JAKARTA, RESOURCESASIA.ID — Mitigasi risiko keuangan dinilai tak lagi sekadar menjadi instrumen pengendalian, melainkan fondasi utama bagi organisasi untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah derasnya disrupsi teknologi. Risiko yang muncul dari perubahan digital, regulasi, hingga dinamika pasar menuntut setiap institusi mengambil keputusan berbasis data dan manajemen risiko yang matang.
Isu tersebut menjadi fokus utama dalam Seminar Nasional bertajuk “Analisis & Mitigasi Risiko Keuangan & SDM di Era Disrupsi Teknologi” yang digelar Program Studi S1 Bisnis Energi (Kewirausahaan), Fakultas Teknologi dan Bisnis Energi (FTBE), Institut Teknologi PLN (ITPLN), di Kampus ITPLN, Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026 kemarin.
Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya ITPLN, Heryawan, S.E., S.H., M.H., M.Ak., menegaskan, bahwa tata kelola risiko harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap organisasi modern.
“Risiko keuangan, operasional, regulasi, maupun SDM perlu dipetakan secara sistematis agar setiap keputusan yang diambil memiliki dasar yang kuat dan tidak hanya mengandalkan asumsi,” ujar Heryawan dalam keterangannya, Jum’at, 2 Juli 2026.
Senada dengannya, Dekan Fakultas Teknologi dan Bisnis Energi ITPLN, Dr. Eri Prabowo, S.T., M.M., IPU, mengatakan perkembangan teknologi memang membuka peluang baru bagi dunia usaha. Namun, di sisi lain, perubahan tersebut juga menghadirkan berbagai risiko yang harus dipahami sejak dini.
“Perubahan teknologi membawa peluang besar, tetapi juga menghadirkan risiko baru. Kemampuan membaca dan mengelola risiko menjadi bekal penting bagi mahasiswa maupun pelaku industri dalam menghadapi tantangan masa depan,” kata Eri.
Sementara itu, Wakil Rektor III ITPLN, Ir. Purnomo, S.T., M.T., menilai seminar tersebut menjadi sarana memperkuat kesiapan mahasiswa menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.
Menurutnya, disrupsi teknologi telah mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja, pola kepemimpinan, hingga cara organisasi mengambil keputusan.
Pada sesi utama, dosen sekaligus pakar manajemen risiko Dr. Deni Surya Permana, S.E., M.M., menegaskan bahwa manajemen risiko berperan sebagai perisai strategis dalam menghadapi ketidakpastian, khususnya di sektor bisnis energi yang sedang memasuki masa transisi.
“Keputusan bisnis yang tidak didukung riset berpotensi menimbulkan risiko besar. Karena itu, manajemen risiko harus menjadi bagian dari proses perencanaan, pengambilan keputusan, tata kelola, hingga evaluasi organisasi,” kata Deni.
Ia menilai organisasi perlu memetakan risiko finansial, kebijakan, regulasi, operasional, hingga aspek teknis sebelum menetapkan langkah strategis, terutama di tengah kebutuhan investasi yang terus meningkat.
Adapun pembicara berikutnya, Erry Rizal Rahman, S.E., M.M., mengangkat tantangan pengelolaan SDM pada era disrupsi teknologi.
Menurut dia, transformasi digital menghadirkan sejumlah risiko baru, mulai dari kesenjangan keterampilan, burnout digital, kebocoran data, hingga penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tanpa proses validasi yang memadai.
“Teknologi harus dipandang sebagai mitra kerja, bukan ancaman. Namun kesiapan manusianya tetap menjadi faktor utama,” imbuhnya.
Ia menambahkan, peningkatan kemampuan memanfaatkan AI, analisis data, otomatisasi, serta perangkat digital perlu diimbangi dengan penguatan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, penyelesaian masalah, dan etika penggunaan teknologi.
Seminar yang dipandu Dr. Ade Caswito, S.E., M.M. itu berlangsung interaktif dengan membahas keterkaitan risiko keuangan, bisnis energi, dan pengelolaan SDM dalam menghadapi percepatan transformasi digital.
Melalui kegiatan tersebut, FTBE ITPLN menegaskan komitmennya memperkuat literasi manajemen risiko di lingkungan akademik. Kampus berharap mahasiswa mampu memahami bahwa keberhasilan organisasi pada era digital tidak hanya ditentukan oleh pemanfaatan teknologi, tetapi juga kesiapan SDM, tata kelola yang baik, budaya adaptif, serta strategi mitigasi risiko yang komprehensif.
Seminar ditutup dengan pesan bahwa kemajuan teknologi hanya akan memberikan nilai tambah apabila didukung sumber daya manusia yang kompeten, proses bisnis yang jelas, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Dengan pemahaman mitigasi risiko yang kuat, lulusan diharapkan mampu menjadi profesional yang adaptif dalam menghadapi tantangan industri masa depan. (Rama Julian Saputra)
Foto: Dok ITPLN
Resources Asia Energi News Makers