Tuesday , 28 April 2026
Home / CSR / Ekowisata Mangrove Bunton Bangkitkan Harapan Pesisir Selatan Cilacap
Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Lestari praktek merawat bibit mangrove didampingi Instruktur Program dengan demikian diharapkan KTH Wana Lestari memiliki pemahaman dan kemampuan dalam memelihara rumah bibit dan merawat Mangrove dan dapat meningkatkan keberhasilan program pemberdayaan kawasan ekowisata Mangrove di Desa Bunton.

Ekowisata Mangrove Bunton Bangkitkan Harapan Pesisir Selatan Cilacap

RESOURCESASIA.ID, CILACAP – Desa Bunton di pesisir selatan Cilacap perlahan berbenah. Wilayah yang dahulu rawan terjangan banjir rob kini mulai berubah wajah berkat pembangunan ekowisata dan program penanaman mangrove oleh warga setempat. Inisiatif ini tidak hanya menyelamatkan pertanian warga, tapi juga membuka jalan baru bagi perekonomian desa melalui pariwisata berbasis alam.

“Kalau dulu air laut pasang bisa masuk sampai sawah. Tapi sekarang sejak ada mangrove, air nggak sampai ke lahan, petani jadi bisa panen padi”, ujar Jaban Sukarto, salah satu penggerak lokal (local heroes) sekaligus Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Lestari dalam pengembangan Ekowisata Mangrove Bunton.

Lahan seluas (6) enam hektar di Wilayah Wisata Pinggir Kali (WPK) Pantai Bunton yang membentang hingga ke muara kini ditanami mangrove oleh sekitar 20 petani hutan aktif. Mangrove kini justru menjadi pelindung alami dari abrasi dan banjir rob. Hutan Mangrove juga membawa keberkahan ekologi baru berupa ratusan burung datang, bertengger, dan bertelur disana.

Jaban mengungkapkan, perubahan sikap warga terhadap penghijauan tidak terjadi dalam semalam. “Awalnya Pemerintah Desa juga kurang yakin, katanya penghijauan nggak penting. Tapi setelah dilihat manfaatnya dari sisi wisata dan ekonomi baru mereka percaya”, jelasnya.

Jaban Sukarto, salah satu penggerak lokal (local heroes) sekaligus Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Lestari dalam pengembangan Ekowisata Mangrove Bunton.

Kini, selain mangrove, warga juga menanam pohon ketapang laut dan cemara pantai untuk memperkuat vegetasi pesisir. Proyek ekowisata yang sedang dirintis pun mulai menunjukkan geliat. Meski fasilitas seperti dermaga belum tersedia, kawasan sudah dikunjungi pelajar dan komunitas yang belajar soal konservasi.

Kehadiran generasi muda juga menjadi warna tersendiri. Anak-anak muda yang dulu fokus berternak, kini mulai terlibat dalam kegiatan konservasi. “Rumput laut dulu dibuang, sekarang dimanfaatkan. Mereka juga mulai paham pentingnya pupuk dan pelatihan menanam mangrove”, kata Jaban.

Pengelolaan ekowisata Bunton turut berkoordinasi dengan Balai Pengelola Sumber Daya Air (BPSDA) Serayu Opak dan berbagai pihak lain untuk memperkuat ekosistem pesisir yang tangguh.

Inisiatif ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankan oleh PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). Menurut Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, program ini tidak hanya bertujuan menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat dari bencana.

“Wilayah pesisir seperti Bunton rentan terhadap dampak perubahan iklim. Penanaman mangrove menjadi bentuk adaptasi berbasis alam yang paling efektif untuk meminimalkan risiko banjir dan abrasi”, jelas Mamit.

Yang menarik, kawasan Ekowisata ini berada tepat di belakang PLTU Adipala dimana PLN EPI memasok energi primer untuk pembangkit tersebut. Selain mendukung penghijauan di pesisir, PLN EPI juga mengembangkan Ekowisata Mangrove di sekitar Wisata Pinggir Kali (WPK) Pantai Bunton, dengan memanfaatkan lahan di kawasan pantai untuk ditanami tanaman yang dapat mereduksi karbon dioksida yang dibuang ke udara dari proses pembakaran di PLTU Adipala tersebut.

“Melalui ekowisata mangrove, masyarakat tidak hanya menjaga lingkungan, tapi juga menghasilkan nilai ekonomi baru melalui program pemberdayaan UMKM masyarakat sekitar, dimana tanaman mangrove tersebut dapat dimanfaatkan sebagai produk olahan makanan ringan”, ujar Mamit.

Pendekatan ini mendorong terbentuknya ekonomi sirkular berbasis komunitas, yang menjadikan warga semakin mandiri secara ekonomi.

“Kami ingin masyarakat menjadi bagian dalam mendukung terciptanya lingkungan yang bersih, lestari, dan ekonomi tumbuh, maka kesejahteraan menjadi berkelanjutan”, tutup Mamit.

Thomas Heri Wahyono, Ketua Kelompok Tani Hutan Krida Wana Lestari sedang memberikan materi terkait konservasi mangrove kepada Kelompok Tani Hutan Wana Lestari.

Ke depan, kawasan ini diharapkan dapat menjadi model integrasi antara konservasi lingkungan, penguatan ekonomi desa, dan transformasi menuju Green Energy yang dilakukan bersama dengan masyarakat sekitar.

Pengembangan biomassa melalui konservasi lingkungan serta penguatan ekonomi UMKM, merupakan wujud implementasi prinsip Enviromental, Social and Governance (ESG) dan SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 14 yang berkaitan dengan perlindungan dan pengelolaan ekosistem lautan. (Rama Julian)

Foto: PLN EPI

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Sampah Jerami dan Kulit Pisang Disulap Jadi Energi, Mahasiswa ITPLN Bikin GreenoGel

JAKARTA , RESOURCESASIA.ID – Tumpukan jerami padi dan kulit pisang yang selama ini dianggap limbah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *