JAKARTA, RESOURCESASIA.ID – Mahasiswa Institut Teknologi PLN (ITPLN), Muh. Raihan Huda Negara, bersama dua rekannya, Aqifah Nailah dan Nazhifa Aqilla Inaaya, berhasil meraih Juara 1 Calculus Cup XVII Universitas Negeri Jakarta (UNJ) 2026. Prestasi tingkat nasional ini diraih melalui persiapan mandiri, penguasaan konsep matematika, dan kemampuan bekerja sama di tengah kesibukan perkuliahan.
Raihan mengatakan, keikutsertaan timnya dalam kompetisi tersebut berawal dari kebiasaannya mengikuti olimpiade matematika dan mencari informasi lomba di bidang tersebut. Ia kemudian mengajak mahasiswa lain yang memiliki minat serupa untuk menguji kemampuan mereka di tingkat nasional.
“Kami tidak memasang target harus juara pertama sejak awal. Kami ingin menguji kemampuan di tingkat nasional, meski saya percaya tim kami bisa meraih hasil yang baik,” ujar Raihan saat berbincang, Kamis, 29 Oktober 2026.
Calculus Cup XVII UNJ 2026 terdiri atas dua babak penyisihan, semifinal, dan final. Sebelum kompetisi, ketiganya berlatih mengerjakan soal berdasarkan silabus serta mengulang materi yang telah dipelajari selama perkuliahan.
Momen paling menentukan terjadi pada babak semifinal. Dari seluruh peserta, hanya tiga tim yang berhak melaju ke final. Tim ITPLN menempati urutan ketiga berdasarkan akumulasi nilai dan memastikan tiket ke babak penentuan.
Kelolosan tersebut semakin memacu semangat mereka untuk memberikan hasil terbaik pada babak final hingga akhirnya keluar sebagai juara pertama.
Menurutnya, salah satu strategi menghadapi soal kalkulus yang sulit adalah mengenali pola dan konsep sebelum melakukan perhitungan. Pengalaman mengerjakan banyak soal membantu timnya menemukan pendekatan penyelesaian yang lebih efisien, terutama ketika waktu pengerjaan terbatas.
Ketiganya juga membagi materi sesuai keunggulan masing-masing anggota. Ketika menemukan jawaban yang berbeda, mereka membandingkan langkah penyelesaian, memeriksa bagian yang tidak sama, kemudian menentukan jawaban berdasarkan argumentasi matematis yang paling kuat.
Diakui Raihan, tantangan terbesar selama persiapan adalah membagi waktu antara kegiatan akademik dan latihan. Mereka lebih banyak belajar secara mandiri sehingga kesempatan berlatih bersama belum bisa dilakukan sesering yang diharapkan.
Untuk mengatasinya, mereka berusaha menyelesaikan tugas kuliah lebih awal, kemudian menggunakan waktu yang tersedia untuk mempelajari materi dan mengerjakan soal berdasarkan silabus kompetisi.
Raihan menilai, efektivitas latihan tidak hanya ditentukan oleh jumlah soal yang berhasil dikerjakan. Evaluasi terhadap kesalahan dan soal yang membutuhkan waktu lama justru menjadi bagian penting untuk mengetahui materi yang perlu diperdalam.
“Latihan akan lebih berguna kalau setelah mengerjakan soal kita memeriksa lagi bagian yang salah atau memakan waktu lama. Dari situ, kita tahu materi mana yang perlu diulang,” katanya.
Bekal matematika yang diperoleh selama kuliah di ITPLN turut membantu ketiganya dalam memahami kembali konsep kalkulus. Bagi Raihan, kesempatan mengembangkan kemampuan melalui kegiatan akademik dan kompetisi menjadi salah satu dukungan penting bagi mahasiswa untuk terus meningkatkan kapasitas diri.
Kalkulus dan Peluang di Sektor Energi
Bagi Raihan, kemenangan di Calculus Cup XVII UNJ 2026 bukan sekadar pencapaian akademik. Prestasi tersebut juga meningkatkan kepercayaan dirinya untuk mengikuti kompetisi lain sekaligus memperkuat pemahamannya tentang pentingnya kerja sama dalam tim.
Ia menilai, kemampuan individu tidak cukup untuk memenangkan kompetisi beregu. Setiap anggota perlu saling mendengarkan, menguji argumen, dan mempercayai proses berpikir satu sama lain agar dapat mengambil keputusan yang tepat.
Lebih jauh, Raihan melihat kalkulus memiliki keterkaitan erat dengan bidang ketenagalistrikan dan energi terbarukan yang dipelajari mahasiswa ITPLN.
Konsep kalkulus dapat digunakan untuk memodelkan perubahan arus, tegangan, dan beban listrik terhadap waktu. Dalam pengembangan energi terbarukan, pemodelan matematis membantu analisis sistem dan optimasi pengoperasian. Sementara itu, konsep turunan juga menjadi bagian penting dalam proses pelatihan model kecerdasan buatan.
“Pemahaman kalkulus, menjadi bekal untuk memahami prinsip matematis di balik teknologi yang akan dikembangkan dan digunakan di masa depan,” tegasnya.
Raihan juga mendorong mahasiswa ITPLN lainnya yang masih ragu mengikuti kompetisi agar berani mencoba. Pengalamannya mengikuti lomba matematika dan informatika sejak SMP dan SMA mengajarkannya bahwa kegagalan di semifinal maupun final bukan alasan untuk berhenti.
Setiap kompetisi memberinya kesempatan untuk mengenali kekurangan, mengevaluasi kemampuan, dan mempersiapkan diri lebih baik untuk kesempatan berikutnya.
“Kalau tidak ikut, kita tidak punya kesempatan untuk menang atau belajar dari pengalaman lomba. Kalau ikut, hasilnya mungkin belum sesuai harapan, tetapi kita punya kesempatan untuk berkembang,” imbuhnya.
Meski berhasil menjadi juara pertama, Raihan mengakui persiapan timnya masih dapat ditingkatkan. Jika mendapat kesempatan mengulang proses persiapan, ia ingin memulai latihan bersama lebih awal dan menyusun jadwal yang lebih teratur.
Prestasi Raihan, Aqifah, dan Nazhifa menunjukkan bahwa penguasaan materi, evaluasi latihan, serta kemampuan berkolaborasi dapat menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk bersaing di tingkat nasional. Bagi mereka, kemenangan bukan akhir perjalanan, melainkan pijakan untuk terus mengembangkan kemampuan akademik dan berkontribusi dalam kemajuan teknologi, khususnya di sektor energi. (Rama Julian Saputra)
Foto: Dok ITPLN
Resources Asia Energi News Makers