JAKARTA, RESOURCESASIA.ID — Indonesia memiliki peluang strategis untuk mengembangkan produksi sulfur domestik seiring meningkatnya kebutuhan industri pengolahan nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik.
MIND ID, sebagai holding pertambangan nasional, telah mengidentifikasi potensi pemanfaatan by-product tambang tembaga dan emas sebagai sumber sulfur alternatif yang dapat menopang kebutuhan industri hilirisasi nikel dalam negeri.
Direktur Perencanaan Pengolahan Sumber Daya Mineral MIND ID, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa MIND ID bersama anggota holding sedang melakukan inventarisasi aktif terhadap potensi tersebut.
“Kita memiliki by product itu tembaga maupun emas itu ada iron oxide dan iron sulfate yang mestinya itu bisa kita proses, diolah, diekstrak untuk menjadi dan diambil sulfurnya maupun diambil dan dijadikan asam sulfat untuk memenuhi hal tersebut,” ujar Budi dalam diskusi Mineral Kritis Indonesia di Tengah Krisis Energi Dunia di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Langkah ini merupakan bagian dari strategi MIND ID untuk memperkuat perannya sebagai penggerak hilirisasi mineral nasional, tidak hanya di sisi penambangan, tetapi juga dalam membangun rantai pasok bahan pendukung yang lebih mandiri.
Kebutuhan Sulfur
Sulfur merupakan komponen kritis dalam proses High Pressure Acid Leach (HPAL), teknologi utama yang digunakan untuk mengolah bijih nikel limonit menjadi produk antara, seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) yang digunakan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik. Adapun, skala kebutuhannya tergolong besar, dengan asumsi produksi satu ton MHP membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur.
Pertumbuhan industri HPAL di Indonesia berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan sulfur nasional. Kondisi inilah yang menjadikan pengembangan sumber domestik sebagai agenda strategis, bukan sekadar pilihan efisiensi biaya.
Saat ini, lebih dari 70% kebutuhan sulfur untuk pengolahan nikel di Indonesia dipenuhi melalui impor, dengan sekitar 75%–80% di antaranya berasal dari kawasan Timur Tengah. Total impor sulfur nasional mencapai sekitar 5,3 juta ton per tahun.
“Kondisi sekarang, ternyata di Indonesia 70 persen lebih kebutuhan sulfur nikel itu didapatkan melalui impor dan surprisingly itu ada di area di mana saat ini sedang berkecamuk di Timur Tengah,” ujar Budi.
Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut telah berdampak nyata pada harga. Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, mencatat lonjakan harga yang signifikan dalam waktu singkat.
“Harga sulfur hari ini itu 1.200. Pada bulan April tahun lalu harganya hanya 250 saja,” ujar Arif dalam forum Indonesia Critical Minerals di Jakarta awal Juni 2026.
Merespons kondisi tersebut, sejumlah pelaku industri hilirisasi nikel telah mulai melakukan diversifikasi sumber impor ke Kanada, Amerika Serikat, dan Korea Selatan sebagai langkah mitigasi jangka pendek.
Di luar sulfur, MIND ID juga memetakan tantangan lain dalam rantai pasok baterai nasional. Budi menyebut Indonesia masih harus mengimpor litium untuk kebutuhan industri baterai berbasis material tersebut.
“Ini dengan catatan kalau kita punya materialnya ya. Tapi ada juga yang tidak punya, misalnya tadi baterai yang basisnya litium, litium-nya masih harus impor,” kata Budi.
Oleh karena itu, MIND ID mendorong percepatan riset dan pengembangan teknologi baterai berbasis nikel sebagai keunggulan komparatif Indonesia. “Kita mestinya karena kita punya nikel, kita dorong riset terhadap bagaimana baterai yang basisnya itu nikel harus lebih efisien dibandingkan yang litium,” ujarnya.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan upaya penguatan rantai pasok domestik seperti yang sedang dijalankan MIND ID merupakan langkah yang tepat dalam logika hilirisasi jangka panjang.
“Jika kita hanya mengandalkan ekstraksi atau pengolahan pada tahap awal, maka ketika mineral itu habis, manfaat ekonominya juga akan berhenti,” ujar Faisal.
Menurut Faisal, semakin panjang rantai nilai yang dikuasai Indonesia, semakin besar manfaat ekonomi yang dapat dipertahankan.
“Mungkin bahan bakunya sudah tidak tersedia sebanyak sebelumnya, tetapi sumber daya manusia yang telah memiliki kemampuan mengembangkan produk-produk turunannya tetap kita miliki,” katanya.
Faisal menambahkan bahwa konsistensi kebijakan menjadi faktor kunci agar investasi hilirisasi dapat berjalan dalam jangka panjang. Keberhasilan hilirisasi, menurutnya, tidak hanya diukur dari pembangunan smelter, tetapi dari kemampuan menciptakan ekosistem industri dan memperkuat rantai pasok domestik secara menyeluruh.
Dengan cadangan nikel terbesar di dunia dan basis industri HPAL yang terus tumbuh, pengembangan sumber sulfur dari by-product tambang domestik menjadi salah satu langkah konkret yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai global.
Hal ini juga penting apabila dikaitkan dengan Upaya mengurangi eksposur terhadap volatilitas harga dan risiko geopolitik dari ketergantungan impor. (Rama Julian Saputra)
Foto: ist
Resources Asia Energi News Makers