim harus dibarengi keberanian melepaskan ketergantungan pada energi fosil. Jika tidak, yang sedang dipertaruhkan adalah keberlangsungan hidup, kesehatan, dan masa depan anak-anak. Pengelola negara harus segera mengambil tindakan nyata agar anak-anak hari ini dapat hidup dan mewarisi Bumi yang layak huni di masa depan,” Dzatmiati menegaskan.
Dzatmiati melanjutkan, untuk membatasi pemanasan hingga 1,5°C, strategi adaptasi perlu disesuaikan dengan konteks lokal sangat mendesak untuk mengurangi risiko kesehatan jangka pendek, termasuk bagi anak-anak. (RA)
Resources Asia Energi News Makers