Monday , 1 June 2026
Home / ENERGI TERBARUKAN / Jepang dan Korsel Susul China, Berpeluang Pimpin Transisi Energi di Asia Tenggara

Jepang dan Korsel Susul China, Berpeluang Pimpin Transisi Energi di Asia Tenggara

Kompetisi di sektor energi terbarukan semakin memanas seiring upaya China, Jepang, dan Korea Selatan memperkuat pengaruhnya di negara-negara ASEAN.

RESOURCESASIA.ID, JAKARTA – China menjadi sumber pembiayaan terbesar untuk investasi energi bersih di Asia Tenggara pada periode 2013-2023, dengan mengucurkan dana hingga US$ 2,7 miliar ke berbagai proyek di lima negara di wilayah tersebut. Sementara Jepang, Korea Selatan, dan Australia juga terus memperkuat pengaruh mereka di pasar energi bersih Asia Tenggara.

Hal tersebut terungkap dalam laporan terbaru Zero Carbon Analytics (ZCA) “The race to invest in Southeast Asia’s green economy”. Laporan ini merinci aliran investasi energi bersih dan keterlibatan kebijakan strategis China, Jepang, Korea Selatan, dan Australia dalam membentuk transisi energi Asia Tenggara. Kajian berfokus di lima negara penerima investasi–Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam–yang merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan dan memiliki komitmen untuk mempercepat transisi ke energi dan teknologi hijau.

“Meski China mendominasi di seluruh investasi dan perdagangan teknologi bersih, Korea Selatan telah mengambil alih ceruk ekspor komponen baterai dan Jepang mengambil pasar investasi tenaga Surya. Negara-negara ini memiliki peluang menjanjikan untuk memperluas investasi energi bersih mereka di seluruh Asia Tenggara, yang merupakan kawasan dengan ekonomi yang terus tumbuh dan memiliki potensi energi terbarukan melimpah,” kata Yu Sun Chin, Peneliti Zero Carbon Analytics (ZCA).

Mengacu laporan tersebut, Jepang memimpin kerangka pembiayaan yang menyasar transisi energi Asia Tenggara, seperti kesepakatan Just Energy Transition Partnership (JETP) dan Energy Transition Mechanism (ETM). Jepang menjadi pemimpin bersama pembiayaan JETP US$ 20 miliar di Indonesia dan mendukung JETP Vietnam. Pada 2021, Jepang juga berkomitmen mengucurkan US$ 25 juta melalui ETM untuk mempercepat penghentian operasi 5-7 PLTU di Indonesia, Filipina, dan Vietnam.

Jepang juga merupakan investor terbesar untuk panel surya dan panas bumi di Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, dengan investasi mencapai US$ 1,3 miliar pada 2013 dan US$ 142 juta pada 2023. Jepang juga menjadi pemasok terbesar bus dan kendaraan listrik di Filipina.

Sementara Korea Selatan merupakan eksportir terbesar komponen baterai ke Malaysia senilai US$ 143,37 juta dan Indonesia US$ 52,99 juta. Korea Selatan juga menjadi eksportir terbesar kedua baterai kendaraan listrik di Indonesia, setelah China. Terakhir, Australia berinvestasi pada proyek jaringan transmisi listrik, seperti Australia-Asia Power Link yang akan mengekspor energi surya ke Singapura melalui Indonesia.

Potensi ekonomi yang terus tumbuh dan posisi geopolitik Asia Tenggara menjadi daya tarik bagi para investor ini. Sebagai contoh, China telah mengumumkan bahwa kendaraan listrik, baterai lithium-ion, dan surya menjadi penopang pertumbuhan yang baru, yang berarti mereka melihat energi bersih sebagai mesin ekonomi utama. Melalui pertumbuhan investasi dan perdagangan di Asia Tenggara, sektor-sektor tersebut menjadi jalur kunci memperkuat kerja sama bilateral dan memperluas pengaruh di kawasan.

Dengan energi terbarukan kini menjadi sumber listrik termurah di berbagai negara, negara-negara yang menjadi tujuan investasi juga memiliki pembiayaan yang cukup kuat untuk mempercepat transisi energi. Negara-negara Asia Tenggara dapat menangkap peluang ini dengan memperluas permintaan dan pasar hijau kawasan, sehingga bisa mengamankan pasokan energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi mereka yang cukup cepat. Langkah ini juga akan mengirimkan sinyal kuat ke pemasok dan investor untuk mengucurkan dana US$ 180 miliar yang dibutuhkan untuk mencapai target energi terbarukan ASEAN.

“Energi terbarukan dengan cepat menjadi sumber listrik termurah di sebagian besar Asia Tenggara, menawarkan peluang bagi ASEAN. Perluasan energi bersih akan mengamankan sumber energi dengan harga terjangkau untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang cepat di kawasan ini. Investor yang terlibat dapat menangkap pangsa pasar sektor energi bersih di kawasan, mencapai target netral karbon, dan membangun kerja sama regional di tengah gejolak geopolitik global,” Amy Kong, Peneliti ZCA, menjelaskan.

Laporan ini diterbitkan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN Ke-46 di Malaysia. Di tengah pemberlakuan tarif produk energi bersih oleh Amerika Serikat, pertemuan tersebut diharapkan dapat menghasilkan aksi regional untuk memperkuat ketahanan industri bersih kawasan. (Rama Julian)

Foto: ist

About Resourcesasia

Resources Asia.id adalah portal berita yang menginformasikan berita-berita terkini dan fokus pada pemberitaan sektor energi seperti minyak dan gas bumi (MIGAS), mineral dan batubara (MINERBA), kelistrikan, energi baru & terbarukan (EBT), industri penunjang, lingkungan, CSR, industri hijau, kolom, opini. urban & life style, internasional dan lainnya. Redeksi juga menerima tulisan kolom, opini dari pembaca akan kami tayangkan di portal berita Resourcesasia.id dan kami juga menerima press rilis dari korporasi, silahkan kirimkan tulisan anda dan press rilis ke email redaksi kami redaksiresourcesasia@gmail.com

Check Also

Tak Lagi Konsumsi Air Keruh, Warga Dramaga Terima Bantuan Sistem Pengolahan Air ITPLN

BOGOR, RESOURCESASIA.ID – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan (FTIK) Institut …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *