Monday , 31 August 2026
Home / ENERGI MINYAK & GAS / Kejar Target 30 Ribu BOPD, Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Sumsel Buktikan Lapangan Tua Masih Bergairah

Kejar Target 30 Ribu BOPD, Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Sumsel Buktikan Lapangan Tua Masih Bergairah

PALEMBANG, RESOURCESASIA.ID – Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 kembali mencatatkan hasil menggembirakan dari aktivitas pengeboran di wilayah Sumatera Selatan. Di tengah usia lapangan yang sudah mature, sejumlah sumur baru justru menunjukkan aliran produksi tinggi.

Pjs General Manager PHR Zona 4, Luthfi Ferdiansyah mengatakan, target produksi minyak tahun ini sebesar 30.000 bopd, realisasi produksi hingga agustus 28.000 bopd. Target produksi gas tahun ini 484 mmscfd dengan realisasi hingga Agustus mencapai 540 mmscfd. 

Capaian ini menunjukan pertumbuhan signifikan dibandingkan dengan Tahun 2022 sebesar 21.000 bopd dan gas 450 mmscfd.

“Tahun ini target pemboran sumur pengembangan 100 dengan prognosa hingga akhir tahun akan tercapai 86 sumur, tahun lalu bor 76 sumur. 14 sumur yang belum teralisasi tahun ini akibat pembebasan lahan. Tahun depan target ngebor juga 100 sumur pengembangan, termasuk 14 sumur carry-over dari tahun 2026. Tahun ini ada 16 rig pemboran sumur-sumur di seluruh zona 4”, terang Luthfi di Palembang, Rabu (26/082026).

Pjs General Manager PHR Zona 4, Luthfi Ferdiansyah

Tantangan Decline 30 Persen 

Tantangan utama di Zona 4, Sumatera Selatan, selain pembebasan lahan adalah tingginya natural decline yang mencapai 30%.

“Mengapa tinggi, sebab reservoir di Sumsel itu sandstone, dimana air cepat terproduksikan,” jelas Luthfi.

Untuk mengatasinya, PHR Zona 4 mengandalkan tiga struktur utama sebagai suksesor produksi, yaitu Struktur Gunung Kemala, Struktur Lembak-Kemang-Tapus (LKT), dan Struktur Benuang. Ketiga struktur ini menjadi tulang punggung produksi di Sumatera Selatan.

Di Zona 4, strategi pemboran tidak hanya mengandalkan sumur infill, tetapi juga step-out. Setiap struktur minimal dilakukan satu pemboran sumur step-out untuk membuka peluang dan potensi baru.

Temuan Gas Wilela dan Spirit Zona 4 adalah “TNI”

Dari sisi eksplorasi, Zona 4 mencatatkan temuan penting di Wilayah Wilela (WLL)-001, Prabumulih, yang merupakan discovery gas. Saat ini sudah 2 sumur dibor dan ditargetkan akan put on production (POP) pada tahun 2028.

“Potensi gasnya besar, per sumur potensinya 5 MMSCFD. Kami dari Zona 4 sedang persiapan untuk fasilitas flowline-nya, akan kita tie-in ke fasilitas existing di area Pagardewa – masuk ke pipa transmisi SSWJ untuk memenuhi kebutuhan gas domestik,” ungkap Luthfi.

Kinerja Zona 4, lanjut Luthfi, tidak lepas dari spirit yang ditanamkan GM sebelumnya, Djujuanto, yaitu “TNI” (Trust, Nyaman dan Inovatif)

Inovasi di Dua Struktur andalan:

1. Gunung Kemala: Semula produksinya hanya 200 bopd dan sudah berencana ditutup dan ditinggalkan. Namun, berkat inovasi teman-teman dengan meng-update data 3D seismik dan lainnya, muncullah potensi per sumur 1.000 BOPD. Tahun ini, ada 15 sumur yang sedang dikembangkan di struktur Gunung Kemala.

2. LKT: Posisinya dekat dengan Sele Raya Belida dan belum memiliki fasilitas produksi. Berkat koordinasi dengan SKK Migas Perwakilan Sumbagsel, PHR Zona 4 diperbolehkan menggunakan akses jalan Sele Raya Belida.

Hasilnya, satu sumur saat di-test mampu mengalirkan 3.000 BOPD. Saat ini diproduksikan 500 BOPD agar produksi bisa bertahan lama (long life).

Kontribusi 50% Produksi Nasional PEP

Sementara Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagsel, Dwi Djanuarto memberikan apresiasi atas kinerja Zona 4. Pasalnya, Zona 4 menyumbang hampir 50% dari keseluruhan produksi Pertamina EP (PEP) di seluruh Indonesia. 

“Kalau Zona 4 terganggu, maka PEP ikut terganggu, dan sebaliknya. Zona 4 selalu mencapai target WP&B maupun target APBN, meskipun di awal tahun ada kendala operasi dengan bocornya pipa TGI di awal tahun 2026 lalu yang berdampak terganggunya produksi. Namun kami berharap di akhir tahun ini target produksi bisa terkejar,” kata Dwi.

Dwi menjelaskan, secara keseluruhan Sumbagsel bisa mencapai lebih dari 90% target APBN. Capaian tersebut sempat tertahan di awal tahun akibat gangguan di pipa TGI, di mana Pertamina Hulu Jambi Merang tidak bisa mengirim gas, begitu juga PetroChina dan Medco Grissik, sehingga PHR tidak bisa menerima pasokan gas dan produksi kondensat turun drastis.

Saat ini, PetroChina justru mencapai target produksi hingga 235%, karena aktif melakukan pemboran dan seismik.

Target keseluruhan Sumbagsel sekitar 10%-15% dari target produksi nasional. Jika target nasional 610.000 BOPDBOPD, maka Sumbagsel sekitar 67.000-68.000 BOPD untuk minyak bumi dan kondensat, belum termasuk LPG.

Update Proyek Sumbagsel

Terkait proyek pengembangan di Sumbagsel, Dwi memaparkan beberapa proyek strategis:

Medco: Proyek Sambar dan Sakakemang. Medco Sakakemang saat ini sedang dalam tahap pembebasan lahan untuk penggelaran pipa. FID sudah dilakukan. Ada percepatan onstream menjadi Q3-2027 dari target awal Q1-2028. Produksi plateau 80 MMSCFD selama 8 tahun, dengan akumulasi produksi 474 BSCF. Rencana akan mengebor 2 sumur pengembangan, yaitu existing KBD-2X dan New KBD-24.

Ada perubahan desain, dulu CO2 pipeline 10 inci sepanjang 50 Km ke Gelam dan produksi water ditransport ke Kukulambar. Sekarang pipeline 16 inci langsung ke Grissik, produksi water ke sumur existing di North Sambar.

Untuk CCS injection mengalami kemunduran dari seharusnya Q1-2028 menjadi Q3-2029. Bagi Medco, prioritas pertama adalah memperoleh produksi gas terlebih dahulu, sementara CCS injection menjadi prioritas berikutnya. Berbeda dengan dulu saat dipegang Repsol, CCS injection menjadi prioritas utama karena tanpa CCS injection tidak bisa mendapatkan financing dari luar. Dulu rencana gasnya 75% diekspor, sekarang prioritas domestik dan produksi gas tinggal di tie-in ke pipa transmisi existing.

Kondisi KKKS lain: Exxon setelah perawatan justru turun 30 ribu bopd, seharusnya setelah perawatan produksi naik.

Tiara Bumi, sumur Sampurna yang produksinya pernah 500 bopd bahkan pernah 1.000 bopd, setelah workover malah bermasalah terus dan produksinya nol. Saat ini Tiara Bumi stop produksi karena investornya masih ribut dan akhirnya tidak investasi untuk pemboran.

Tropik Energi Pandan, produksi minyak di bawah 100 bopd dan gas 1 MMSCFD, alhamdulillah dapat investor baru yang akan melakukan workover dan saat ini sedang mencari rig workover.

Odira Karang Agung milik PP, masih produksi, tapi PP bukan BUMN migas. Sementara KSO Indrillo Hulu Energi yang sempat mengalami kebakaran kemarin sudah teratasi. (RA)

Foto: 

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Lewat MALIKA 2.0, PDC Ubah Limbah Jelantah Jadi Peluang Ekonomi Masyarakat

ROKAN HILIR, RIAU, RESOURCESASIA.ID – PT Patra Drilling Contractor (PDC) mengembangkan program MALIKA 2.0 (Mari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *