JAKARTA,RESOURCESASIA.ID – Pemerintah dipandang perlu memastikan subsidi energi menjangkau setidaknya 40% keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah. Hal itu perlu diperkuat dengan penyaluran yang andal dan mekanisme koreksi data yang mudah diakses.
Pandangan itu disampaikan Senior Policy Adviser, Centre for Policy Development (CPD),Ruddy Gobel dalam diskusi yang diselenggarakan Energy Transition Policy Development Forum (ETP Forum di Jakarta, Jumat(30/10/2026).
“Reformasi subsidi berbasis DTSEN (Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional) yang menyasar 30–50% rumah tangga terbawah, atau sekitar 28–47,1 juta keluarga, berpotensi menghemat Rp76–116 triliun,” ungkap Ruddy
Ia bilang pemutakhiran DTSEN oleh BPS menjadi kemajuan penting dalam penajaman sasaran subsidi energi.
“Tantangannya adalah menerjemahkan kesiapan data menjadi kebijakan yang melindungi masyarakat yang membutuhkan” ingat dia.
Pandangan itu dia kememukakan mengingat tekanan anggaran energi meningkat seiring kenaikan harga minyak. Pada September 2026, harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) mencapai US$112,81 per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel.
Pada periode yang sama, nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS, dibandingkan asumsi Rp16.500, sementara konsumsi BBM bersubsidi naik 9,1% menjadi sekitar 13,4 juta kiloliter.
Tekanan ini menambah beban belanja subsidi dan kompensasi energi yang sudah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Secara gabungan, belanja tersebut naik sekitar 68,4%, dari Rp234 triliun pada 2021 menjadi Rp394 triliun pada 2025, dengan subsidi naik 30,5% dan kompensasi melonjak 124,5%.
Sementara itu, separuh manfaat subsidi energi dinikmati sekitar 20% rumah tangga terkaya. Kondisi ini memperkuat urgensi reformasi subsidi agar penyalurannya lebih tepat sasaran dan membuka ruang fiskal untuk perlindungan kelompok rentan.
Senada, Lead, Electric Mobility and Indonesia Energy, International Institute for Sustainable Development (IISD), Achmad Zacky Ambadar menyatakan volatilitas harga minyak menunjukkan pentingnya memperkuat mengalihkan subsidi dari komoditas ke individu agar lebih tepat sasaran.
“Perbaikan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi peluang untuk memprioritaskan rumah tangga yang paling membutuhkan sekaligus menjaga ruang fiskal untuk prioritas pembangunan lainnya.” Kata dia. (Abdul Azis)
Foto: Abdul Azis/Resourcesasia.id
Resources Asia Energi News Makers