LONDON, RESOURCESASIA.ID – Di tengah krisis energi global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, Indonesia perlu mengadopsi gerakan ‘Electrify Now’ untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi. Inisiatif yang diluncurkan dalam gelaran London Climate Week ini bertujuan untuk mempercepat elektrifikasi berbasis energi terbarukan, dan meningkatkan porsi listrik dalam konsumsi energi final global dari 21% menjadi 35% pada 2035.
‘Electrify Now’ ini diluncurkan oleh 40 organisasi dan aliansi global yang didukung pemerintah berbagai negara. Inisiatif ini mendorong pemerintah berbagai negara untuk menerjemahkan ambisi global ke dalam kebijakan dan aksi di tingkat nasional, memastikan peningkatan kebutuhan listrik didukung oleh investasi pada energi terbarukan, jaringan listrik, dan penyimpanan energi. Upaya ini juga perlu diperkuat melalui kerja sama internasional, pertukaran pengalaman, serta dukungan teknis untuk perencanaan elektrifikasi.
Maria Mendiluce, CEO We Mean Business Coalition menjelaskan elektrifikasi akan menjadi ciri utama transformasi ekonomi global dalam beberapa dekade mendatang. Menurutnya, banyak perusahaan telah mulai berinvestasi pada teknologi dan infrastruktur berbasis listrik karena dianggap mampu meningkatkan daya saing dan ketahanan bisnis.
“Era pertumbuhan ekonomi berikutnya akan dibangun berbasis energi listrik. Negara yang mampu menciptakan iklim investasi yang mendukung elektrifikasi akan menentukan arah penciptaan lapangan kerja, industri baru, dan kemakmuran di masa depan,” Mendiluce menegaskan.
Elektrifikasi dinilai sebagai salah satu solusi paling efektif untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, mengurangi biaya, sekaligus memperkuat ketahanan energi. Upaya ini dilakukan dengan memperluas penggunaan listrik pada sektor transportasi, pemanas dan pendingin ruangan, memasak, hingga proses industri yang selama ini masih bergantung pada minyak, gas, dan batu bara.
“Kita menghadapi krisis energi besar kedua hanya dalam empat tahun. Tidak pernah ada saat yang lebih mendesak untuk beralih ke elektrifikasi energi terbarukan. Krisis minyak dan gas saat ini dapat merugikan rumah tangga, bisnis, dan pemerintah hingga US$ 1 triliun,” kata Bruce Douglas, Kepala Eksekutif Global Renewables Alliance.
Douglas melanjutkan, elektrifikasi berbasis energi terbarukan harus menjadi inti dari strategi energi jangka panjang untuk mengamankan energi. Melalui kampanye Electrify Now diharapkan menjadi prioritas utama dalam pengambilan keputusan terkait pembangunan sistem energi yang lebih aman, terjangkau, dan berkelanjutan.
Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup, yang hadir dalam agenda tersebut mengatakan bahwa Indonesia perlu membangun sistem energi berbasis listrik dari energi terbarukan, yang dinilai lebih tangguh dan mandiri dalam menghadapi fluktuasi pasar bahan bakar fosil global seperti saat ini.
“Bagi Indonesia, krisis ini merupakan seruan untuk mempercepat transformasi struktural kita dengan membangun peta jalan transisi yang jelas, yang menyediakan jalur jangka Panjang yang stabil untuk sektor listrik kita hingga tahun 2060,” Jumhur menjelaskan.
Selain itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menilai elektrifikasi transportasi, bangunan dan industri merupakan salah satu cara tercepat untuk mengurangi emisi dan memutus ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
“Bagi agenda iklim, ini memang masa terbaik dan terburuk. Terburuk karena dampak iklim semakin intensif, titik kritis semakin dekat, dan krisis energi telah mengungkap risiko besar ketergantungan pada bahan bakar fosil. Tetapi juga yang terbaik karena revolusi energi terbarukan sedang berlangsung. Revolusi energi bersih, elektrifikasi, penurunan biaya, peningkatan ambisi dan peluang yang sangat besar,” Guterres mengatakan. (RA)
Foto: IST
Resources Asia Energi News Makers