Wednesday , 21 October 2020
Home / ENERGI MINYAK & GAS / Kemampuan Indonesia Akibat Harga Minyak Dan Efek Corona

Kemampuan Indonesia Akibat Harga Minyak Dan Efek Corona

RESOURCESASIA.ID, Pada tahun 2020 ini tiba-tiba terjadi perseteruan antara OPEC dan Rusia, sehingga Saudi Arabia membatalkan kesepakatan sehingga menaikan Produksi 1-2 Barrel per hari, juga Rusia melakukan kenaikan produksi pula sebelumnya, sehingga harga jatuh dari USD 50 menjadi sekitar USD 30 per Barrel, hal ini akan sangat memberatkann Perusahaan minyak saat ini, karena berbeda dengan pada masa tahun 1940-1970 yang masih rendah biasa operasinya dengan harga 30 USD per Barrel perusahaan minyak bisa berfoya-foya, kini dengan harga jual serendah itu, akan banyak Lapangan yang tutup (tidak Ekonomis) dan beberapa lapangan masuk Margin Field (sangat sedikit keuntungannya), hanya beberapa lapangan saja yang akan masih tetap berproduksi. Sehingga untuk jangka pendeknya (Short Term) akan menyebabkan banyak pengetatan anggaran di perusahaan minyak untuk operasional termasuk melepas sebagian karyawannya, serta banyak perusahaan penunjang yang gulung tikar karena kekurangan order pekerjaan, yang tentunya memberi efek domina pada penurunan kegiatan ekonomi dan pendapatan pajak negara. Jangka Menengahnya (Middle Term) akan menyebabkan menurunkan produksi sehingga lambat laun harga akan kembali (Rebound) pada angka kesetimbangannya di USD 50-70 per Barrel. Tetapi kegiatan Eksplorasi akan terhenti karena tidak langsung berhubungan dengan peningkatan produksi, dan semua perangkat dan kontraktor di bidang eksplorasi akan menerima bebannya. Sedangkan pada jangka Panjang (Long Term) akan menyebabkan berkurangnya Cadangan minyak dunia karena ada masa-masa berhentinya melakukan kegiatan Eksplorasi, dan untuk memulainya akan memerlukan waktu yang lama karena perusahaan harus mengumpulkan dulu uang dingin (Cash) yang siap untuk bermain Gambling di zona Eksplorasi. Di sisi lain akan mengakibatkan Riset serta Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang sedang gegap gempita dinaikan akan terhambat dengan harga minyak yang rendah ini, karena pasar akan kembali melirik minyak daripada EBT yang harganya belum bisa lebih rendah dari minyak untuk setiap satuan energi yang dihasilkan.

Dengan munculnya kasus Virus Corona maka akan mengurangi kegiatan ekonomi dunia, mulai dari transportasi yang turun drastis, kebutuhan energi untuk mensuport fasilitas umum yang banyak berhenti, dan untuk industri yang mengurangi kegiatannya, sehingga permintaan akan minyak dan gas akan turun drastis.

Akibat dari efek Corona ini, maka jelas akan menurunkan permintaan minyak dunia, sehingga bersamaan dengan turunnya harga minyak karena Arab Saudi menambah produksi karena tidak sepakat dengan Rusia, maka harga minyak dunia yang kini hanya USD 30 per Barrel untuk kembali pada kesetimbangan di USD 50-70 per Barrel sangatlah sulit terjadi dalam waktu yang dekat. Sehingga dengan hadirnya kasus Corono memperpanjang masa kembalinya harga minyak dunia ke kesetimbangan baru.

Dengan melihat kecenderungan Investasi pada Industri migas yang sering disebut Cost Recovery yang terus turun dari USD 21 Milyar tahun 2013, menjadi hanya USD 12 Milyar tahun 2018, maka sangat sulit diharapkan kemampuan mempertahankan laju produksi apalagi untuk menaikannya ke angka berapapun, tidak perlu sampai 1 juta Barrel per hari yang saat ini sering dijadikan cita-cita.

Kini Produksi hanya sekitar 775 ribu Barrel per hari setelah ditambah produksi dari Lapangan Cepu sekitar 200 ribu Barrel per hari, sehingga sejatinya hanya sekitar 525 Barrel per hari bila dibandingkan dengan produksi pada tahun 2013 sekitar 800 ribu Barrel per hari (tanpa Cepu). Sedangkan penurun produksi akibat peralatan dan sumur yang memerlukan perawatan, penambahan sumur sisipan dalam rangka mempertahankan tingkat produksi dari cadangan yang ada, tidak dapat dihindarkan.

Muncul dilema baru dengan harga minyak yang rendah dan hadirnya Corona, maka perusahaan-perusahaan migas akan melakukan tindakan penghematan, merevisi rencananya (WP&B), bahkan POD untuk lapangan yang sedang dikembangakan, termasuk merenegosiasi pekerjaaan yang sedang berjalan dengan perusahaan penunjang, menjadi penyebab tambah sulitnya mempertahankan produksi.

Secara nasional untuk mencapai 1 juta Barrel per hari makin jauh, karena Kontraktor yang masih dalam masa Eksplorasi akan mandeg dan hilang daya tariknya untuk bergerak, karena bila ditemukan cadangan minyak sekalipin, maka akan sulit membuat POD (PerencaanPengembanga Lapangan) dengan harga yang rendah seperti ini.

Maka pemerintah harus memiliki cara baru dengan daya Tarik yang baru, agar selain mampu mempertahankan tingkat produksi, tapi malah mampu meningkatkan sampai 1 juta Barrel per hari dengan ditemukan cadangan-cadangan baru yang besar yang bisa menutupi penurunan produksi dari lapangan yang ada. . . . semoga. (SA)

(Oleh: Rudi Rubiandini, Mantan Wakil Menteri ESDM)

Check Also

MILIKI KINERJA TANGGUNG JAWAB SOSIAL YANG BAIK, PERTAMINA RAIH PENGHARGAAN INDONESIA CSR-PKBL AWARD 2020

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – Pertamina berhasil meraih penghargaan Best PKBL kategori Mining and Quarrying with Outstanding …

Leave a Reply