RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – PT Djakarta Lloyd (Persero) sepakat untuk bekerja sama dengan PT Blue Energy dalam pengangkutan dan logistik alternatif natural gas dalam skala kecil dan mikro untuk wilayah distribusi kepulauan Indonesia.
Penandatangan kerja sama itu dilakukan oleh Direktur Utama PT Djakarta Lloyd (Persero) Achmad Agung Purwosaputra dan Direktur Utama PT Blue Energy Wira Rahardja di Jakarta, Kamis (17/7/2025).
Agung menuturkan, Indonesia sebagai negara kepulauan sangat bergantung pada transportasi laut untuk distribusi barang antar wilayah.
“Saat ini armada laut nasional mencakup ratusan ribu kapal, dengan perkiraan jumlah puluhan ribu tanker, puluhan ribu kapal kargo, dan puluhan ribu kapal kontainer yang beroperasi di seluruh perairan Indonesia,” katanya dalam siaran persnya, Kamis (17/7/2025).
Kapal-kapal tersebut, termasuk tanker yang mengangkut berbagai komoditas dan kapal kargo/kontainer untuk distribusi logistik, memiliki kebutuhan bahan bakar (umumnya MFO/HSD) yang signifikan, berkisar antara 100 hingga 500 ton per hari untuk jenis kapal besar.
Selain itu, industri pelayaran global dihadapkan pada Regulasi IMO 2020, yang membatasi kadar sulfur dalam bahan bakar kapal hingga maksimum 0,50 persen.
Regulasi ini, yang telah berlaku secara global sejak 1 Januari 2020 di bawah perjanjian MARPOL IMO, bertujuan untuk mengurangi emisi sulfur oksida (SOx) di udara, memberikan manfaat signifikan bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
Mengingat komitmen Indonesia terhadap target net zero emission pada tahun 2060, penggantian bahan bakar fosil di atas dengan tingkat emisi CO2 tinggi menjadi esensial.
Dalam konteks ini, Liquefied Natural Gas (LNG) muncul sebagai alternatif bahan bakar yang jauh lebih bersih.
Sehubungan dengan pertimbangan strategis serta mempromosikan alternatif energi yang lebih bersih yaitu LNG untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, Blue Energy bersama PT Djakarta Lloyd (Persero) bekerja sama mengembangkan fasilitas LNG bunker.
Ini untuk mendukung transisi penggunaan bahan bakar bersih ini oleh tanker dan kapal-kapal lain yang beroperasi di perairan Indonesia, menggantikan MFO/HSD konvensional.
“Dengan adanya kerja sama ini PT Djakarta Lloyd (Persero) bertekad akan terus melangkah melanjutkan menapaki agenda-agenda restrukturisasinya dan terus fokus mengembangkan usaha-usahanya serta dapat memenuhi kewajiban terhadap kreditur sesuai kesepakatan homologasi persidangan PKPU yang telah berlangsung kurang lebih 2 tahun,” terang Agung.
Meskipun belum adanya arahan-arahan lebih lanjut atas kelanjutan proses agenda restrukturisasi dan juga keberlanjutan (going concern) dari kuasa pemilik PT Djakarta Lloyd (Persero) yang dalam hal ini adalah Kementerian BUMN, pihaknya akan terus melakukan upaya-upaya penciptaan nilai (value creation), pengembangan usaha dan menjamin tingkat kepuasan pelayanan masyarakat.
“Kerja sama ini adalah bentuk nyata kepercayaan dari masyarakat dunia industri atas kompetensi, keahlian dan pengalaman PT Djakarta Lloyd (Persero) yang panjang sebagai salah satu perusahaan negara yang bergerak dalam usaha transportasi laut dan logistik barang dan komoditas energi di Indonesia,” sambung Agung.
Dia menekankan, pengalaman yang panjang dan teruji dari PT Djakarta Lloyd (Persero) sebagai salah satu operator utama Program Tol Laut Pemerintah khususnya untuk melayani pulau-pulau kecil dan terpencil di wilayah timur Indonesia akan sangat berarti dalam perencanaan dan pelaksanaan kerja sama ini nantinya. (RA)
Foto: ist
Resources Asia Energi News Makers