TANGERANG SELATAN, RESOURCESASIA.ID – Direktur Institute of Energy Security UTP, Izzatdin A Ramli sangat tertarik untuk menjalin kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia menyebutkan ada dua potensi yang akan dikolaborasikan diantaranya riset pembangunan teknologi biofuel dan teknologi pengolahan logam tanah jarang.
“Saya lihat BRIN sudah advance dalam memproduksi biofuel B50, dan UTP juga memiliki teknologi yang serupa, sehingga kita bisa kolaborasikan untuk meneliti bahan baku yang berbeda dan teknologi yang lebih adaptif dalam menghasilkan biodiesel,” ujar Izzatdin saat melakukan kunjungan dalam rangka official technical visit and strategic collaboration meeting di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie Serpong, Selasa (23/6).
Selain teknologi biofuel, Izzatdin menilai BRIN juga memiliki teknologi pengolahan monasit yang lebih unggul. Izzatdin berharap BRIN dapat menyediakan pilot testing area di Kawasan Borneo yang berdekatan dengan Sarawak Malaysia untuk pengujian teknologi bersama antara UTP dengan BRIN.
“Saat ini UTP telah menghasilkan tujuh produk leaching dalam Logam Tanah Jarang, kita mungkin akan kerja sama dalam pengolahan monasit karena BRIN memiliki penguasaan teknologi yang lebih maju,” tuturnya.
Kepala Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar (PRTB) BRIN, Jan Setiawan menyambut baik rencana kolaborasi riset yang akan terjalin antara BRIN dan UTP. Jan mengungkapkan bioetanol dan biodiesel sebagai bahan bakar nabati (biofuel) menjadi tren riset saat ini. Ia berharap UTP dapat menjadi mitra kolaborasi riset bersama BRIN, sehingga dapat mempercepat penguasaan riset terkait biofuel.
“Kami membuka peluang kolaborasi riset biofuel. Ada dua jenis nabati yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biofuel, yang berasal dari sumber utama, misalnya batang pohon yang baru dipanen, dan nabati yang berasal dari limbah seperti limbah batok kelapa,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Perekayasa Ahli Utama PRTB BRIN, Prof. Soni Solistia Wirawan memaparkan riset biofuel yang dikembangkan BRIN mendukung program Net Zero Emission yang ditargetkan pemerintah di tahun 2030 dengan menurunkan emisi sebesar 31%. “Penurunan emisi yang ditargetkan cukup besar, sehingga kita harus mencari bahan bakar baru yang ramah lingkungan,” tutur Soni.
Soni menjelaskan ada tiga jenis biofuel yang dikembangkan di BRIN, antara lain biodiesel, bioetanol, dan bio-oil (minyak nabati murni). Namun riset terkait biodiesel mengalami peningkatan yang signifikan. “Program biodiesel kita di Indonesia berjalan lancar dan termasuk tertinggi dunia, saat ini campuran biodiesel kita B40 dan per 1 Juli 2026 akan transisi ke B50,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Soni menerangkan, berdasarkan hasil penelitian, riset biodiesel mengalami perkembangan yang baik karena Indonesia memiliki bahan baku yang banyak tersedia di alam. “Dari target awal di tahun 2025 hanya sekitar B20, sekarang kita sudah sampai ke B50, karena Indonesia memiliki lebih dari 40 jenis tanaman yang bisa dijadikan minyak, yang cocok untuk biodiesel,” jelasnya.
Menurut Soni, BRIN secara teknologi memiliki kesiapan yang baik untuk mengembangkan pemanfaatan biofuel di Indonesia. “Riset kami mencakup dari hulu ke hilir, mulai dari riset di laboratorium, mencoba dengan berbagai bahan baku, kemudian kami development prosesnya dan kami buat pabriknya. Selain itu kami juga memiliki laboratorium uji engine untuk melakukan road test-nya,” tandasnya.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif (PRTBNLR) BRIN, Kurnia Setiawan Widana menyampaikan PRTBNLR membuka peluang kolaborasi dengan UTP khususnya di bidang pengolahan logam tanah jarang.
“Kolaborasi dengan Petronas memiliki potensi untuk kita tindak lanjut lebih jauh. Seperti progres-progres achievement yang sudah bisa kita tingkatkan, yang TRL-nya sudah di tingkat menengah dapat didorong agar komersialisasinya bisa lebih cepat,” ujar Kurnia.
Lebih lanjut, Kurnia menyampaikan akan dilakukan pembahasan lebih dalam terkait persiapan rencana Nota Kesepahaman (MoU) dan kolaborasi selanjutnya antara UTP dengan BRIN.
Sementara itu, Periset dari PRTBNLR BRIN, Kurnia Trinopiawan memaparkan BRIN memiliki Pilot Plant PLUTHO yang didesain untuk mengolah monasit dengan kapasitas 50 kg per batchnya. “Produk yang dihasilkan berupa mix rare earth hydroxide dengan kemurnian kurang lebih sekitar 80% dan digunakan untuk riset pemisahan oksida dari logam tanah jarang dengan target 99%,” jelasnya.
Ia menambahkan, PRTBNLR juga mengirimkan sampel ke perusahaan untuk menguji spesifikasi produk yang dihasilkan apakah sudah bisa diterima oleh pasar. “Selain pengujian spesifikasi produk, kami juga bekerjasama dengan perusahaan engineering, untuk men-scale up sampai nantinya bisa menuju skala industri,” tutur Kurnia Trinopiawan. (sumber brin.go.id)
Resources Asia Energi News Makers