Tuesday , 1 September 2026
Home / LINGKUNGAN / Darurat Karhutla Kalimantan di Tengah Ekspansi PLTU Indonesia, Lingkaran Setan Krisis Iklim
default

Darurat Karhutla Kalimantan di Tengah Ekspansi PLTU Indonesia, Lingkaran Setan Krisis Iklim

JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di Kalimantan sepanjang Agustus 2026 telah mencapai 37 ribu titik (hotspot). Di tengah bencana asap yang memaksa ribuan warga menanggung dampak kesehatan dan kerusakan lingkungan, pemerintah justru terus mempertahankan dan memperluas sistem energi berbasis batu bara yang menjadi penyumbang terbesar krisis iklim global. Peristiwa ini seolah dua hal terpisah, padahal keduanya saling terhubung dan memperparah satu sama lain.

Menurut Raden Rafiq, Direktur Eksekutif Walhi Kalimantan Selatan, Karhutla yang kembali meluas di Kalimantan Selatan semestinya tidak hanya diartikan sebagai persoalan kebakaran musiman, melainkan alarm dari alam bahwa bumi kian hari semakin kritis. Di antara ribuan hotspot yang tersebar dan ribuan hektar lahan terbakar, masyarakat kembali dipaksa menghirup asap dan menanggung kesakitan imbas dari kerusakan lingkungan dan ekologis yang berkepanjangan.

“Ironisnya, di tengah krisis iklim berkepanjangan ini, negara justru terus mempertahankan dan kian memperluas sistem energi berbasis batu bara yang menjadi penyumbang terbesar krisis iklim dunia. PLTU batu bara terus mendapatkan dukungan pendanaan dan juga kebijakan dari pemerintah, seolah karhutla dan krisis iklim ini adalah dua hal terpisah. Padahal, karhutla dan krisis iklim ini saling terhubung dan memperparah satu sama lain,” Raden menjelaskan.

Dzatmiati Sari, Outreach and Advocacy Coordinator CERAH mengatakan, pemerintah belum mempunyai kesiapan menghadapi kebakaran hutan di tengah panas ekstrem dan fenomena El Nino, meski karhutla terus terulang. Ironisnya, di saat Presiden Prabowo Subianto menegaskan ambisinya untuk memperkuat kemandirian energi melalui program 100 GW, kebijakan yang berlaku masih memperpanjang ketergantungan pada PLTU seperti yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

“Biaya pencemaran akibat ketergantungan dari PLTU tidak masuk dalam kalkulasi kebijakan energi pemerintah. Listrik dari PLTU memang terkesan murah, tetapi sebenarnya ada biaya yang dilimpahkan dan terpaksa ditanggung oleh masyarakat melalui biaya rumah sakit, rawat inap, menjaga keluarga yang sakit, hingga risiko  kematian akibat polusi udara,” tutur Dzatmiati.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan, luas lahan terdampak karhutla di provinsi itu terus meningkat secara signifikan sepanjang 2026. Sebanyak tujuh kabupaten/kota bahkan telah menetapkan status siaga darurat karhutla, yakni Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Tapin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, dan Kabupaten Tanah Bumbu. Akibat dari asap kebakaran ini, banyak warga Kalimantan yang terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan harus berpindah tempat demi keamanan kesehatan mereka.

Menurut Wicaksono Gitawan, Program and Policy Manager CERAH, masih ada beberapa PLTU batu bara yang beroperasi di Kalimantan Selatan, seperti PLTU Asam Asam dan PLTU Tanjung Power Indonesia (TPI) Tabalong yang masih menggunakan batu bara dan berkontribusi pada polusi udara. Bercampurnya emisi yang keluar dari cerobong PLTU ini dengan asap karhutla tentu berisiko tinggi untuk kesehatan, karena konsentrasi PM2,5 bisa jadi sangat tinggi.

Yang lebih memprihatinkan, ketergantungan fiskal yang berlebihan pada sektor ekstraktif dan proyek-proyek infrastruktur berbiaya besar namun minim manfaat nyata terus menggerus ruang fiskal untuk penanganan krisis iklim. Anggaran ketahanan energi 2026 mencapai Rp402,4 triliun, namun porsi untuk pengembangan energi terbarukan hanya Rp37,5 triliun, kurang dari 10%. Sementara itu, subsidi dan kompensasi energi tercatat Rp318,9 triliun, masih didominasi untuk energi fosil.

“Sudah saatnya pemerintah mendorong transisi energi yang berkeadilan dengan mengalihkan pembiayaan pada energi terbarukan yang ramah lingkungan dan minim polusi sebagai bentuk mitigasi memperburuk kesehatan masyarakat di Kalimantan Selatan,” Wicaksono menegaskan. (Rama Julian Saputra)

Foto: Dok Walhi

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Dorong Semangat Belajar, PERTIWI PHKT Bagikan 600 Paket Perlengkapan Sekolah Bagi Siswa SD di Balikpapan

BALIKPAPAN, RESOURCESASIA.ID – PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) melalui organisasi PERTIWI menyerahkan 600 paket …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *